Prima della Guerra Sabet Film Terbaik
Film tentang toxic masculinity, AI, arsip keluarga, hingga kehidupan komunitas LGBTQIA+ meramaikan daftar pemenang Venice International Film Critics’ Week 2026.
Apa jadinya kalau sebuah festival film tidak hanya mencari film yang bagus, tetapi juga film yang punya sesuatu untuk dikatakan tentang dunia hari ini?
Jawabannya terlihat dalam daftar pemenang Venice International Film Critics’ Week 2026.
Edisi ke-41 ajang yang menjadi bagian independen dan paralel dari Venice International Film Festival ini resmi mengumumkan para pemenangnya. Tahun ini, film dari berbagai negara membawa isu yang cukup beragam, mulai dari maskulinitas toksik, kesenjangan sosial, krisis lingkungan, kecerdasan buatan, sampai identitas dan kehidupan LGBTQIA+.
Dan film yang akhirnya membawa pulang penghargaan utama adalah Prima della guerra karya Tommaso Usberti.
Prima della guerra Jadi Film Terbaik
Penghargaan IWONDERFULL Grand Prize for Best Film diberikan kepada Prima della guerra, film Italia produksi bersama Prancis.
Film ini bercerita tentang Guido, pemuda berusia sekitar 20 tahun yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan dan rasisme di kawasan Po Valley, Italia.
Hidup Guido kemudian berubah ketika ia bertemu Sonia, seorang imigran muda asal Kosovo.
Dari pertemuan tersebut, film berkembang menjadi refleksi mengenai maskulinitas kontemporer, keinginan yang sulit diwujudkan dan kesepian seseorang.
Juri memberikan penghargaan karena penyutradaraan Tommaso Usberti dinilai intens dan penuh energi, dengan penggunaan mise en scène, tubuh, wajah, gestur, suara dan musik yang menciptakan ketegangan fisik.
Yang menarik, juri juga menilai film ini mampu membicarakan toxic masculinity, impossible desire dan kesepian manusia dengan pendekatan sinematik yang kuat.
Jadi, ini bukan sekadar cerita coming of age.
Film ini mencoba melihat bagaimana lingkungan dapat membentuk seorang laki laki muda dan bagaimana kekerasan serta prasangka bisa memengaruhi cara seseorang memahami dirinya sendiri.
Bukan Cuma Menang Film Terbaik
Prima della guerra ternyata tidak berhenti di penghargaan utama.
Film tersebut juga meraih Luciano Sovena Award for Best Producer.
Juri menilai film ini berhasil menggambarkan Italia dari sudut pandang mereka yang hidup di pinggiran masyarakat, dengan mempertemukan realisme dan elemen magis, kekerasan dan kelembutan, romantisme dan rasisme.
Dengan kata lain, kekuatan film ini bukan hanya berada di depan kamera.
Cara film tersebut diproduksi juga dianggap berhasil mencerminkan semangat penghargaan yang diberikan untuk mengenang Luciano Sovena.
Our Share of Sand Dipilih Penonton
Kalau penghargaan utama berasal dari keputusan juri, ada satu film yang justru mendapatkan cinta langsung dari penonton.
Our Share of Sand karya Shalini Adnani memenangkan Audience Award.
Film ini merupakan drama keluarga yang berkembang menjadi refleksi tentang ketimpangan sosial dan krisis lingkungan.
Menariknya, kemenangan ini menunjukkan bahwa film yang mengangkat isu sosial tidak harus selalu terasa seperti film yang berat.
Ketika cerita keluarga mampu membuat penonton merasa dekat dengan persoalan yang lebih besar, isu seperti kesenjangan dan lingkungan bisa terasa jauh lebih personal.
The End of Times Menggabungkan VHS dan AI
Salah satu film yang paling menarik secara konsep adalah The End of Times karya Bibiana Rojas Gómez dan Juan David Cárdenas Maldonado.
Film ini memenangkan Mario Serandrei Hotel Saturnia Award for Best Technical Contribution.
Kenapa?
Karena film tersebut menggunakan editing sebagai cara untuk memperluas cerita dan mempertemukan dua dunia teknologi.
VHS dan AI.
Dalam ceritanya, Salomé menggunakan kecerdasan buatan untuk melihat kembali rekaman video keluarga selama beberapa dekade demi memahami kesedihan ibunya.
Namun pencarian tersebut justru membawanya menemukan masa lalu yang berkaitan dengan eksploitasi dan kekerasan dalam sejarah Kolombia dan Amerika Latin.
Jadi AI di sini bukan cuma gimmick teknologi.
AI menjadi alat untuk menggali ingatan.
Dan semakin dalam Salomé mencari, semakin rumit pula hubungan antara arsip keluarga, memori dan kenyataan.
Film yang sama juga mendapatkan Special Mention dari IWONDERFULL Grand Prize.
Juri menggambarkan pengalaman menontonnya sebagai sesuatu yang tidak biasa karena arsip keluarga diperlakukan bukan sekadar sebagai dokumen sejarah, tetapi sebagai materi yang bisa dibentuk kembali secara bebas dan imajinatif.
Zoom In, Zoom Out Bicara soal Generasi Digital
Penghargaan Circolo del Cinema di Verona Award untuk film paling inovatif diberikan kepada Zoom In, Zoom Out karya Dong Jie.
Film ini dianggap berhasil menggambarkan dunia ketika realitas dan dunia virtual semakin sulit dipisahkan.
Hubungan manusia juga ikut berubah.
Ada koneksi.
Ada disconnect.
Ada teknologi.
Ada ketakutan.
Dan ada emosi manusia yang semuanya disampaikan melalui medium digital.
Juri melihat film ini sebagai refleksi tentang post digital existence sebuah generasi.
Dengan kata lain, teknologi bukan lagi sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia.
Teknologi sudah menjadi bagian dari cara manusia berteman, mencintai, takut, bahkan memahami dirinya sendiri.
E-I-E-I-O Menang Film Pendek Terbaik
Untuk kompetisi film pendek dalam program SIC@SIC, penghargaan Best Short Film Award diberikan kepada E-I-E-I-O karya Noemi Arfuso.
Premisnya cukup unik.
Dua entitas sintetis sedang menjalankan misi untuk memusnahkan manusia.
Mereka memantau perkembangan rencana tersebut melalui jaringan kamera pengawas.
Semuanya tampak berjalan sesuai rencana.
Sampai akhirnya muncul pemberontakan.
Juri memberikan penghargaan karena film ini mampu membahas persoalan masa kini dengan cara yang ironis sekaligus tajam, terutama tentang kemungkinan ketika tubuh manusia menghilang dan alam mengambil alih.
Film Horor Ini Mendapat Special Mention
Ada juga Dove le lacrime aspettano karya Caterina Bertini dan Blu Diego Fasoli yang mendapatkan Special Mention.
Ceritanya sederhana tetapi punya potensi bikin penonton ikut tegang.
Tiga saudara, Zoe, Ettore dan Marta, pulang ke rumah tetapi tidak menemukan ibu mereka.
Karena kesalahan kecil Zoe, mereka malah terkunci di luar rumah.
Mereka kemudian harus melewati malam dalam kegelapan sambil menghadapi suara suara aneh dan ketakutan mereka sendiri.
Yang menarik, sumber ketakutannya bukan cuma sesuatu yang ada di luar.
Tetapi juga imajinasi mereka sendiri.
Revolver Menang Sutradara Terbaik
Penghargaan Best Director Award untuk film pendek diberikan kepada Revolver karya Paoli De Luca.
Film ini berlatar sebuah klub techno di Naples dan mengikuti Ronga, seorang trans go go dancer yang menari di dalam sangkar besi.
Di tengah dunia malam yang penuh hierarki dan permainan kekuasaan, Ronga berjuang mempertahankan martabatnya.
Juri memuji bagaimana tubuh, cahaya dan materi bergerak bersama musik techno untuk menciptakan gambaran mengenai permainan kekuasaan.
Se mai le cose Bicara tentang Barang yang Ditinggalkan
Se mai le cose karya Giulia Cosentino meraih dua penghargaan sekaligus.
Film ini mendapatkan Best Technical Contribution Award dan Centro Nazionale del Cortometraggio Award.
Film tersebut menggunakan benda benda di dalam rumah sebagai saksi sebuah hubungan.
Bukan karena benda itu mahal.
Tetapi karena benda bisa menyimpan kenangan.
Foto, arsip, ruang dan berbagai barang yang ditinggalkan menjadi cara film membicarakan perpisahan, perubahan, kebebasan perempuan dan identitas.
Juri melihat film ini sebagai karya yang personal tentang bagaimana manusia memberikan makna emosional pada benda benda sederhana di sekitarnya.
London Raih Queer Lion 2026
Sementara itu, London, debut film panjang karya filmmaker Brasil Victor Di Marco dan Márcio Picoli, memenangkan penghargaan Queer Lion 2026 secara ex aequo.
Queer Lion merupakan penghargaan kolateral resmi Venice International Film Festival yang diberikan kepada film yang mengangkat tema LGBTQIA+.
Penghargaan ini telah diberikan sejak 2007 dan bertujuan memberikan perhatian kepada film yang membahas keberagaman, identitas gender serta orientasi seksual melalui pendekatan artistik.
Venice Critics’ Week 2026 Bukan Sekadar Festival Film
Kalau melihat daftar pemenangnya, ada satu hal yang terasa cukup jelas.
Film film yang mendapatkan perhatian tahun ini punya keberanian untuk membicarakan dunia yang sedang kita jalani sekarang.
Toxic masculinity.
Rasisme.
Kesenjangan.
Krisis lingkungan.
AI.
Memori keluarga.
Kehidupan digital.
Identitas gender.
Dan kebebasan manusia.
Itulah yang membuat Venice International Film Critics’ Week 2026 menarik.
Festival ini bukan kompetisi yang sekadar mencari film dengan produksi paling besar.
Justru film film debut dan karya yang berani bereksperimen menjadi pusat perhatian.
Edisi ke-41 ini menghadirkan tujuh film panjang debut dalam kompetisi dan dua acara khusus di luar kompetisi, semuanya world premiere, dengan seleksi yang mencakup empat benua.
Dan mungkin ini yang paling menarik.
Film bagus tidak selalu datang dengan cerita yang aman.
Kadang film yang paling membekas justru film yang membuat kita tidak nyaman, mempertanyakan sesuatu atau melihat dunia dari perspektif yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.
Itulah yang coba dilakukan para pemenang Venice International Film Critics’ Week 2026.





































