Bayangkan masuk ke sebuah rumah besar yang jauh dari keramaian, lalu menemukan sebuah manuskrip yang seharusnya tidak pernah kamu baca. Masalahnya, semakin kamu membaca, semakin kamu tidak yakin siapa yang sebenarnya sedang memanipulasi siapa.
Itulah pengalaman yang saya rasakan ketika menonton Verity.
Film terbaru dari Sony Pictures ini mengadaptasi novel populer karya Colleen Hoover dengan judul yang sama. Michael Showalter duduk di kursi sutradara, sementara Anne Hathaway, Dakota Johnson, dan Josh Hartnett menjadi tiga karakter utama yang sejak awal sudah memberikan satu sinyal:
Tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya.
Dan menurut saya, justru permainan inilah yang membuat Verity menarik.
Bukan sekadar mencari tahu siapa yang jahat.
Tetapi mencoba menjawab pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:
Apa yang sebenarnya terjadi di rumah keluarga Crawford?
Verity Bikin Penonton Ikut Jadi Detektif
Cerita berpusat pada Lowen Ashleigh yang diperankan Dakota Johnson, seorang penulis yang mendapat kesempatan untuk melanjutkan seri novel milik Verity Crawford, karakter yang dimainkan Anne Hathaway.
Verity sendiri berada dalam kondisi yang membuatnya tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya.
Lowen kemudian datang ke rumah keluarga Crawford dan mulai mempelajari materi tulisan Verity.
Di sinilah semuanya mulai terasa salah.
Lowen menemukan sebuah manuskrip yang berisi pengakuan mengejutkan tentang keluarga Crawford.
Dan semakin banyak yang ia baca, semakin sulit membedakan mana kenyataan, mana manipulasi, dan mana cerita yang sengaja dibuat untuk menghancurkan seseorang.
Saya bahkan beberapa kali merasa seperti sedang ikut menginvestigasi keluarga ini.
Setiap karakter seperti punya kartu yang sengaja disembunyikan.
Begitu merasa sudah menemukan jawabannya, filmnya memberikan alasan baru untuk meragukan kesimpulan tersebut.
Dakota Johnson Justru Jadi Karakter yang Paling Bikin Curiga
Awalnya, Lowen terlihat seperti karakter yang paling mudah dipercaya.
Dakota Johnson membawakannya dengan gaya bicara lembut, ekspresi tenang dan gestur yang membuat Lowen terlihat seperti seseorang yang sedang masuk ke situasi berbahaya tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Tapi semakin film berjalan, saya justru mulai bertanya:
“Sebentar… Lowen ini sebenarnya innocent atau jangan-jangan…”
Ini yang menurut saya menarik dari karakter Lowen.
Film tidak selalu membuatnya terlihat mencurigakan secara terang-terangan.
Justru detail kecil yang membuat kita mulai curiga.
Misalnya ketika ia mengonsumsi obat keras milik mendiang ibunya bersama alkohol.
Atau ketika ia memainkan push pin dengan cara yang terasa tidak biasa.
Belum lagi imajinasinya ketika membaca manuskrip Verity.
Karena Lowen sendiri adalah penulis thriller, batas antara imajinasi dan realitas dalam pikirannya terasa semakin kabur.
Ekspresinya yang sering datar juga membuat saya semakin sulit membaca isi kepalanya.
Dan Dakota Johnson cukup berhasil memainkan ambiguitas itu.
Anne Hathaway Juga Tidak Bisa Langsung Dipercaya
Kalau Dakota Johnson membuat kita bertanya-tanya tentang Lowen, Anne Hathaway sebagai Verity justru memberikan teka-teki yang berbeda.
Apakah Verity memang monster seperti yang digambarkan?
Atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?
Hathaway punya wajah yang menarik untuk karakter seperti ini karena dalam satu frame dia bisa terlihat sangat lembut, tetapi beberapa detik kemudian ekspresinya bisa berubah menjadi sangat unsettling.
Dan ketika dia dipasangkan dengan Dakota Johnson, permainan tatapan keduanya menjadi salah satu bagian yang saya nikmati.
Dua karakter perempuan yang sama-sama terlihat tenang, tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di kepala mereka.
Josh Hartnett Membuat Situasinya Makin Tidak Nyaman
Kemudian ada Josh Hartnett sebagai Jeremy Crawford.
Jeremy berada di tengah hubungan yang sudah sangat rumit antara Verity dan Lowen.
Karakter ini juga tidak dibuat sebagai sosok yang sepenuhnya mudah dibaca.
Ada sisi sebagai suami dan ayah yang membuat kita bisa memahami posisinya.
Tetapi semakin banyak informasi yang muncul, semakin besar juga pertanyaan mengenai keputusan-keputusan yang dibuatnya.
Dan ini membuat hubungan ketiganya menjadi semacam permainan psikologis.
Siapa yang sedang memanipulasi siapa?
Justru Crew Crawford yang Bikin Saya Merinding
Ada satu karakter yang menurut saya jangan sampai dilewatkan: Crew Crawford, yang diperankan Brady Wagner.
Awalnya, Crew terlihat seperti karakter pendukung.
Anak yang pemalu, sulit berkomunikasi dan membawa trauma dari masa lalu.
Tapi justru karena karakter ini sejak awal terlihat begitu innocent, sebuah adegan sederhana menjelang bagian akhir terasa jauh lebih mengganggu.
Crew hanya sedang makan selai menggunakan pisau roti.
Sesederhana itu.
Kalau adegan tersebut muncul dalam film drama keluarga biasa, mungkin kita tidak akan berpikir apa-apa.
Tapi setelah hampir dua jam mengikuti keluarga Crawford?
Saya malah deg-degan melihat seorang anak makan selai.
Mimik Crew yang datar dan santai membuat adegan tersebut terasa semakin aneh.
Dan ketika kita mulai menghubungkan perilakunya dengan karakter kedua orang tuanya, muncul kemungkinan yang jauh lebih disturbing.
Seolah-olah film sedang memberi petunjuk bahwa sesuatu dalam keluarga Crawford mungkin sudah diwariskan ke generasi berikutnya.
Visual Rumahnya Berhasil Membantu Cerita
Satu hal yang menurut saya cukup efektif adalah penggunaan lokasi.
Rumah keluarga Crawford berada jauh dari keramaian.
Ditambah musim dingin, salju dan cuaca ekstrem, lingkungan di sekitar rumah terasa semakin terisolasi.
Jadi ketika sesuatu terjadi, kita tidak merasa karakter-karakternya bisa dengan mudah keluar dan mencari pertolongan.
Rumah tersebut juga memiliki banyak ornamen kayu, lorong dan ruang yang terasa sempit.
Secara visual, tempat ini seperti karakter tambahan dalam film.
Semakin lama melihat rumahnya, semakin terasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dan ini penting untuk psychological thriller.
Karena horornya tidak selalu harus berasal dari sesuatu yang muncul tiba-tiba.
Kadang cukup dari sebuah lorong yang terlalu sepi.
Atau sebuah ruangan yang terasa terlalu gelap.
Atau seseorang yang berdiri diam dan kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi Apakah Verity Benar-Benar Original?
Nah, di sini saya mulai sedikit kritis.
Secara cerita, Verity memang menarik.
Tetapi beberapa elemen dan vibes-nya terasa familiar.
Ada rumah terpencil.
Ada keluarga dengan rahasia.
Ada perempuan yang masuk ke dalam hubungan yang semakin lama semakin berbahaya.
Ada manuskrip misterius.
Ada karakter yang mungkin sedang berbohong.
Dan tentu saja ada twist.
Jadi jangan berharap setiap elemennya terasa benar-benar baru.
Yang membuatnya tetap menarik adalah cara film memainkan perspektif penonton.
Kita dibuat terus membaca situasi.
Kemudian film memberi informasi baru.
Kita mengubah pendapat.
Lalu muncul informasi lain.
Kita berubah pikiran lagi.
Capek? Sedikit.
Seru? Iya.
Karena Verity memang meminta penontonnya untuk tidak pasif.
Ini Film yang Membuat Kita Sibuk Menebak
Saya justru merasa Verity lebih seru kalau ditonton bersama teman.
Bukan karena filmnya lucu.
Tapi karena setelah adegan tertentu, kemungkinan besar muncul pertanyaan:
“Menurut lo siapa yang bohong?”
Dan masing-masing orang bisa punya jawaban berbeda.
Apakah Verity?
Apakah Lowen?
Apakah Jeremy?
Atau jangan-jangan kita sebagai penonton yang sudah diarahkan untuk percaya pada cerita tertentu?
Itulah permainan utama Verity.
Film ini membuat kita menjadi semacam detektif selama hampir dua jam.
Verdict: Worth It atau Skip?
Menurut saya, Verity masih layak ditonton untuk penggemar psychological thriller yang suka cerita penuh manipulasi, karakter ambigu dan twist.
Kekuatan terbesarnya ada pada trio Anne Hathaway, Dakota Johnson dan Josh Hartnett, terutama karena ketiganya berhasil membuat karakter mereka terasa sulit dibaca.
Dakota Johnson juga cukup menarik sebagai Lowen karena karakternya tidak berhenti sebagai perempuan innocent yang masuk ke rumah berbahaya.
Semakin lama, kita justru semakin mempertanyakan dirinya.
Dan saya suka ketika sebuah thriller bisa membuat saya mempertanyakan karakter yang sejak awal saya kira adalah “orang baik”.
Namun, kalau kamu mencari psychological thriller yang benar-benar revolusioner dan belum pernah melihat formula seperti ini sebelumnya, mungkin kamu akan menemukan beberapa bagian yang terasa familiar.
Buat saya, Verity lebih kuat sebagai permainan psikologis daripada sebagai cerita yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru.
Tapi kalau tujuan filmnya adalah membuat saya duduk, memperhatikan detail kecil, mencurigai semua karakter dan terus bertanya siapa yang sebenarnya mengatakan kebenaran?
Penulis Anya



































