Menonton Ah Girl di Pembukaan Jakarta Film Week 2026

Ada satu hal yang membuatku cukup tertarik ketika menonton film yang menggunakan perspektif anak anak.
Kita seperti diajak melihat dunia dari kacamata seseorang yang belum sepenuhnya memahami persoalan orang dewasa. Cara mereka menangkap situasi bisa berbeda, kadang tidak masuk akal bagi orang dewasa, bahkan sesekali terasa random. Justru di situlah letak kejujurannya.
Namun, perasaan itu tidak sepenuhnya kudapatkan dari Ah Girl (2026), film Singapura karya Ang Geck Geck Priscilla yang menjadi debut penyutradaraan film panjangnya.
Berlatar Singapura pada 1994, film ini mengikuti Swee Swee, atau Ah Girl, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang harus menjalani kehidupan keluarga setelah kedua orang tuanya berpisah.
Ia tinggal bersama adik perempuannya, ayah yang bekerja pada malam hari, dan nenek yang mudah marah. Sementara itu, ia masih menghabiskan akhir pekan bersama ibunya yang tidak selalu bisa diandalkan.
Kehidupan Ah Girl berubah ketika ibunya yang sedang mabuk bertanya apakah ia ingin tinggal bersamanya.
Pertanyaan sederhana bagi orang dewasa ini justru membawa beban emosional yang besar bagi seorang anak.
Premisnya menarik karena Ah Girl tidak hanya membicarakan perceraian orang tua. Film ini juga mengangkat bagaimana anak bisa ikut menanggung persoalan keluarga yang sebenarnya belum mampu mereka pahami sepenuhnya.
Anak Kecil Tidak Selalu Memahami Dunia dengan Cara yang Rapi
Hal yang ingin kusoroti adalah bagaimana film ini membangun perspektif Ah Girl.
Menurutku, menggambarkan dunia dari sudut pandang anak bukan sekadar menempatkan anak sebagai pusat cerita. Tantangan yang lebih besar justru ada pada bagaimana seorang anak memproses apa yang terjadi di sekitarnya.
Anak berusia tujuh tahun tentu bisa memahami kesedihan, merasa takut ditinggalkan, atau menyadari bahwa keluarganya sedang tidak baik baik saja. Namun, pemahaman itu tidak selalu hadir dalam bentuk pemikiran yang runtut seperti orang dewasa.
Mereka bisa saja sedang menghadapi persoalan keluarga yang berat, tetapi beberapa menit kemudian pikirannya beralih pada sesuatu yang kelihatannya sepele. Sering dikatakan tak fokus, namun itulah anak-anak usia sepantaran tersebut.
Mereka bisa salah memahami percakapan, menangkap satu kalimat secara harfiah, membayangkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang dewasa, atau menghubungkan dua kejadian yang bagi kita tidak memiliki kaitan.
Bukan berarti semua anak berpikir dengan pola yang sama.
Namun, ketidakteraturan, rasa ingin tahu, imajinasi, dan cara memahami sesuatu secara parsial sering menjadi bagian menarik dari perspektif anak dalam film.
Di sinilah aku merasa Ah Girl belum sepenuhnya memberikan pengalaman yang kucari.
Ada kesan bahwa perspektif Ah Girl diarahkan untuk menyampaikan kejujuran emosional, tetapi pada beberapa bagian pendekatan itu justru terasa terlalu dibentuk.
Aku ingin merasakan bagaimana Ah Girl memahami dunianya sendiri, bukan hanya melihat seorang anak yang ditempatkan di tengah situasi keluarga yang menyedihkan.
Bagiku, ada perbedaan antara cerita tentang anak yang mengalami persoalan orang dewasa dan cerita yang benar benar membuat penonton mengalami persoalan tersebut melalui cara berpikir seorang anak.
Keduanya tidak otomatis menghasilkan pengalaman menonton yang sama.

Ketika Kesedihan Anak Menjadi Pusat Cerita
Aku bisa memahami pilihan Ang Geck Geck Priscilla untuk membangun cerita yang intim dan realistis. Perpisahan orang tua, keterbatasan ekonomi, serta ketidakstabilan hubungan dengan ibu merupakan persoalan yang bisa sangat memengaruhi kehidupan seorang anak.
Ah Girl juga memiliki sisi menarik melalui kebiasaannya memperdagangkan permen karet di sekolah untuk mendapatkan uang saku. Detail kecil ini memperlihatkan kecerdikan dan inisiatif seorang anak dalam merespons keadaan hidupnya.
Namun, menurutku, detail seperti ini justru membuka peluang yang lebih besar untuk mengeksplorasi dunia Ah Girl.
Bagaimana ia memahami uang? Apa yang membuatnya berpikir bahwa permen karet bisa menjadi sesuatu yang bernilai? Apakah ia meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, atau menemukan caranya sendiri melalui percobaan sederhana?
Aku tertarik pada kemungkinan kemungkinan seperti ini karena karakter anak bisa terasa hidup bukan hanya melalui kesedihan yang dialaminya, melainkan juga melalui hal hal kecil yang menyibukkan pikirannya.
Anak tidak berhenti menjadi anak hanya karena keluarganya sedang bermasalah. Ia masih bisa penasaran, bermain, berkhayal, bersikap egois, tertawa pada sesuatu yang tidak dipahami orang dewasa, atau membuat keputusan yang tampak tidak masuk akal.
Menurutku, keseimbangan antara pengalaman pahit dan kehidupan anak sehari hari inilah yang menentukan apakah sebuah karakter terasa utuh.
Perspektif Visual Belum Tentu Sama dengan Perspektif Psikologis
Salah satu pendekatan visual Ah Girl adalah penggunaan sudut kamera rendah dan perspektif dari belakang bahu untuk mendekatkan penonton pada posisi fisik karakter anak.
Pilihan ini menarik karena lingkungan yang terlihat biasa bagi orang dewasa dapat terasa berbeda ketika dilihat dari ketinggian seorang anak. Namun, menurutku, pendekatan visual tersebut baru menjadi salah satu bagian dari usaha membangun perspektif anak.
Perspektif psikologis memiliki tantangan yang berbeda. Bagaimana Ah Girl memahami perkataan ibunya? Apakah ia benar benar mengerti konsekuensi ketika ditanya ingin tinggal bersama siapa? Kemudian apakah ia memahami persoalan keluarga melalui penjelasan yang diberikan kepadanya, atau justru menyusun pemahamannya sendiri dari potongan percakapan dan kejadian yang ia lihat?
Pertanyaan seperti ini penting karena seorang anak bisa merasakan dampak emosional dari suatu kejadian tanpa sepenuhnya memahami maknanya.
Aku tidak berharap film ini harus menghadirkan imajinasi yang fantastis atau membuat Ah Girl bertingkah aneh hanya demi terlihat seperti anak kecil.
Kalau semua pengalaman disusun terlalu rapi untuk mengarahkan penonton pada kesedihan tertentu, ada risiko karakter anak terasa seperti alat untuk menyampaikan pesan orang dewasa.
Dan inilah jarak yang kurasakan dalam pendekatan Ah Girl.
Ah Girl mengangkat tema yang penting. Perceraian orang tua tidak hanya berdampak pada pasangan yang berpisah, tetapi juga pada anak yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan keluarganya. Aku juga menghargai pilihan untuk menempatkan seorang anak sebagai pusat cerita, bukan sekadar menjadikannya karakter pendukung dalam konflik orang dewasa. Namun, bagiku, tema yang kuat tidak otomatis membuat perspektif karakter terasa meyakinkan.
Ada film yang membuat kita memahami anak melalui dialog dan penjelasan. Ada pula film yang membiarkan kita menyusun sendiri pemahaman tentang dunia mereka melalui tindakan kecil, kesalahpahaman, permainan, imajinasi, dan hal hal yang mungkin tidak dianggap penting oleh orang dewasa.
Bagaimanapun aku cenderung lebih tertarik pada pendekatan kedua karena penonton tidak hanya diberi tahu bahwa seorang anak sedang terluka. Kita diajak memahami bagaimana luka itu hadir dalam kehidupan sehari harinya, bahkan ketika ia sendiri belum mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.
Bukan berarti Ah Girl gagal menyampaikan persoalan keluarga atau kehilangan masa kecil.
Kritikku lebih spesifik pada bagaimana perspektif anak dibangun, karena menurutku bagian inilah yang bisa menentukan kedalaman pengalaman menontonnya.
Jadi, Bagaimana dengan Ah Girl?
Sebagai debut film panjang Ang Geck Geck Priscilla, Ah Girl memiliki premis yang kuat dan berani menjadikan pengalaman masa kecil sebagai pusat cerita. Pengakuan di berbagai festival internasional juga menunjukkan bahwa film ini mendapat perhatian dari kalangan perfilman.
Namun, penghargaan dan tema yang penting tidak membuat sebuah film harus diterima tanpa pertanyaan kritis.
Bagiku, pertanyaan utamanya bukan apakah kisah Ah Girl menyedihkan, melainkan apakah aku benar benar merasa sedang melihat dunia melalui matanya.
Aku ingin melihat anak yang tidak selalu memahami keadaan dengan benar, yang pikirannya bisa berpindah ke mana mana, yang sesekali membayangkan hal lain ketika orang dewasa sedang membicarakan persoalan serius. Bukan untuk meremehkan kesedihannya, melainkan karena kehidupan anak jauh lebih luas daripada penderitaan yang dialaminya.
Pada akhirnya, Ah Girl mengingatkanku bahwa membuat film dari sudut pandang anak bukan sekadar soal menentukan siapa yang menjadi pusat kamera. Tantangannya adalah memahami bagaimana seorang anak melihat, menafsirkan, dan merasakan dunia yang belum sepenuhnya ia mengerti. Plek , ini lebih penting. Menurutku, justru di situlah kejujuran perspektif anak seharusnya ditemukan.




































