Empat Musim Pertiwi
Ada film yang selesai ketika credit title muncul, tapi ada juga film yang justru bikin kita kepikiran setelah keluar dari bioskop.
Empat Musim Pertiwi termasuk yang kedua.
Setelah mengikuti screening film ini, saya merasa Empat Musim Pertiwi bukan cuma film yang ingin menunjukkan keindahan Indonesia. Film ini juga mengajak kita melihat kembali sesuatu yang mungkin selama ini terasa biasa saja: rumah, keluarga, tempat kita tumbuh, dan orang-orang yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Tema seperti ini sebenarnya dekat banget, karena semakin besar, kita mulai punya banyak pertanyaan.
Indonesia bukan cuma tempat di peta
Salah satu hal yang terasa kuat dari Empat Musim Pertiwi adalah cara film ini melihat Indonesia bukan sekadar latar cerita.
Indonesia hadir lewat lingkungan, budaya, hubungan antarmanusia dan kehidupan sehari-hari.
Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana justru menjadi bagian penting dari identitas para karakternya.
Ini menarik karena generasi sekarang hidup di dunia yang semakin global.
Kita bisa mengikuti tren Korea dalam hitungan detik.
Bisa menonton film Hollywood, mendengarkan musik dari berbagai negara, belajar dari kreator di luar negeri dan melihat kehidupan orang lain lewat media sosial.
Tapi di tengah semua itu, pertanyaannya:
Seberapa kenal kita dengan tempat kita sendiri?
Kalau ada satu hal yang kemungkinan besar relate dengan remaja, jawabannya adalah keluarga.
Keluarga bisa menjadi tempat paling nyaman.
Tapi keluarga juga bisa menjadi sumber konflik paling besar.
Kadang orang tua punya ekspektasi yang menurut mereka terbaik, sementara anak merasa tidak didengarkan.
Dilarang melakukan sesuatu yang menurut kita sebenarnya biasa saja.
Atau sekadar merasa, “Kenapa sih orang tua nggak pernah ngerti aku?”
Empat Musim Pertiwi mengingatkan bahwa hubungan keluarga memang tidak selalu sempurna.
Tetapi memahami satu sama lain membutuhkan proses.

Film yang bisa menjadi bahan ngobrol setelah bioskop
Buat remaja, Empat Musim Pertiwi menurut saya menarik justru karena film ini bisa menjadi bahan diskusi setelah selesai ditonton.
“Indonesia seperti apa yang ingin kita lihat 10 atau 20 tahun lagi?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat pengalaman menonton terasa lebih panjang daripada durasi filmnya.
Ini yang membuat kesimpulan, film ini cocok ditonton oleh remaja, karena tidak semua film untuk remaja harus berbicara tentang sekolah, percintaan atau pertemanan.
Kadang kita juga perlu film yang membuat kita berpikir tentang kehidupandi luar sekolah.
Tentang pilihan,keluarga,identitas,tempat kita berasal dan tentang menjadi dewasa.
Empat Musim Pertiwi bisa menjadi salah satu film yang mengajak kita melihat bahwa proses menjadi dewasa tidak selalu tentang menemukan semua jawaban.
Tumbuh dewasa bukan berarti harus melupakan rumah.
Kadang, justru dengan memahami dari mana kita berasal, kita jadi lebih tahu ke mana harus melangkah.
Penasaran? Setelah tayang di bioskop reguler, kita akan bahas lebih lanjut
Penulis kontributor



































