Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?
Relate Banget dengan Gen Z, Tapi Apakah Cukup Menggambarkan Kerasnya Dunia Kerja?
Kerja keras, bersaing dengan teman sendiri, mengejar posisi karyawan tetap, atau sebenarnya sedang mengejar apa?
Pertanyaan ini menjadi dasar cerita film Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? yang mencoba menangkap keresahan anak muda ketika mulai memasuki dunia kerja.
Diadaptasi dari buku karya Samuel Ray, film produksi BASE Entertainment ini mempertemukan enam calon karyawan yang harus menjalani masa probation dan bersaing untuk mendapatkan satu posisi karyawan tetap.
Dibintangi Aurora Ribero, Rey Bong, Gabriella Ekaputri, Lutfi Afansyah, Daffa Wardhana, dan Arafah Rianti, film ini membawa persoalan yang rasanya tidak asing bagi generasi muda. Apalagi di tengah kondisi mencari pekerjaan yang semakin kompetitif, sementara biaya hidup terus meningkat.
Menonton film ini, saya merasa ada banyak hal yang bisa dikenali dari kehidupan sehari-hari.
Mulai dari keinginan mendapatkan pekerjaan yang layak, membuktikan kemampuan, sampai menghadapi kenyataan bahwa teman yang selama ini dekat bisa menjadi pesaing ketika kesempatan hanya tersedia untuk satu orang.
Ketika Teman Berubah Menjadi Kompetitor
Salah satu hal menarik dari Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? adalah dinamika enam karakter yang mempunyai latar belakang, kepribadian, dan cara pandang berbeda terhadap pekerjaan.
Mereka berada dalam situasi yang sama, tetapi memiliki kepentingan masing-masing. Ada yang ingin mendapatkan pekerjaan tetap, ada yang ingin membuktikan kemampuan, dan ada pula yang sedang berusaha mempertahankan kehidupannya di tengah tuntutan ekonomi.
Situasi ini terasa dekat dengan kehidupan Gen Z. Di satu sisi, kita membutuhkan teman untuk bertahan menghadapi dunia kerja. Namun, di sisi lain, lingkungan yang kompetitif terkadang membuat hubungan pertemanan ikut diuji.
Bukankah sekarang kita juga sering melihat bagaimana orang berlomba mendapatkan pekerjaan, membangun karier, bahkan merasa tertinggal ketika melihat pencapaian teman sebaya?
Film ini mencoba memperlihatkan bahwa persaingan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Di balik kompetisi, setiap orang sebenarnya sedang berjuang dengan persoalan hidupnya masing-masing.
Sulitnya Mencari Kerja, Isu yang Tepat tetapi Belum Digali Lebih Dalam
Menurut saya, isu sulitnya mendapatkan pekerjaan merupakan salah satu bagian paling relevan dari film ini.
Mencari pekerjaan sekarang bukan sekadar mengirim CV, mengikuti wawancara, lalu menunggu pengumuman. Ada tuntutan pengalaman, kemampuan beradaptasi, persaingan dengan banyak kandidat, hingga tekanan untuk segera mendapatkan penghasilan.
Wah, bagi fresh graduate, masa probation juga bisa menjadi pengalaman yang membingungkan. Mereka dituntut menunjukkan performa terbaik, sementara belum tentu memahami sepenuhnya hak dan kewajiban sebagai pekerja.
Di sinilah film ini mempunyai peluang untuk berbicara lebih jauh.
Tetapi terasa tidak? Persoalan tersebut terasa lebih sebagai potongan realitas kehidupan daripada sebuah isu yang benar-benar digali secara mendalam. Kita bisa mengenali keresahan para karakternya, tetapi belum tentu mendapatkan perspektif baru mengenai kerasnya dunia kerja.
Titik pembahasan. Banyak hal yang sebenarnya menarik untuk dibahas.
Bagaimana tekanan ekonomi memengaruhi keputusan seseorang? Sampai sejauh mana seseorang bersedia berkompromi demi mendapatkan pekerjaan tetap? Apakah persaingan di tempat kerja memang harus membuat kita mengorbankan hubungan personal?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini punya potensi menjadi kekuatan cerita. Namun, film ini belum sepenuhnya membawa persoalan tersebut ke tingkat yang lebih menggigit.
Relate, Tetapi Tidak Menawarkan Sesuatu yang Benar-Benar Baru
Saya tidak menampik sama sekali , bahkan menyetujui bahwa Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? mempunyai tema yang relevan dengan kehidupan generasi sekarang.
Namun, ada perasaan bahwa film ini hanya memperlihatkan sepenggal realitas kehidupan dari kelompok generasi tertentu. Kita melihat keresahan, persaingan, dan perjuangan mendapatkan pekerjaan, tetapi belum menemukan sudut pandang yang benar-benar baru.
Tema tentang anak muda yang berjuang mencari pekerjaan, menghadapi persaingan, dan mempertanyakan masa depan sudah cukup sering diangkat dalam berbagai cerita.
Karena itu, menurut saya, relevansi saja belum cukup untuk membuat sebuah film terasa istimewa. Film perlu menawarkan kedalaman karakter, konflik, atau perspektif yang membuat penonton melihat persoalan yang sudah akrab dari sudut berbeda.
Lagi Probation memang punya modal cerita yang kuat, tetapi eksplorasinya masih terasa terbatas. Ada banyak keresahan yang diperkenalkan, tetapi tidak semuanya mendapatkan ruang untuk berkembang lebih jauh.
Para Pemain dan Emosi yang Tidak Datar
Enam karakter dengan kepribadian berbeda memberikan warna tersendiri. Interaksi mereka membuat cerita tidak hanya berkutat pada persaingan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana hubungan antarmanusia terbentuk dalam situasi penuh tekanan.
Hal yang saya apresiasi, para pemain tidak terlihat terlalu khawatir dengan penampilan atau dandanan yang harus selalu sempurna. Mereka berani tampil apa adanya dan membiarkan karakter yang dimainkan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi saya, ini penting. Cerita tentang orang-orang yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan tidak harus selalu ditampilkan dengan penampilan yang terlalu dibuat-buat.
Rasa natural ketika karakter terasa seperti orang yang mungkin kita temui di kantor, lingkungan pertemanan, atau kehidupan sehari-hari.
Emosi film juga cukup terasa. Ada naik turun suasana yang membuat pengalaman menonton tidak berjalan datar. Persaingan, ketegangan, momen kebersamaan, hingga sisi emosional para karakter memberikan variasi tersendiri.
Chemistry para pemain menjadi salah satu modal yang membantu film ini tetap terasa hangat di tengah cerita tentang kompetisi.
Kesimpulan saya,
Setelah keluar dari bioskop, masih ada pertanyaan yang tertinggal: apakah film ini benar-benar memahami kerasnya dunia kerja, atau hanya memperlihatkan sebagian kecil dari keresahan generasi yang sedang menghadapinya?
Karena pada akhirnya, bekerja bukan cuma soal mendapatkan posisi tetap. Ada harga diri, kebutuhan hidup, impian, dan keinginan untuk merasa bahwa perjuangan kita selama ini memang berarti.
Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Anggy, Nuty, Anya



































