Alan Ritchson dan Owen Wilson Bikin Misi 98 Menit Ini Deg Degan Sampai Akhir
Gimana kalau satu organ donor bisa menentukan dua nyawa sekaligus?
Aku awalnya mengira Runner bakal jadi film aksi biasa. Mantan tentara, kartel narkoba, tembak tembakan, terus selesai.
Ternyata aku salah.
Cek trailernya
Aku kok ngerasa :
Film garapan Scott Waugh ini justru terasa seperti gabungan John Wick, Speed, dan Midnight Run, tapi dibungkus dengan cerita tentang pengorbanan, persahabatan, dan pilihan moral yang bikin ketegangan terasa lebih manusiawi.
Jalan ceritanya juga apik dan persahabatan sama Ben yg akhirnya xxx malah bikin bagus ceritanya (spoiler)
Cerita Sederhana yang Ternyata Pintar
Premisnya sebenarnya gampang dipahami. Hank Malone yang diperankan Alan Ritchson adalah mantan Navy SEAL yang kini bekerja sebagai kurir khusus.
Suatu hari ia mendapat tugas mengawal pengiriman organ hati donor untuk seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang sedang menunggu transplantasi.
Masalahnya, organ itu juga diincar kartel yang ingin menyelamatkan ibu sang bos mereka, yang memiliki golongan darah langka yang sama.
Sejak titik itu, film berubah menjadi perlombaan melawan waktu. Bukan cuma siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling dulu sampai.
Alan Ritchson Tampil Berbeda
Aku suka bagaimana wajah Hank sering berbicara lebih banyak daripada dialognya.
Ada rasa bersalah, kehilangan serta kelelahan.
Semuanya terasa masuk akal karena karakternya memang membawa luka dari masa lalu.
Jadi ketika ia memilih mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang lain, keputusan itu terasa earned, bukan sekadar momen heroik yang dipaksakan.
Owen Wilson Jadi Jantung Emosi Film
Nah ini yang paling aku nggak sangka.
Owen Wilson sebagai Ben Bishop bukan cuma relief comedy.
Awalnya ia memang cerewet, panikan, bahkan kadang bikin Hank terlihat makin frustrasi. Aku sempat mikir, “Kayaknya karakter ini bakal jadi beban.”
Eh ternyata justru di situlah kekuatannya. Persahabatan Hank dan Ben berkembang secara natural.
Mereka nggak langsung akrab. Mereka sering beda pendapat.
Tapi semakin lama perjalanan mereka berlangsung, hubungan itu terasa seperti dua orang asing yang akhirnya saling percaya karena keadaan.
Catatan Khusus
Di sini sedikit berbeda. Damian Zaldivar yang dimainkan Rodrigo Santoro mengejar organ itu demi ibunya sendiri. Apakah tindakannya benar? Jelas tidak. Tapi motivasinya membuat konflik terasa abu abu. Film ini terus mempertanyakan satu hal. Apakah satu nyawa lebih berharga daripada nyawa lain?
Kadang berupa mobil. Kadang berupa penembak. Kadang berupa waktu yang terus berjalan.
Penulis Rezky, Anya dan Erin




































