FFI 2026 Buka Masterclass
Festival Film Indonesia mulai 19 September 2026 Mengiringi tema “Askala Karya Sinema Indonesia”
dengan semangat untuk terus merayakan, mempertemukan, sekaligus memperluas pengetahuan tentang sinema Indonesia, Festival Film Indonesia (FFI) merilis program Masterclass, sebuah program edukasi yang menghadirkan pengalaman dan pengetahuan langsung dari para praktisi film Indonesia.
Program ini sudah dapat diakses mulai 19 September 2026, diunggah secara berkala setiap minggunya melalui kanal YouTube FFI. Akses terhadap program ini bersifat terbuka dan gratis, sesuai visi FFI 2026 yang ingin membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat yang ingin belajar tentang perfilman.
Para mentor Masterclass dipilih berdasarkan pengalaman mereka dalam produksi film nasional serta kontribusi yang telah diberikan terhadap perkembangan industri perfilman Indonesia.
Terdapat 7 orang mentor dengan kepakaran yang berbeda-beda. Keberagaman bidang tersebut membuat Masterclass FFI menjadi ruang untuk melihat proses pembuatan film dari berbagai perspektif, sehingga bisa memberikan pengetahuan yang lengkap mengenai bidang-bidang profesi perfilman.
Siapa saja mentor tersebut?
Mari kita intip bersama!
1. Rukman Rosadi — Aktor | Masterclass
Pemeranan Rukman Rosadi adalah aktor Indonesia yang memulai perjalanan aktingnya melalui dunia teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebelum terjun ke perfilman lewat Marsinah pada 2000. Selain aktif sebagai aktor, ia juga mendirikan Saturday Acting Club, sebuah ruang yang berkaitan dengan pembelajaran dan pengembangan kemampuan akting. Salah satu penampilan yang menjadi tonggak penting dalam karier filmnya adalah perannya sebagai Agus Santoso dalam Inang (2022), yang membawanya masuk Nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik FFI 2022. Rukman juga tampil dalam sejumlah film penting seperti Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan 13 Bom di Jakarta, menunjukkan pengalaman aktingnya dalam karakter dan genre yang beragam. Masterclass Pemeranan sudah tayang di YouTube FFI sejak 19 September 2026 (Part 1) dan 20 September 2026 (Part 2).
2. Joko Anwar — Sutradara | Masterclass Penyutradaraan
Joko Anwar adalah sutradara, penulis skenario, dan produser film Indonesia yang sebelumnya berkarir sebagai wartawan dan kritikus film sebelum sepenuhnya menekuni dunia perfilman. Ia dikenal melalui karya-karya seperti Janji Joni, Kala, Pintu Terlarang, Pengabdi Setan, Gundala, dan dua karya terbarunya yang menarik perhatian publik: Pengepungan Di Bukit Duri (2025) yang meraih Piala Citra FFI 2025 kategori Penata Efek Visual Terbaik, Penata Rias Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penata Musik, dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik; dan Ghost In The Cell (2026). Salah satu tonggak penting dalam kariernya adalah Pengabdi Setan (2017), yang tidak hanya menjadi salah satu film horor Indonesia yang sangat dikenal luas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana genre horor dapat dikembangkan dengan pendekatan penyutradaraan yang kuat dan berakar pada konteks sinema Indonesia.
3. Aktris Handradjasa — Penata Rias | Masterclass Tata Rias
Aktris Handradjasa merupakan salah satu penata rias yang telah lama berkontribusi dalam produksi film Indonesia, dengan pengalaman menggarap kebutuhan tata rias untuk berbagai karakter dan latar cerita. Ia mendapatkan nominasi Penata Rias Terbaik FFI sejak 2020 dan kemudian memenangkan Piala Citra Penata Rias Terbaik FFI 2023 melalui Sri Asih. Sebelumnya, ia juga dipercaya menangani tata rias Habibie & Ainun 3, yang membutuhkan pendekatan visual untuk menghadirkan karakter dalam latar waktu dan fase kehidupan yang berbeda. Pengalamannya menunjukkan bahwa tata rias dalam film bukan sekadar membuat pemain terlihat sesuai karakter, tapi menjadi bagian penting dalam membangun dunia, periode waktu, dan identitas tokoh di layar.
4. Hagai Pakan — Penata Busana | Masterclass Tata Busana
Hagai Pakan, yang juga dikenal sebagai Hagai Palolo Pakan, merupakan penata kostum yang telah mengerjakan berbagai produksi film Indonesia, di antaranya La Tahzan, Trinity, the Nekad Traveler, Koki-Koki Cilik, Anak Garuda, Abracadabra, Doremi & You, Yuni, dan Losmen Bu Broto. Salah satu karya yang menonjol dalam perjalanan karirnya adalah Abracadabra (2019), yang membawanya meraih Piala Citra FFI 2020 kategori Penata Busana Terbaik. Pada FFI 2025, ia bahkan masuk ke dua nominasi sekaligus untuk kategori Penata Busana Terbaik melalui film Gowok: Kamasutra Jawa (2025) dan Panggil Aku Ayah (2025). Rekam jejak tersebut menunjukkan luasnya peran penata busana dalam membentuk karakter sekaligus membantu membangun identitas visual sebuah film.
5. Hendra Adhi Susanto — Penyunting Gambar | Masterclass Penyuntingan Gambar
Hendra Adhi Susanto adalah penyunting gambar yang telah terlibat dalam berbagai film populer Indonesia dan mulai berkarier sebagai asisten editor sebelum dipercaya menjadi editor. Salah satu karyanya yang baru-baru ini mencuri perhatian publik adalah Sore Istri Dari Masa Depan yang membawanya menjadi peraih Piala Citra FFI 2025 kategori Penyunting Gambar Terbaik. Hendra juga dikenal melalui film-film seperti Mencuri Raden Saleh, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dan 13 Bom di Jakarta, memperlihatkan pengalaman lintas genre dalam mengolah materi gambar menjadi cerita yang utuh.
6. Tumpal Tampubolon — Penulis Skenario | Masterclass Penulisan Skenario
Tumpal Tampubolon merupakan penulis skenario dan sineas lulusan Matematika Institut Teknologi Bandung yang mulai menulis film pendek dan film panjang sejak 2011. Namanya mendapat pengakuan penting di Festival Film Indonesia ketika memenangkan Piala Citra FFI 2014 kategori Penulis Skenario Asli Terbaik melalui Tabula Rasa (2014), film yang mengangkat relasi manusia, makanan, identitas, dan kehidupan para perantau dengan latar dunia kuliner. Pengalaman Tumpal dalam menulis film kemudian berkembang ke berbagai karya dan juga penyutradaraan, menjadikannya sosok yang menarik untuk membicarakan bagaimana ide dan karakter dibangun sejak tahap paling awal sebuah produksi film.
7. Faozan Rizal — Sinematografer | Masterclass Sinematografi
Faozan Rizal adalah sinematografer, sutradara, aktor, sekaligus pengajar di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia menempuh pendidikan film di La Fémis, Paris, setelah sebelumnya mempelajari seni lukis dan tari Jawa klasik serta Bali. Sebagai penata kamera, Faozan terlibat dalam sejumlah film penting Indonesia, termasuk Ayat-Ayat Cinta (2008), Doa yang Mengancam, Get Married, dan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta.
Sementara sebagai sutradara, ia dikenal antara lain melalui Abracadabra (2019), sebuah karya yang juga membawanya mendapat Nominasi Sutradara Terbaik FFI 2020.
Pengalamannya memperlihatkan bagaimana sinematografi tidak hanya berurusan dengan “gambar yang indah”, tetapi juga bagaimana kamera dan bahasa visual dapat membangun suasana, karakter, serta dunia sebuah film. Buat para calon sineas, mahasiswa, pelajar, pekerja kreatif, sampai penonton film yang penasaran dengan proses di balik sebuah film atau bahkan memiliki keinginan untuk terjun ke industri perfilman, program ini dapat menjadi salah satu pintu untuk mengenal proses kreatif di balik layar. Jangan lewatkan kesempatannya, mulai 19 September 2026.






































