Bisakah film Perayaan Pertama dengan perspektif personal dan latar sejarah yang kuat sekaligus menjadi tontonan bioskop yang relatable bagi banyak orang?
Ekspektasi Saya untuk Perayaan Pertama
Saya ingin melihat Jason Iskandar berkembang sebagai pembuat film yang bukan hanya berani mengeksplorasi ide, tetapi juga mampu mengajak penonton masuk ke dunianya tanpa membuat mereka merasa tertinggal.
Film ini punya modal menarik: tiga karakter bersaudara, latar Indonesia menjelang Imlek 2000, tema identitas, serta jajaran pemain yang menjanjikan. Yang masih perlu dibuktikan tentu saja adalah bagaimana semua unsur tersebut dirangkai menjadi pengalaman menonton yang kuat.
Karena filmnya belum tayang, kita belum bisa menilai hasil akhirnya. Namun, satu harapan saya cukup jelas: semoga Perayaan Pertama tidak terlalu sibuk mengejar keunikan sampai melupakan kebutuhan penonton untuk memahami dan merasakan ceritanya.
Sebab, film yang punya gagasan besar tidak harus terasa rumit. Kadang, cerita yang paling membekas justru datang dari konflik manusia yang sederhana, tetapi disampaikan dengan jujur dan menyentuh.

Film Festival atau Film Komersial?
Ini bagian yang menurut saya paling menarik untuk diamati.
Jason Iskandar sebelumnya menyutradarai Akhirat: A Love Story, film yang memadukan romansa, fantasi, dan gagasan tentang kehidupan setelah kematian. Konsepnya berani dan tidak biasa. Namun, pendekatan yang eksentrik seperti itu juga bisa membuat sebagian penonton merasa cerita atau dialognya kurang natural.
Untuk Perayaan Pertama, saya berharap Jason tetap mempertahankan keberanian dalam memilih tema, tetapi memberikan pendekatan cerita yang lebih membumi dan mudah dipahami penonton umum.
Menurut saya, film ini punya potensi lebih luas jika hubungan tiga saudara menjadi pusat emosi cerita, sementara latar sejarah dan identitas budaya memperkuat konflik mereka. Penonton tidak harus memahami seluruh konteks sejarah terlebih dahulu untuk ikut merasakan konflik keluarga, kehilangan kedekatan, atau keinginan untuk diterima.
Perlu dibedakan, film yang mengangkat tema serius dan identitas budaya tidak otomatis menjadi film festival. Sebaliknya, film yang dirancang untuk tayang di bioskop juga tidak harus mengorbankan kedalaman cerita demi hiburan semata.
Perayaan Pertama sudah diumumkan untuk tayang di bioskop Indonesia pada 2027. Dari informasi yang tersedia, belum ada kepastian apakah film ini akan lebih berorientasi pada pasar komersial, festival internasional, atau menggabungkan keduanya.
Bagi saya, tantangannya justru terletak pada bagaimana film ini menjembatani keduanya. Cerita yang memiliki perspektif personal dan latar sejarah spesifik tetap bisa menyentuh penonton luas apabila konflik, karakter, dan tujuan ceritanya jelas.
Perayaan Pertama dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2027. Kita tunggu apakah film kedua Jason Iskandar ini akan menjadi perayaan identitas, keluarga, sekaligus langkah menuju cerita yang lebih dekat dengan penonton luas
Artikel ini dibuat dengan pertimbangan, bahwa ide cerita film Perayaan Pertama (First Breath After Coma) karya Jason Iskandar pertama kali dikembangkan melalui Southeast Asian Film Lab dalam ajang Singapore International Film Festival (SGIFF) 2015 Kemudian berdasarkan riset, berkembang perjalanannya meliputi
-
EAVE Ties That Bind 2023/2024 (di Taiwan dan Italia) -
Golden Horse Film Project Promotion 2024 (Taiwan) -
Hong Kong–Asia Film Financing Forum (HAF) 2025 (Hong Kong)


































