Film tentang penyihir biasanya identik dengan mantra besar, dunia sihir yang kompleks, monster, pertarungan, sampai CGI yang bikin layar penuh warna. Tapi Practical Magic: The Book of Magic memilih jalan yang berbeda.
Film ini tidak terlalu sibuk menunjukkan siapa penyihir paling kuat.
Tidak juga menjadikan sihir sebagai alasan untuk membuat setiap adegan harus terlihat spektakuler.
Sebaliknya, Practical Magic: The Book of Magic justru lebih banyak bicara soal keluarga, cinta, pengorbanan dan kutukan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan setelah menonton filmnya, saya merasa satu hal:
Ternyata gaya drama klasik masih bisa terasa menyenangkan di tengah film-film modern yang semakin suka bikin cerita ribet.
Hampir 30 Tahun Kemudian, Keluarga Owens Kembali
Buat yang mengikuti film pertamanya pada 1998, Practical Magic: The Book of Magic tentu punya nilai nostalgia tersendiri.
Jarak hampir tiga dekade bukan waktu yang sebentar.
Tapi menariknya, film ini tidak meninggalkan akar cerita keluarga Owens.
Sally Owens dan Gillian Owens masih diperankan Sandra Bullock dan Nicole Kidman.
Kali ini cerita juga berkembang kepada generasi berikutnya, terutama dua putri Sally, Kylie Owens dan Antonia Owens.
Dan tentu saja, darah keluarga Owens bukan cuma mewariskan nama keluarga.
Mereka juga mewariskan sihir. Masalahnya, Sally sebenarnya tidak ingin kedua putrinya terlalu dekat dengan dunia tersebut.
Ia tahu betul bahwa menjadi bagian dari keluarga Owens bukan cuma berarti punya kemampuan ajaib.
Ada harga yang harus dibayar, termasuk sebuah kutukan yang selama berabad-abad membuat perempuan keluarga Owens tidak bisa jatuh cinta tanpa konsekuensi.
Kylie Jatuh Cinta, Kutukan Lama Bangun Lagi
Masalah dimulai ketika Kylie benar-benar jatuh cinta.
Dan kalau kamu sudah tahu sejarah keluarga Owens, tentu saja ini bukan kabar baik.
Perasaan cinta Kylie justru menjadi pintu masuk bagi kutukan lama yang selama ini menghantui keluarganya.
Di sinilah Book of Raven kemudian menjadi bagian penting dari cerita.
Sebuah buku sihir tua yang menyimpan petunjuk mengenai bagaimana kutukan tersebut bisa dihentikan.
Tetapi seperti yang biasa terjadi dalam cerita tentang sihir:
Kalau ada buku yang katanya bisa menyelesaikan masalah selama ratusan tahun, kemungkinan besar ada harga yang harus dibayar.
Dan benar saja.
Tom Bailey Jadi Sumber Kekacauan
Salah satu konflik utama datang dari Tom Bailey, sosok yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Owens tetapi tidak memiliki kemampuan sihir.
Rasa iri terhadap keluarga Owens kemudian membawanya mempelajari ilmu hitam.
Di sinilah film mulai membawa cerita ke konflik yang lebih besar.
Tom tidak cuma ingin mengetahui rahasia keluarga Owens.
Ia ingin memiliki kekuatan yang tidak pernah dia miliki.
Masalahnya, kekuatan sihir bukan sesuatu yang bisa dicuri begitu saja tanpa konsekuensi.
Tom kemudian menggunakan mantra untuk menjebak Kylie dan mengambil kemampuan sihirnya.
Sally dan Gillian akhirnya kembali terlibat untuk menyelamatkan Kylie.
Dan dari sini, rahasia terbesar mengenai kutukan keluarga Owens mulai terbuka.
Tapi Inti Film Ini Sebenarnya Bukan Sihir
Ini bagian yang menurut saya paling menarik.
Kalau hanya melihat trailernya, mungkin kita akan berpikir Practical Magic: The Book of Magic adalah film fantasy tentang penyihir.
Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, sihir hanya menjadi kendaraan untuk membicarakan keluarga.
Hubungan ibu dan anak.
Hubungan kakak dan adik.
Cinta.
Rasa kehilangan.
Dan pengorbanan.
Itulah kenapa film ini terasa berbeda dibandingkan film sihir modern seperti Fantastic Beasts, Doctor Strange, Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves, atau Wicked.
Film-film tersebut cenderung menggunakan dunia sihir sebagai bagian dari petualangan besar.
Sedangkan Practical Magic lebih seperti:
“Oke, kita punya sihir. Tapi sebenarnya masalah keluarga kita apa?”
Dan justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih dekat.
Drama Klasik yang Mungkin Sekarang Terasa “Old School”
Saya cukup menikmati bagaimana film ini tidak berusaha membuat ceritanya terlalu rumit.
Strukturnya jelas.
Ada pengenalan, konflik, masalah yang semakin besar.
Kemudian ada penyelesaian.
Tidak terlalu banyak timeline yang lompat-lompat., serta terasa sekali menghinadr semua karakter harus ternyata menyimpan rahasia super besar.
Hal yang sama terasa dari Practical Magic: The Book of Magic tidak terasa seperti film yang setiap adegannya ingin menunjukkan:
“Lihat, kita punya CGI!”
Pengambilan gambarnya cenderung lebih tenang. Tidak terlalu banyak kamera bergerak ekstrem. Tidak terlalu mengandalkan visual spektakuler.
Dan menurut saya, pendekatan ini cocok dengan cerita.
Karena filmnya memang lebih ingin membawa kita masuk ke kehidupan keluarga Owens dibandingkan membawa kita menjelajahi dunia fantasi yang super luas.
Penulis Meli, diperiksa Anya

































