LYTO Pictures merilis trailer dan poster People Pleaser pada 12 Oktober 2026. Dibintangi Mawar de Jongh, drama komedi garapan Bobby Prasetyo ini mengajak penonton menertawakan kebiasaan selalu menyenangkan orang lain, sambil belajar bahwa berkata “tidak” bukan berarti jahat.
Film ini tayang di bioskop mulai 19 November 2026.
Pernah nggak, kamu sebenarnya sudah capek, punya banyak deadline, dan pengin rebahan tanpa gangguan, tetapi begitu ada teman minta tolong, jawabanmu malah, “Oke, siap!”?
Lima menit kemudian, kamu baru sadar kalau jadwal sendiri sudah berantakan. Mau membatalkan juga nggak enak. Akhirnya, kamu tetap mengerjakan semuanya sambil menggerutu dalam hati.
Kalau situasi ini terasa familiar, selamat datang di klub kaum nggak enakan!
Kebiasaan selalu bilang “iya” demi menjaga perasaan orang lain menjadi persoalan yang diangkat LYTO Pictures lewat film drama komedi terbaru berjudul People Pleaser.
Setelah merilis teaser poster pada September lalu, film yang dibintangi Mawar de Jongh ini resmi memperkenalkan trailer dan poster terbarunya di Senayan City XXI, Jakarta, pada 12 Oktober 2026.
Menariknya, film ini bukan sekadar menawarkan komedi tentang orang yang terlalu baik kepada semua orang.
Ceritanya juga menyentuh persoalan yang sering kita alami dalam pertemanan, keluarga, percintaan, hingga dunia kerja: bagaimana caranya berhenti mengorbankan diri sendiri demi membuat orang lain bahagia?
Karina, si paling bisa diandalkan yang lupa mengurus dirinya sendiri
Dalam People Pleaser, Mawar de Jongh berperan sebagai Karina, perempuan muda yang sulit menolak permintaan orang lain.
Di rumah, Karina harus menghadapi berbagai permintaan dari ibu, tante, dan sepupunya. Pindah ke lingkungan kantor pun bukan berarti hidupnya menjadi lebih tenang. Ada rekan kerja yang meminta bantuan, satpam kantor dengan tingkah menghibur, sampai pengemudi ojek online langganan yang gemar bercerita sepanjang perjalanan.
Belum lagi urusan sahabat dan kehidupan pribadinya.
Karina seperti punya pekerjaan tambahan yang tidak pernah tertulis di kontrak: menjadi orang yang selalu tersedia untuk semua orang.
Masalahnya, ketika semua orang merasa nyaman meminta bantuan kepada Karina, siapa yang memastikan Karina sendiri baik-baik saja?
Situasi ini berpotensi menjadi sumber komedi yang dekat dengan keseharian penonton. Kita mungkin tertawa melihat kekacauan yang dialami Karina, tetapi diam-diam juga merasa tertampar karena pernah berada di posisi serupa.
Menurut Mawar de Jongh, karakter Karina terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi orang yang takut menolak karena tidak ingin mengecewakan orang lain.
Lewat karakter tersebut, Mawar ingin mengingatkan penonton bahwa belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menjadi orang jahat. Justru, itu bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Plot twist kehidupan kaum nggak enakan: semua orang bahagia, kecuali diri sendiri
Istilah people pleaser belakangan sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berusaha menyenangkan orang lain sampai mengesampingkan kebutuhan pribadinya.
Namun, ada hal penting yang perlu dipahami. Bersikap baik, suka membantu, dan peduli terhadap orang lain bukanlah masalah. Persoalannya muncul ketika kita terus mengiyakan permintaan karena takut ditolak, merasa bersalah saat menolak, atau khawatir dianggap egois.
Pembahasan ini juga muncul dalam artikel edukasi psikologi di Indonesia. Pada Maret 2026, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui kanal OPSI membahas fenomena sulit berkata “tidak” dan pentingnya memahami alasan di balik kebiasaan tersebut.
Sementara itu, ANTARA pada April 2026 mengulas penelitian tentang hubungan perilaku people pleasing dengan kesejahteraan emosional dan kualitas hubungan. <
Artinya, kebiasaan mengiyakan semua permintaan bukan selalu soal terlalu baik hati. Dalam beberapa situasi, perilaku tersebut juga bisa berkaitan dengan rasa takut mengecewakan orang lain.
Coba cek beberapa situasi berikut. Apakah kamu pernah mengalaminya?
- Jadi customer service gratis 24 jam. Teman curhat tengah malam, padahal kamu harus bangun pagi untuk sekolah, kuliah, atau bekerja.
- Mengambil alih pekerjaan orang lain. Kamu sudah punya tugas sendiri, tetapi tetap menerima pekerjaan tambahan karena takut dianggap tidak kooperatif.
- Bilang nggak apa-apa padahal sebenarnya kesal. Kamu memilih diam supaya suasana tetap damai, lalu memikirkan kejadian itu berulang kali.
- Merasa bersalah setelah menolak. Padahal kamu punya alasan yang masuk akal untuk beristirahat atau memprioritaskan kebutuhan sendiri.
Kalau pernah mengalami salah satunya, kamu tidak otomatis menjadi seorang people pleaser. Namun, situasi tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah kamu sudah memberikan ruang yang cukup bagi diri sendiri.
Belajar berkata “nggak” tanpa merasa menjadi penjahat
Salah satu hal menarik dari People Pleaser adalah pesan tentang batasan diri atau personal boundaries yang disampaikan melalui drama komedi.
Sutradara Bobby Prasetyo ingin membawa penonton mengikuti perjalanan Karina dalam belajar memilih dirinya sendiri. Sementara itu, penulis skenario Evelyn Afnilia mengangkat momen-momen serba salah yang mungkin pernah dialami banyak orang.
Pesan tersebut terasa relevan bagi anak muda yang sedang belajar membangun hubungan sehat, baik dengan teman, pasangan, keluarga, maupun rekan kerja.
Lalu, bagaimana memulainya tanpa harus mendadak menjadi orang yang dingin?
Kamu bisa mulai dari hal sederhana. Ketika seseorang meminta bantuan, jangan merasa harus langsung menjawab. Berikan waktu untuk memeriksa jadwal, tenaga, dan kemampuanmu.
Kalau memang tidak sanggup, kamu bisa mengatakan, “Maaf, kali ini aku belum bisa bantu, ya. Aku lagi harus menyelesaikan urusanku sendiri.”
Tidak perlu membuat alasan panjang hanya untuk membuktikan bahwa kamu orang baik.
Kamu juga bisa menawarkan bantuan alternatif jika memang memungkinkan. Namun, ingat bahwa kamu tidak wajib selalu menyediakan solusi untuk semua masalah orang lain.
Menetapkan batasan bukan berarti berhenti peduli. Justru, hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan kebutuhan masing-masing.
Janji kepada mendiang ayah menjadi bagian penting perjalanan Karina
Di balik berbagai situasi kocak yang dialami Karina, People Pleaser juga memiliki sisi emosional.
Karina menyimpan janji kepada mendiang ayahnya untuk pergi menikmati festival lampion di Bali. Keinginan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Karina, terutama ketika ia harus menghadapi berbagai tuntutan dari orang-orang di sekitarnya.
Di titik ini, ceritanya berpotensi bergerak lebih jauh daripada sekadar komedi tentang seseorang yang kesulitan menolak permintaan.
Karina memiliki keinginan dan kebahagiaannya sendiri. Namun, apakah ia bisa memberikan ruang bagi keinginannya ketika hampir seluruh waktunya habis untuk memenuhi kebutuhan orang lain?
Pertanyaan itulah yang membuat perjalanan Karina menarik untuk diikuti. Kita tidak hanya ingin melihat bagaimana ia menghadapi orang-orang di sekitarnya, tetapi juga apakah ia akhirnya berani menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.
Mawar de Jongh ditemani deretan pemain lintas generasi
Film ini diproduseri Andi Suryanto bersama Marcella Daryanani, disutradarai Bobby Prasetyo, dan ditulis oleh Evelyn Afnilia.
Selain Mawar de Jongh, jajaran pemainnya mencakup Ardit Erwandha, Ummi Quary, Fatih Unru, Vonny Cornellya, Surya Saputra, Cut Mini, Amel Carla, Taskya Namya, Sadana Agung, Arif Alfiansyah, dan Aci Resti.
Kehadiran para aktor dan komedian tersebut membuka peluang bagi People Pleaser untuk menghadirkan dinamika keluarga, pertemanan, dan lingkungan kerja yang ramai dengan karakter berbeda-beda.
Buat penonton yang menyukai drama komedi dengan persoalan sehari-hari, kombinasi cerita tentang keluarga, persahabatan, dan perjalanan mengenal diri sendiri ini layak masuk daftar tontonan mendatang.
Jadi, kapan bisa nonton People Pleaser?
LYTO Pictures menjadwalkan People Pleaser tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 19 November 2026.
Informasi mengenai film ini juga telah diberitakan oleh sejumlah media Indonesia. ANTARA mengulas jadwal tayang dan karakter Karina, sedangkan Media Indonesia membahas peran Mawar de Jongh dalam film tersebut.
Untuk perkembangan terbaru, pantau akun Instagram resmi @peoplepleaserfilm dan @lytopictures.
Pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang menarik untuk dibawa setelah menonton film ini: selama ini kita membantu orang lain karena memang ingin membantu, atau karena takut mereka kecewa jika kita menolak?
Kita boleh menjadi teman yang suportif, anak yang peduli, pasangan yang perhatian, dan rekan kerja yang bisa diandalkan. Namun, kita juga berhak beristirahat, memiliki keinginan sendiri, dan mengatakan “tidak” ketika memang tidak sanggup.
Sebab, kamu tidak harus selalu tersedia untuk semua orang agar layak disayangi.
Penulis : Anggi, Anya, Mia dan Boni
Sumber :1. a href="https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/opsi-penyakit-gak-enakan-berani-bilang-tidak-tanpa-rasa-bersalah/" target="_blank">Baca pembahasan UGM tentang sulit berkata tidak</a> dan <a href="https://www.antaranews.com/berita/5539228/studi-people-pleasing-ganggu-kesehatan-mental-dan-kualitas-hubungan" target="_blank">laporan ANTARA mengenai people pleasing</a>. 2.Preskon 3. Pelbagai media 4. Catatan saat preskon



































