Lobang Buaya tidak menjadikan sosok menyeramkan sebagai satu satunya sumber ketakutan.
Hanung menggunakan horor untuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan manusia.
Kekuasaan, keserakahan, korupsi, serta penindasan dan ketakutan manusia ketika hidup dalam situasi yang tidak bisa mereka kendalikan.
Hanung sendiri menjelaskan bahwa ketika memikirkan peristiwa 1965, rasa yang muncul baginya adalah horor, karena itu, genre horor digunakan untuk menggambarkan bukan hanya ketakutan dalam cerita, tetapi juga kengerian yang muncul dari persoalan kekuasaan dan manusia yang saling menindas.
Jadi kalau ekspektasi kamu adalah film horor yang isinya cuma penampakan dari awal sampai akhir, Lobang Buaya bermain di wilayah yang berbeda.
Cek dulu videonya
Review Film Lobang Buaya
Bagaimana kalau sebuah desa tiba tiba menjadi tempat pembunuhan misterius, sementara semua orang di dalamnya seperti menyimpan rahasia?
Itulah yang coba dimainkan Hanung Bramantyo lewat Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah.
Mengambil latar tahun 1964, sekitar satu tahun sebelum tragedi 30 September 1965. Namun sejak awal, film ini tidak mencoba menjadi film sejarah yang sepenuhnya otentik.
Hanung justru membangun sebuah dunia fiksi dengan campuran horor, misteri, dan thriller. Menurut kami, di situlah menariknya film ini.
Bukan Horor yang Cuma Mengandalkan Jump Scare
Kalau datang dengan ekspektasi melihat hantu muncul setiap beberapa menit, mungkin film ini terasa berbeda.
Lobang Buaya lebih banyak bermain dengan rasa curiga.
Ada pembunuhan.,ada korban dengan kondisi mengerikan, serta kejadian yang sulit dijelaskan. Serta ada orang yang ditugaskan untuk mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Setiap tanggal 30, pembunuhan kembali terjadi. Situasi ini membuat warga desa hidup dalam ketakutan dan paranoia.
Jadi pertanyaannya bukan cuma: “Siapa hantunya?” Tapi juga: “Siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?” Nah, ini yang membuat saya cukup menikmati perjalanan filmnya.
Baskara Mahendra Jadi Mata Penonton
Memainkan Letnan Soegeng, seorang perwira yang datang untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.
Yang menarik, Soegeng bukan karakter yang sudah mengetahui semua jawaban. Dia juga bingung, juga curiga, serta mencoba menyusun potongan informasi yang diberikan cerita.
Bahkan Baskara sendiri mengatakan bahwa posisi Soegeng memang dibuat seperti penonton. Apa yang dirasakan penonton juga dirasakan oleh Soegeng.
Menurut kami, pilihan ini cukup efektif, karena kita tidak ditempatkan sebagai orang yang tahu semuanya.
Kita ikut menyelidiki. Kita ikut mencurigai karakter lain dan ketika film mulai membuka informasi baru, kita bisa ikut mempertanyakan dugaan kita sendiri.
Semua Orang Terlihat Punya Rahasia
Ini bagian yang paling saya suka.
Film tidak hanya bertanya siapa pelakunya namun juga membuat kita bertanya tentang motif.
Kenapa seseorang melakukan sesuatu? Apa yang sebenarnya disembunyikan? Apakah sebuah karakter benar benar seperti yang terlihat?
Semakin Soegeng menyelidiki, semakin banyak lapisan cerita yang terbuka.
Bahkan Baskara mengungkapkan bahwa ia sendiri tidak selalu tahu ke mana arah plot ketika proses syuting berlangsung. Informasi dalam cerita dibuka sedikit demi sedikit.
Efeknya membuat film terasa seperti teka teki.
Visualnya Sengaja Tidak Terlalu Nyata
Satu hal yang juga menarik adalah bagaimana film ini membangun dunia visualnya. Hanung memang sengaja memberikan jarak antara dunia film dengan kondisi sejarah yang sebenarnya.
Ia bahkan mengubah sejumlah detail agar penonton tidak menganggap film ini sebagai gambaran faktual tentang peristiwa sejarah 1965.
Salah satunya lewat lokasi dan warna visual. Hanung menyebut tim kamera menggunakan nuansa warna kecokelatan untuk membangun dunia fiksi film tersebut. Menurut kami, keputusan ini penting, karena film sedang bermain di wilayah yang sensitif. Ada sejarah nyata di belakangnya, tetapi cerita yang kita lihat tetap merupakan fiksi.
Penulis Fera, Anya, Erik



































