Kuasa Gelap Perjanjian Darah
Skala Produksinya Makin Besar dan Terasa Setara Film Horor Luar Negeri
Kalau selama ini film horor Indonesia identik dengan rumah tua, gang gelap, suara misterius dan penampakan yang tiba tiba muncul, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mencoba membawa pengalaman horor ke level yang lebih besar.
Sekuel dari Kuasa Gelap yang dirilis pada 2024 ini kembali mempertemukan penonton dengan Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia). Namun kali ini, persoalan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks.
Film produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026 dan hadir dalam format IMAX maupun 4DX.
Lembaga Sensor Film mencatat film ini memiliki durasi 117 menit dengan sutradara Rizal Mantovani dan sinematografi Yadi Sugandi.
Telah disebarkan pula penggunaan format IMAX bukan sekadar gimmick untuk membuat film terlihat lebih besar.
Tercatat sejak awal produksinya, Paragon Pictures memang sudah membangun sekuel ini dengan skala yang lebih luas dibanding film pertamanya.
Bukan Sekadar Sekuel, Skala Produksinya Naik Level
Paragon Pictures menyebut proses produksi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah memiliki skala yang melampaui film pertamanya.
Salah satu perubahan besar terlihat dari pemilihan lokasi. Kali ini kawasan pesisir menjadi bagian penting dari dunia cerita. Produksi juga melibatkan lebih dari 200 extras dalam salah satu adegan besar yang berlatar gereja.
Buat saya, keputusan tersebut menarik karena horor tidak hanya dibangun melalui karakter atau efek visual. Ruang juga menjadi bagian dari teror.
Kawasan pesisir, pelabuhan, rumah keluarga dan ruang keagamaan menciptakan dunia yang terasa lebih luas. Apalagi ketika semua itu kemudian ditampilkan dalam layar IMAX.
Format IMAX sendiri memberikan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih tinggi sehingga pengalaman menontonnya dibuat lebih imersif.
Dan dari sinilah Kuasa Gelap: Perjanjian Darah terasa berbeda.
Dari Korban Perempuan ke Korban Laki Laki
Jika film pertama menghadirkan korban perempuan sebagai pusat cerita, kali ini teror berpindah kepada karakter laki laki bernama Daniel.
Daniel adalah anak Halim dan Linda. Halim (Ferry Salim) merupakan seorang pengusaha perikanan yang sukses. Namun kehidupan keluarganya berubah ketika Daniel mengalami penyakit aneh yang semakin sulit dijelaskan secara medis.
Halim kemudian berencana membawa Daniel berobat ke Singapura.
Masalahnya, Linda memiliki kecurigaan berbeda.Ia merasa ada sesuatu yang tidak wajar pada kondisi Daniel dan menduga anaknya mengalami kerasukan.
Dari sinilah Romo Rendra dan Romo Thomas kembali terlibat.
Namun persoalannya bukan sekadar mengusir sesuatu yang berada di dalam tubuh Daniel. Ada masa lalu yang belum selesai.
Trauma Masa Kecil Menjadi Bagian Penting Cerita
Film membuka cerita dengan masa kanak kanak Rendra, Halim dan Yanto.
Ketiganya pernah tinggal di panti asuhan yang dikelola susteran.
Suatu hari mereka terlibat perkelahian dengan anak anak nelayan di sebuah pelabuhan. Rendra mengejar lawannya bersama Halim dan Yanto.
Namun sebuah kejadian tragis mengubah kehidupan mereka serta meninggalkan luka mendalam. Puluhan tahun kemudian, luka tersebut ternyata belum benar benar hilang.
Horornya Tidak Hanya Tentang Setan
Bagian yang menurut saya menarik dari Kuasa Gelap: Perjanjian Darah adalah bagaimana cerita tidak berhenti pada pertanyaan apakah Daniel kerasukan atau tidak.
Ada trauma, rasa bersalah,hubungan keluarga,persoalan iman, serta keputusan manusia yang akhirnya memiliki konsekuensi besar.
Romo Rendra sendiri tidak hanya menghadapi kekuatan gelap, tetapi juga harus berhadapan dengan luka masa lalu yang selama ini dibawanya.
Sementara Halim berada pada posisi yang berlawanan. Ia semakin tidak percaya kepada Tuhan dan berusaha mencari jalan keluar melalui caranya sendiri.
Konflik antara iman, trauma dan keinginan manusia untuk mengendalikan keadaan inilah yang membuat ceritanya menjadi lebih luas daripada sekadar film eksorsisme.
Kenapa Format IMAX Menjadi Menarik?
Buat film horor, format layar besar bisa memberikan pengalaman yang berbeda.
Bayangkan adegan di kawasan pesisir dengan ruang visual yang luas, kemudian berpindah ke ruangan sempit ketika proses eksorsisme berlangsung.
Kontras ruang seperti ini bisa membuat penonton merasakan perubahan atmosfer dengan lebih kuat.
Apalagi tim produksi memang sejak awal ingin membuat sekuel ini lebih cinematic. Robert Ronny menyebut film kedua dirancang dengan cerita dan treatment yang lebih kompleks sekaligus skala yang lebih besar.
Sementara Rizal Mantovani juga menekankan bahwa film ini bukan hanya ingin menghadirkan ketakutan, tetapi juga cerita yang bisa membekas bagi penonton.
Terasa Setara dengan Produksi Horor Luar Negeri
Menurut saya, salah satu hal yang paling menarik dari Kuasa Gelap: Perjanjian Darah adalah ambisinya.
Film ini memberikan kesan bahwa horor Indonesia tidak harus selalu bermain aman dengan skala produksi yang kecil.
Ketika melihat penggunaan lokasi yang lebih luas, ratusan extras, tata kamera, desain produksi, atmosfer horor dan kemudian dikemas dalam format IMAX, pengalaman yang ditawarkan terasa semakin mendekati standar tontonan horor internasional.
Bahkan secara visual, saya melihat film ini punya potensi untuk terasa setara dengan produksi horor luar negeri, terutama dari keberanian membangun dunia cerita yang lebih besar dan sinematik.
Kontributor Farah





































