• Latest
3 Alasan Ibuku My Mother Jadi Film Indonesia yang Wajib Kamu Pantau di Busan 2026

3 Alasan Ibuku (My Mother) Jadi Film Indonesia yang Wajib Kamu Pantau di Busan 2026

15 September, 2026
FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

27 October, 2026
Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

26 October, 2026
kinki

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

22 October, 2026
Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

22 October, 2026
Main Belakang

Review Main Belakang: Berawal dari Lapangan Padel, Perselingkuhan Ini Malah Menyeret Dua Pasangan!

22 October, 2026
https://nutylaraswaty.com/review-beware-boiuna/

Review Beware BOIÚNA

21 October, 2026
Film Perayaan Pertama

Perayaan Pertama sebagai Film Drama Keluarga dengan Potensi Festival Sekaligus Peluang Menjangkau Penonton Bioskop Umum.

16 October, 2026
E:\Downloads\ROK Mission to ASEAN.png

Reawakened Man: Premis Menarik, tetapi Kok Terasa Familiar?

15 October, 2026
bandit

Bandit Pulang ke Indonesia Setelah Berkeliling Festival Dunia, Aku Ikut Senang sekaligus Penasaran

15 October, 2026
Review Hasut

Review Hasut: Ilya Sigma Buktikan Horor Tak Butuh Hantu untuk Membuat Penonton Ketakutan

14 October, 2026
Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

14 October, 2026
Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

8 October, 2026
Little Blue and Little Yellow

Little Blue and Little Yellow Hadir di Indonesia, Bawa Cerita Persahabatan dan Penerimaan untuk Semua Usia

8 October, 2026
digger nuty laraswaty

Tom Cruise Tidak Berlari di Digger, Tapi Justru Itu yang Membuat Film Ini Menarik

8 October, 2026

Jakarta World Cinema 2026 Bawa Pemenang Cannes, Venice dan Berlinale Sekaligus, Ada Fjord hingga Inherit

8 October, 2026
Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

8 October, 2026
Review Verity: Makin Dibaca, Makin Bingung Siapa yang Bohong

Review Verity 2026: Anne Hathaway dan Dakota Johnson Bikin Kita Bingung Siapa yang Sebenarnya Gila

8 October, 2026
Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

8 October, 2026
Teaser Trailer Empat Musim Pertiwi Penuh Teka Teki

Setelah Nonton Empat Musim Pertiwi: Ketika Rumah, Keluarga, dan Indonesia Terasa Begitu Dekat

5 October, 2026
Niken di Beautiful Pain

Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

5 October, 2026
TAZZA: THE SONG OF BEELZEBUB

Tazza 4 The Song of Beelzebub: Ketika Sahabat Jadi Musuh, Byun Yo Han dan Roh Jae Won Bertaruh Segalanya

2 October, 2026
Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

30 September, 2026
Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

30 September, 2026
Kuasa gelap 2

Nonton Screening Kuasa Gelap Perjanjian Darah di IMAX

29 September, 2026
Kuasa gelap 2

Kuasa Gelap 2 Pecah Rekor, Jadi Film Indonesia Pertama yang Tayang di IMAX dan 4DX

25 September, 2026
Ghost in the Cell

Gila Banget, Ghost in the Cell Kalahin Film Horor Dunia dan Juara di Amerika

24 September, 2026
Jakarta Film Week 2026

Jakarta Film Week 2026 Resmi Dibuka, Ada Premiere Film Indonesia Sampai Jalan ke Cannes

24 September, 2026
Review Hasut: Horor Indonesia yang Membuktikan Suara Lebih Menyeramkan Daripada Hantu.

Review Hasut: Horor Indonesia yang Membuktikan Suara Lebih Menyeramkan Daripada Hantu.

24 September, 2026
Laraswaty
  • Movie Review
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner
No Result
View All Result
Laraswaty
No Result
View All Result
Advertisement Banner
ADVERTISEMENT
Home Movie Review Article
3 Alasan Ibuku My Mother Jadi Film Indonesia yang Wajib Kamu Pantau di Busan 2026

3 Alasan Ibuku (My Mother) Jadi Film Indonesia yang Wajib Kamu Pantau di Busan 2026

by Nuty Laraswaty
15 September, 2026
in Article, Drama
242 13
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sembilan tahun dikembangkan, memakai kamera seluloid 16mm yang semakin langka, dan akhirnya masuk kompetisi utama Busan International Film Festival.

Film Indonesia Ibuku (My Mother) karya sutradara Eddie Cahyono sedang membawa cerita yang sangat personal ke panggung internasional.

Film produksi bersama Indonesia dan Jepang ini resmi terpilih dalam program Competition di Busan International Film Festival 2026.

Bukan sekadar tayang.

Ibuku (My Mother) akan menjalani world premiere dan bersaing dengan 13 film lain dari berbagai negara Asia.

BIFF ke 31 sendiri berlangsung pada 6 sampai 15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan.

Lalu apa yang membuat film ini menarik?

Ada setidaknya tiga alasan.

1. Film Ini Butuh 9 Tahun untuk Sampai ke Busan

Kalau sebuah film butuh sembilan tahun untuk akhirnya bertemu penonton, apakah itu terlalu lama?

Untuk Ibuku (My Mother), jawabannya mungkin justru tidak.

Cerita film ini pertama kali dikembangkan Eddie Cahyono pada 2015.

Saat itu proyeknya sudah mendapat perhatian di Busan melalui Asian Project Market dan bahkan meraih ARTE Kino International Award, sebuah penghargaan yang membantu pengembangan proyek film.

Namun perjalanan menuju produksi masih panjang.

Film ini baru mendapatkan lampu hijau produksi pada 2024.

Di tahun yang sama, Tika Bravani bergabung sebagai produser melalui ANP Talenta Media.

Proyek ini kemudian kembali dibawa ke berbagai pasar industri, termasuk JAFF Market dan Bangkok International Content Market.

Dari perjalanan tersebut, film mendapatkan tambahan pendanaan sekaligus penghargaan.

Jadi ketika akhirnya Ibuku masuk kompetisi utama Busan 2026, perjalanan itu bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam.

Film ini benar benar tumbuh selama hampir satu dekade.

2. Nekat Menggunakan Seluloid 16mm di Era Digital

Ini mungkin bagian paling menarik dari proses produksi Ibuku.

Ketika sebagian besar produksi film saat ini sudah sangat nyaman dengan kamera digital, Eddie Cahyono justru memilih menggunakan seluloid 16mm.

Dan ini bukan keputusan yang mudah.

Kamera analog semakin sulit ditemukan.

Stok film harus dipesan jauh hari.

Biaya produksi menjadi lebih tinggi.

Ada juga risiko teknis karena hasil rekaman tidak bisa langsung dilihat seperti ketika menggunakan kamera digital.

Tika Bravani bahkan mengungkapkan bahwa Eddie sangat bersikeras dengan pilihan tersebut.

“Kalau pakai digital, mendingan enggak usah dibuat.”

Bagi Eddie, seluloid bukan sekadar gaya visual.

Format tersebut berkaitan dengan cara film ini berbicara tentang ingatan dan memori manusia.

Memori tidak selalu tajam.

Ada bagian yang jelas.

Ada bagian yang samar.

Ada bagian yang mungkin sudah berubah ketika kita mencoba mengingatnya kembali.

Karakter visual seluloid dianggap mampu menerjemahkan perasaan tersebut ke dalam gambar.

Yang menarik, proses produksi film ini juga terbantu dengan hadirnya fasilitas pemrosesan film analog di Movie Studio Bali.

Sebelumnya, proses seperti ini harus dilakukan dengan mengirim rol film ke luar negeri, termasuk Jepang atau Taiwan.

Ibuku (My Mother) menjadi salah satu film panjang awal yang diproses secara penuh melalui fasilitas tersebut.

Jadi secara teknis, film ini bukan hanya bercerita tentang masa lalu.

Cara film ini dibuat juga seperti sedang menghidupkan kembali teknologi masa lalu.

3. Cerita Ibu dan Anak yang Personal Tapi Isunya Universal

Di balik eksperimen visual dan perjalanan festivalnya, sebenarnya Ibuku (My Mother) punya cerita yang sangat sederhana.

Tentang seorang ibu.

Tentang seorang anak.

Dan tentang hubungan yang mungkin tidak selalu baik baik saja.

Film ini mengikuti Sumiati, diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berusaha menemui anaknya, Sri, yang diperankan Ayushita.

Sri sedang menjalani hukuman mati di penjara Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya.

Sumiati kemudian melakukan perjalanan untuk bertemu dengan anaknya.

Namun semakin dekat dengan pertemuan tersebut, luka lama antara ibu dan anak perlahan terbuka.

Dari sini film berkembang menjadi cerita tentang keluarga, buruh migran, perempuan, hak asasi manusia, rasa bersalah, dan cinta seorang ibu yang tidak pernah benar benar hilang.

Dan mungkin inilah alasan kenapa judulnya begitu sederhana.

Ibuku.

Karena pada akhirnya, cerita ini bukan cuma tentang isu besar.

Ini tentang seseorang yang tetap memilih datang ketika anaknya sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya.

Christine Hakim Jadi Fondasi Film

Bagi Eddie Cahyono, kehadiran Christine Hakim bukan sekadar pilihan casting.

Sang sutradara disebut hanya ingin membuat film ini jika karakter Sumiati dimainkan oleh aktris senior tersebut.

Masalahnya?

Jadwal Christine Hakim sangat padat.

Pada tahun produksi, ia terlibat dalam beberapa proyek film lain.

Bagi Tika Bravani yang baru pertama kali menjadi produser, mendapatkan jadwal Christine menjadi salah satu tantangan besar.

Namun akhirnya kesepakatan lama antara Eddie dan Christine untuk bekerja sama bisa diwujudkan melalui Ibuku (My Mother).

Selain Christine Hakim dan Ayushita, film ini juga menghadirkan aktor senior Landung Simatupang.

Dari Aktris Menjadi Produser

Ada cerita lain yang tidak kalah menarik.

Ibuku (My Mother) merupakan proyek pertama Tika Bravani sebagai produser.

Sebelumnya, nama Tika lebih dikenal sebagai aktris.

Kini ia berada di sisi lain proses produksi.

Dan tentu saja, menjadi produser film festival dengan proses produksi yang cukup kompleks bukan pekerjaan sederhana.

Tika mengaku banyak belajar dari Eddie Cahyono selama produksi.

Latar belakang dan pengalaman mereka berbeda.

Eddie sudah memiliki pengalaman panjang dalam festival internasional, sementara Tika baru memulai perjalanan sebagai produser.

Untungnya, Eddie juga memiliki latar belakang sebagai dosen.

Hal tersebut membuat proses kolaborasi menjadi ruang belajar bagi Tika.

Bahkan Ayushita sebagai pemeran Sri juga ikut memberikan dukungan kepada Tika selama proses produksi.

Busan 2026 Jadi Momen Besar untuk Film Indonesia

Kehadiran Ibuku (My Mother) di Busan semakin menarik karena film ini bukan satu satunya wakil Indonesia.

Ada Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) karya Yosep Anggi Noen yang juga berkompetisi dalam program Competition.

Kemudian ada Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini dalam program A Window on Asian Cinema.

Sementara film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta juga masuk dalam seleksi BIFF 2026.

Menariknya lagi, Christine Hakim tampil dalam tiga dari empat film Indonesia yang masuk seleksi BIFF tahun ini.

Ini membuat kehadiran Indonesia di Busan 2026 terasa semakin kuat.

Busan 2026 Juga Punya Status Baru

Ada alasan lain mengapa BIFF tahun ini menjadi penting.

Festival Film Internasional Busan 2026 menjadi salah satu edisi bersejarah karena festival tersebut baru saja mendapatkan pengakuan status A List dari FIAPF, Federasi Internasional Asosiasi Produser Film.

Status ini sebelumnya hanya diberikan kepada lima festival lain, yaitu Cannes, Berlin, Venice, Sundance, dan Toronto.

Jadi ketika Ibuku (My Mother) masuk kompetisi utama pada tahun penting bagi Busan, konteksnya menjadi semakin besar.

Film Indonesia ini bukan hanya datang ke festival Asia.

Ia datang ke salah satu panggung festival yang semakin diperhitungkan di dunia.

Jadi, Kenapa Ibuku My Mother Layak Ditunggu?

Karena film ini punya kombinasi yang cukup unik.

Ada perjalanan produksi selama hampir satu dekade.

Ada keberanian menggunakan seluloid 16mm ketika teknologi digital sudah menjadi standar.

Ada debut Tika Bravani sebagai produser.

Ada Eddie Cahyono dengan pengalaman festivalnya.

Ada Christine Hakim dan Ayushita sebagai ibu dan anak.

Dan yang paling penting, ada cerita tentang hubungan manusia yang sebenarnya sangat sederhana.

Seorang ibu ingin bertemu anaknya.

Tetapi di balik perjalanan itu ada luka, rasa bersalah, ketidakadilan, dan pertanyaan tentang seberapa jauh seorang ibu akan pergi demi anaknya.

Mungkin itu yang membuat cerita ini bisa terasa dekat meskipun latarnya berada jauh dari Indonesia.

Karena di mana pun kita tinggal, ada satu hal yang sulit dibantah.

Hubungan ibu dan anak bisa rumit, tetapi rasa sayang sering kali punya cara sendiri untuk bertahan.

Ibuku (My Mother) akan menjalani world premiere di Busan International Film Festival 2026 dan bersaing dalam program Competition pada 6 sampai 15 Oktober 2026.

Film ini bukan cuma membawa nama Indonesia ke Busan.

Film ini membawa satu pertanyaan yang sangat manusiawi ke sana: seberapa jauh seorang ibu akan pergi untuk anaknya?

 

Penulis Anya

 

Tags: BIFF2026ChristineHakimEddieCahyonoIbukuMyMother
Previous Post

Khadam Bukan Lagi Penjaga, Tapi Malah Mau Merebut Hidupmu!

Next Post

Trailer Beautiful Pain Bukan Cuma Bikin Emosi, Tapi Ngajak Penonton Ikut Merasakan Lukanya

Nuty Laraswaty

Nuty Laraswaty

Related Posts

kinki
Article

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)
Drama

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami
Article

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

22 October, 2026
Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa
Drama

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

22 October, 2026
Main Belakang
Article

Review Main Belakang: Berawal dari Lapangan Padel, Perselingkuhan Ini Malah Menyeret Dua Pasangan!

22 October, 2026
Review Hasut
Article

Review Hasut: Ilya Sigma Buktikan Horor Tak Butuh Hantu untuk Membuat Penonton Ketakutan

14 October, 2026
Next Post
Film 'Beautiful Pain' Rilis Official Poster dan Trailer,

Trailer Beautiful Pain Bukan Cuma Bikin Emosi, Tapi Ngajak Penonton Ikut Merasakan Lukanya

Bisikan Desa Gringsing

Sudah Nonton Saat Screening, Ini Reaksi Penonton untuk Bisikan Desa Gringsing: Bikin Merinding atau Malah Bikin Penasaran?

iQIYI Bawa Series ‘Dalam Suka dan Dusta

Bocoran Seru dari “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya: iQIYI Bawa Series ‘Dalam Suka dan Dusta

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!
Movie Review

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

by Nuty Laraswaty
27 October, 2026
0

Bukan soal festival mana yang paling benar. FFW 2026 membuka obrolan baru tentang bagaimana film Indonesia bisa diapresiasi tanpa harus...

Read more

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

Review Hungry (2026)

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

Laraswaty

Copyright@2025

  • About
  • Contact
  • Privacy Policy

No Result
View All Result
  • Movie Review
    • Action
    • Comedy
    • Drama
    • Superhero
    • Sci-fi
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner

Copyright@2025

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In