Dan Bandung
Saya masuk bioskop dengan satu prasangka. “Ah, ini paling Dilan 1990 versi reboot.”
Ada Bandung. Ada anak ITB. Ada motor. Ada Pidi Baiq. Semua petunjuk seolah mengarah ke sana. Tapi lima belas menit pertama langsung membatalkan asumsi itu. Dan Bandung bukan Dilan 1990.
Kalau Dilan membuat kita jatuh cinta lewat kalimat kalimat ikonik, Basil justru membuat kita percaya bahwa cowok biasa juga bisa punya cara unik untuk dicintai.
Basil yang diperankan Samo Rafael tidak hadir sebagai tokoh “cool boy” yang selalu punya jawaban puitis. Dialognya normal, kadang canggung dan ada rasa kepercayaan ia adalah mahasiswa sungguhan.
Sebagai anak Seni Rupa ITB yang hidup dari jualan kaus bersama dua sahabatnya, Doni dan Uu, yang secara sekila menunjukan budaya kreatif Bandung benar benar hidup lewat kaus sablon, tongkrongan, sampai ide liar yang akhirnya jadi bisnis kecil kecilan.
Shanna Shannon sebagai Elma juga membawa energi berbeda, sebagai mahasiswi Farmasi ITB yang introvert. Temannya cuma Susi, yang dimainkan Keisya Levronka. Elma banyak mengamati.
Basil lewat kaus bertuliskan “Dicari Bidadari Bobotoh.” sukses berhasil menarik perhatian Elma , dan seperti biasa ini adalah awal dari semuanya.
Ini mungkin bagian favorit saya. Bandung di film ini terasa hidup, bukan Bandung nostalgia era kaset dan telepon rumah. Namun sebuah kota yang lengkap dengan kerumitannya,
Pengambilan gambar kotanya memenajakan mata dan perasaan, ada kolong Jembatan Asia Afrika, Braga,Alun Alun, Jembatan Pasteur dan lain-lain
Sehabis menonton , kerasa sekali bahwa konfliknya ala film Galih Ratna. Sebagai catatan , ayah Basil, Nugraha yang dimainkan Arswendy Bening Swara, dipenjara karena kasus kejahatan ekonomi yang penuh fitnah.
Sementara ayah Elma, Wiradireja yang diperankan Donny Damara, adalah pengusaha berpengaruh ,saat alur cerita berjalan semakin terasa bahwa persoalannya bukan hanya soal kaya dan miskin.
Ada kekuasaan.
Ada intrik.
Ada rahasia keluarga.
Dan ada alasan yang baru benar benar terjawab di akhir cerita.
Di sinilah Dan Bandung terasa lebih realistis dibandingkan Dilan Universe.
“Indonesia yang Tidak Baik Baik Saja”
Ada satu keputusan kreatif yang menurut saya cukup berani.
Film ini memasukkan kekerasan yang terasa lebih nyata.
Pengeroyokan terhadap Uu misalnya.
Ini bukan lagi kenakalan remaja ala geng sekolah.
Ini sudah mengarah ke kriminalitas.
Tapi di sisi lain, film ini seperti ingin mengatakan bahwa Indonesia hari ini memang jauh lebih rumit daripada Bandung yang kita kenang di cerita cerita lama.
Samo Rafael dan Shanna Shannon berhasil membuat hubungan Basil dan Elma terasa manis tanpa dipaksa menjadi terlalu dramatis.
Sehingga Dan Bandung bukan film yang ingin menjadi Dilan berikutnya, kalau Dilan membuat kita mengingat kalimat kalimatnya, Dan Bandung membuat kita mengingat tempat tempatnya.
Karena pada akhirnya, yang paling membekas bukan hanya kisah Basil dan Elma.
Melainkan perasaan bahwa di kota seindah Bandung pun, cinta tetap harus berjuang menghadapi dunia yang tidak selalu adil.
Penulis Anggi, Anya




































