Insidious: Out of the Further membuktikan satu hal. Waralaba horor yang dimulai James Wan pada 2010 ternyata belum kehabisan cara untuk bikin penonton menoleh ke belakang setelah lampu bioskop menyala.
Kalau selama ini keluarga Lambert jadi wajah utama Insidious, film keenam ini resmi menyerahkan tongkat estafet kepada keluarga Hall. Hasilnya bukan sekadar ganti karakter, tetapi membuka level ancaman baru di dunia The Further yang selama ini jadi mimpi buruk para penggemarnya.

Dari Lambert ke Hall, Insidious Resmi Punya Generasi Baru
Disutradarai Jacob Chase, film ini tetap mempertahankan DNA khas Insidious. Red Door masih menjadi gerbang menuju The Further, Elise Rainier tetap menjadi sosok penting, dan atmosfer mencekam masih terasa sejak awal.
Bedanya, kini fokus cerita berpindah ke Gemma Hall dan Maya Hall, ibu dan anak yang ternyata bukan hanya mampu melakukan proyeksi astral, tetapi juga memiliki kemampuan sebagai Shifter atau Pemindah.
Kemampuan ini jauh lebih mengerikan karena mereka bisa membawa penghuni The Further masuk ke dunia nyata. Di titik ini, ceritanya langsung terasa naik kelas dibanding era Josh dan Dalton Lambert.
Salah satu keseruan terbesar film ini adalah kembalinya para entitas ikonik yang sudah melekat dengan franchise ini.
The Lipstick Face Demon muncul lagi dengan aura yang tetap mengganggu. KeyFace masih terasa menyeramkan. The Wheezing Demon kembali menghidupkan rasa tidak nyaman setiap kali muncul di layar.
Belum lagi roh roh seperti Parker Crane, The Ghoul, hingga Cyrus yang membuat The Further terasa semakin padat dengan sejarah panjang franchise ini.
Buat penggemar lama, kemunculan mereka seperti reuni horor yang penuh nostalgia. Buat penonton baru, ini jadi pengenalan bahwa dunia Insidious ternyata jauh lebih luas daripada sekadar rumah berhantu.
Kalau kamu datang berharap setiap lima menit bakal lompat dari kursi, mungkin ritmenya terasa berbeda.
Jacob Chase memilih membangun cerita lebih pelan dengan memberi ruang pada drama keluarga Hall. Formula ini sebenarnya masih mengikuti pola keluarga Lambert sebelumnya, hanya saja kali ini porsinya terasa lebih besar.
Menurut saya, keputusan ini masuk akal karena film ini memang berfungsi sebagai pembuka era baru.
Mereka sedang memperkenalkan karakter, aturan baru, sekaligus ancaman baru sebelum membawa ceritanya ke level berikutnya.
Sayangnya, ritme yang lebih tenang membuat beberapa bagian terasa lamban sekali dan ini mengecewakan penonton yang harapkan kejutan yang terus menerus.
Penulis Anya



































