Debut film panjang Ilya Sigma menawarkan teror psikologis melalui suara, trauma, dan permainan kepercayaan. Sebuah langkah berani dari sutradara perempuan yang telah lama bekerja di balik layar perfilman Indonesia.
Bagaimana kalau kamu mendengar suara yang terdengar begitu nyata, tetapi tidak tahu siapa yang berbicara? Bagaimana kalau suara itu perlahan membuatmu curiga kepada orang yang selama ini kamu percaya?
Situasi seperti inilah yang ditawarkan Hasut, film horor misteri Indonesia garapan Ilya Sigma yang tayang di bioskop sejak 8 Oktober 2026. Alih alih mengandalkan penampakan hantu atau kejutan visual, film produksi Tuta Films ini mencoba membangun ketakutan melalui sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yaitu pikiran, prasangka, dan rasa tidak percaya.
Bagi penonton yang mulai mencari pengalaman berbeda dari formula horor konvensional, Hasut menawarkan pendekatan yang menarik. Film ini tidak sekadar bertanya tentang apa yang sedang meneror para karakternya, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang mereka dengar benar benar bisa dipercaya.
Yang membuat film ini semakin menarik adalah sosok di balik kameranya. Ilya Sigma bukan pendatang baru di industri film Indonesia. Ia telah mengembangkan karier sebagai penulis skenario sejak 2010. Melalui Hasut, ia membawa pengalaman panjang tersebut ke wilayah baru dengan menjadi sutradara film panjang.
1. Gebrakan Ilya Sigma, Sutradara Perempuan yang Memilih Jalur Berbeda
Ketika membicarakan horor Indonesia, banyak penonton langsung membayangkan hantu, ritual mistis, rumah angker, atau jumpscare yang membuat orang spontan berteriak di bioskop.
Namun, apakah horor harus selalu memperlihatkan sesuatu yang menyeramkan agar berhasil membuat penontonnya takut?
Ilya Sigma menawarkan jawaban berbeda melalui Hasut. Ia justru membangun ketegangan dari sesuatu yang tidak terlihat. Suara misterius, gangguan sinyal, dan informasi yang belum tentu benar menjadi bagian penting dari pengalaman menonton.
Keputusan ini menarik karena ketakutan dalam film tidak hanya bergantung pada apa yang ditampilkan kamera, tetapi juga pada apa yang terjadi di kepala penonton.
Ketika sebuah suara muncul dari handy talkie atau HT, kita mungkin langsung bertanya siapa yang berbicara, dari mana asalnya, dan apakah informasi yang disampaikan bisa dipercaya. Imajinasi kemudian bekerja sendiri, menciptakan kemungkinan yang terkadang jauh lebih mengganggu daripada gambar yang diperlihatkan secara langsung.
Inilah salah satu kekuatan pendekatan Ilya. Ia memahami bahwa sesuatu yang tidak diketahui dapat memicu rasa takut karena manusia cenderung mengisi kekosongan informasi dengan dugaan.
Pilihan tersebut juga memperlihatkan keberanian seorang sutradara perempuan untuk mengeksplorasi genre melalui pendekatan yang sesuai dengan gagasan kreatifnya sendiri. Gebrakan Ilya bukan semata karena ia perempuan yang menyutradarai film horor, melainkan karena ia mengambil risiko kreatif dengan menjadikan suara dan kondisi psikologis sebagai pusat teror.
2. Pengalaman Menulis Naskah Menjadi Modal Penting
Sebelum menggarap Hasut, Ilya Sigma telah terlibat dalam berbagai film Indonesia dengan cerita dan genre yang berbeda.
Filmografinya mencakup Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), dan A Man Called Ahok (2018). Ia juga pernah menyutradarai bersama film omnibus Pintu Harmonika (2013).
Lalu, apa hubungannya dengan Hasut?
Mari melihat perjalanan tersebut sebagai perkembangan seorang pencerita.
Catatan Harian Si Boy membawa Ilya ke dalam kisah drama romantis yang berangkat dari karakter dan hubungan antarmanusia. Sementara itu, Rectoverso, khususnya segmen Curhat Buat Sahabat, memperlihatkan keterlibatannya dalam cerita yang berhubungan dengan perasaan dan relasi personal.
Berbeda lagi dengan Sundul Gan: The Story of Kaskus, yang mengangkat perjalanan di balik perkembangan sebuah platform digital, serta A Man Called Ahok, yang membawa kisah kehidupan seorang tokoh publik ke layar lebar.
Tentu, setiap film memiliki tim kreatif dan pendekatan penceritaan yang berbeda. Kita tidak bisa menyimpulkan seluruh gaya penyutradaraan Ilya hanya dari daftar film yang pernah ia tulis. Namun, pengalaman bekerja dalam berbagai jenis cerita memberinya kesempatan untuk memahami cara membangun karakter, menyusun konflik, dan mengatur informasi yang diterima penonton.
Modal tersebut relevan untuk Hasut. Film misteri psikologis membutuhkan pengaturan informasi yang cermat. Penonton harus mengetahui cukup banyak hal untuk mengikuti cerita, tetapi tidak boleh memperoleh semua jawaban terlalu cepat.
Di sinilah pengalaman sebagai penulis skenario berpotensi menjadi kekuatan. Ketegangan bukan hanya soal kapan suara misterius muncul, melainkan juga kapan informasi diberikan, disembunyikan, atau dibuat meragukan.
Perjalanan Ilya juga bukan berarti ia sama sekali belum pernah menyutradarai. Ia pernah mengarahkan Pintu Harmonika bersama sutradara lain pada 2013. Karena itu, Hasut lebih tepat dipahami sebagai langkah penting dalam perjalanan penyutradaraannya melalui film panjang dengan pendekatan horor psikologis.
3. HT Menjadi Sumber Teror, Bukan Sekadar Properti
Salah satu pilihan paling menarik dalam Hasut adalah penggunaan handy talkie sebagai medium teror.
Bagi kru produksi film, HT merupakan benda yang sangat familiar. Alat ini digunakan untuk berkomunikasi ketika anggota tim berada di lokasi berbeda. Namun, dalam film ini, benda yang biasanya membantu orang saling terhubung justru berpotensi menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan.
Suara statis, gangguan frekuensi, dan komunikasi yang terputus dapat membuat sebuah pesan terdengar tidak lengkap. Ketika sumber suara tidak diketahui dengan jelas, penonton pun ikut mempertanyakan kebenaran informasi yang diterima karakter.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa desain suara dalam film horor tidak harus sekadar memperkeras musik atau menghadirkan bunyi mengejutkan. Suara dapat menjadi bagian dari cerita, membangun konflik, bahkan mengubah cara karakter memandang satu sama lain.
Dalam wawancara yang dikutip sejumlah media, Ilya menjelaskan bahwa ia lebih takut terhadap sesuatu yang dibayangkan daripada sesuatu yang sudah terlihat secara visual.
Gagasan itu menjadi landasan kreatif yang masuk akal untuk Hasut. Ketika penonton tidak memperoleh gambaran yang pasti, mereka harus menggunakan imajinasi untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Pendekatan ini juga mengingatkan kita bahwa pengalaman menonton film bukan hanya tentang gambar. Tata suara, keheningan, jarak antarsuara, dan informasi yang sengaja dibuat tidak jelas dapat memiliki peran yang sama pentingnya dengan sinematografi.
4. Hutan, Trauma, dan Bahaya Memercayai Suara yang Salah
Hasut mengikuti empat karakter yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Mereka memasuki hutan untuk menjalani ritual penyembuhan, dengan harapan dapat menghadapi luka batin dan trauma masa lalu.
Namun, perjalanan yang seharusnya membawa ketenangan justru berubah menjadi pengalaman yang menguji kepercayaan mereka.
Suara misterius mulai muncul. Kecurigaan tumbuh. Informasi yang diterima tidak lagi mudah dibedakan antara petunjuk, ancaman, dan kebohongan.
Premis ini memiliki lapisan yang menarik karena teror tidak hanya datang dari lingkungan sekitar. Konflik juga berkembang dari cara setiap karakter menafsirkan informasi yang mereka terima.
Dalam kehidupan sehari hari, kita pun bisa mengalami situasi serupa. Sebuah pesan yang belum terverifikasi, potongan percakapan yang kehilangan konteks, atau informasi yang sesuai dengan prasangka pribadi dapat memengaruhi cara kita memandang orang lain.
Ketika seseorang sudah memiliki ketakutan atau luka masa lalu, informasi yang ambigu bahkan bisa terasa seperti bukti yang membenarkan kecurigaannya.
Di titik inilah judul Hasut terasa relevan. Hasutan tidak selalu hadir sebagai perintah yang jelas. Terkadang, ia bekerja melalui keraguan kecil yang terus diulang sampai seseorang menganggapnya sebagai kebenaran.
Pendekatan ini membuat konflik film memiliki kemungkinan makna yang lebih luas daripada sekadar misteri tentang suara di tengah hutan.
5. Apakah Horor Tanpa Penampakan Bisa Berhasil?
Jawabannya bergantung pada cara film membangun ketegangan dan menjaga keterlibatan penonton.
Horor psikologis memiliki tantangan tersendiri. Ketika film tidak terlalu mengandalkan ancaman visual, cerita harus mampu mempertahankan rasa penasaran melalui karakter, suasana, dan informasi yang diberikan secara bertahap.
Jika misterinya terlalu mudah ditebak, ketegangan dapat menghilang. Sebaliknya, jika terlalu banyak hal dibiarkan tidak jelas tanpa perkembangan yang memadai, penonton bisa merasa kebingungan alih alih ketakutan.
Karena itu, eksperimen Hasut perlu dilihat bukan hanya dari keberaniannya meninggalkan formula horor yang familiar, tetapi juga dari seberapa efektif pilihan tersebut mendukung cerita secara keseluruhan.
Sejumlah ulasan penonton yang terbit di Letterboxd pada Oktober 2026 memperlihatkan respons yang beragam. Ada yang mengapresiasi eksperimen horor psikologisnya, sementara penonton lain menganggap akhir cerita yang terbuka membuat mereka kebingungan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Respons tersebut dapat dibaca sebagai pengingat bahwa cerita yang sengaja menyisakan misteri harus tetap memberikan pengalaman emosional yang memuaskan. Penonton boleh pulang dengan pertanyaan, tetapi pertanyaan itu idealnya terasa sebagai bagian dari pengalaman yang dirancang, bukan sekadar informasi yang belum terselesaikan.
Bagi penonton yang menyukai cerita dengan ruang interpretasi, pendekatan ini bisa menjadi daya tarik. Namun, mereka yang mengharapkan penjelasan lengkap tentang setiap misteri mungkin membutuhkan penyesuaian ekspektasi.
Kesimpulan: Langkah Berani untuk Memperluas Kemungkinan Horor Indonesia
Hasut menjadi langkah menarik dalam perjalanan Ilya Sigma. Setelah bertahun tahun bekerja sebagai penulis skenario, ia membawa pengalaman tersebut ke sebuah film panjang yang mengeksplorasi ketakutan melalui suara, trauma, dan keraguan manusia.
Gebrakannya bukan karena film ini harus dianggap lebih baik daripada semua horor yang menggunakan hantu atau unsur supernatural. Horor konvensional tetap memiliki ruang kreatifnya sendiri.
Nilai penting Hasut justru terletak pada keberaniannya menunjukkan bahwa genre horor Indonesia memiliki banyak kemungkinan. Teror bisa datang dari makhluk yang terlihat, tetapi juga bisa tumbuh dari pikiran yang tidak tenang, informasi yang meragukan, dan hubungan yang perlahan kehilangan kepercayaan.
Bagi Ilya sebagai sutradara perempuan, Hasut juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana pengalaman panjang di balik layar dapat berkembang menjadi eksplorasi artistik yang berbeda.
Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan film ini cukup sederhana: apakah kita benar benar takut pada suara yang kita dengar, atau pada kemungkinan bahwa suara tersebut mengatakan sesuatu yang selama ini kita khawatirkan?
Jika kamu tertarik dengan horor yang mengandalkan atmosfer, misteri, dan permainan psikologis, Hasut layak masuk daftar tontonan bioskopmu.
Penulis ; Anggi, Anya, Santi dan Maya

































