Jakarta — Film horor Kuasa Gelap 2 resmi membuka babak baru perfilman Indonesia. Sekuel garapansutradara horor senior Rizal Mantovani. Ia menggantikan Bobby Prasetyo yang menyutradarai film pertamanya itu tidak hanya hadir di layar reguler, tetapi juga dirilis dalam format IMAX dan 4DX, sesuatu yang dipromosikan sebagai pertama kalinya film Indonesia mendapat perilisan 4DX di bioskop Indonesia.
Buat pecinta horor, kabar ini langsung bikin timeline ramai.
Banyak yang penasaran seperti apa rasanya mengikuti ritual eksorsisme dengan kursi yang ikut bergerak, semburan angin, getaran, hingga efek cahaya khas 4DX.
Kenapa perilisan ini bersejarah?
Selama bertahun-tahun, format 4DX identik dengan film Hollywood seperti Avatar, John Wick, atau Final Destination. Teknologi buatan CJ 4DPLEX itu menghadirkan pengalaman sinematik dengan berbagai efek fisik seperti:
- Kursi bergerak mengikuti adegan.
- Tiupan angin.
- Getaran.
- Efek cahaya.
- Kabut, aroma, hingga percikan air di adegan tertentu.
Meski dalam sejarah global sudah ada film Indonesia yang pernah masuk daftar rilisan 4DX seperti The Raid 2, perilisan Kuasa Gelap 2 menjadi tonggak penting karena dipromosikan sebagai film Indonesia pertama yang hadir dalam format 4DX di jaringan bioskop Indonesia, bersamaan dengan format IMAX.
Horor yang memang cocok buat 4DX
Kalau melihat materi promosi dan trailer, keputusan menghadirkan versi 4DX memang terasa masuk akal.
Film ini dipenuhi adegan:
- ritual eksorsisme,
- jumpscare,
- benturan keras,
- kamera handheld yang intens,
- hingga suasana gereja yang mencekam.
Semua elemen itu berpotensi diperkuat lewat gerakan kursi dan efek lingkungan sehingga pengalaman menontonnya terasa lebih imersif dibanding layar biasa.
Sementara versi IMAX menawarkan layar lebih besar dengan tata suara yang lebih menggelegar, cocok untuk membangun atmosfer horor yang lebih menekan.
Reaksi netizen: “Akhirnya film Indonesia naik kelas”
Pengumuman versi IMAX dan 4DX langsung memicu antusiasme di media sosial. Dari berbagai unggahan promosi CGV dan akun film, komentar yang paling banyak muncul punya pola serupa.
Beberapa reaksi yang ramai dibahas antara lain:
“Ini baru wajib nyobain 4DX buat film Indonesia.”
“Kalau eksorsismenya bikin kursi ikut goyang, fix makin tegang.”
“Akhirnya film lokal dapat treatment yang biasanya buat blockbuster Hollywood.”
“Semoga ini jadi awal lebih banyak film Indonesia masuk IMAX dan 4DX.”
Ada juga yang bercanda bahwa penonton sebaiknya siap “olahraga ringan” selama menonton karena kursi 4DX terkenal aktif bergerak mengikuti adegan aksi dan horor.
Bukan sekadar gimmick Format premium seperti IMAX dan 4DX biasanya diberikan kepada film yang dinilai punya potensi pengalaman audiovisual kuat. Masuknya Kuasa Gelap 2 ke dua format ini menunjukkan bahwa studio Indonesia mulai mendapat kepercayaan lebih besar untuk bersaing di kelas presentasi premium yang selama ini didominasi film internasional. Kalau respons penonton positif, bukan tidak mungkin langkah ini membuka jalan bagi lebih banyak film horor, aksi, bahkan fantasi Indonesia untuk mendapat perilisan serupa di masa depan. Bukan cuma karena Kuasa Gelap 2 adalah sekuel dari horor populer, tetapi karena untuk pertama kalinya banyak penonton Indonesia merasa film lokal mendapat "perlakuan blockbuster". Di media sosial, pembahasan bahkan bergeser dari cerita film ke pengalaman menontonnya, dengan banyak yang penasaran apakah versi 4DX bakal membuat adegan eksorsisme terasa lebih menyeramkan daripada sekadar jumpscare biasa.





































