Sebuah film yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai tanggal 27 Agustus 2026 berjudul Operasi Pesta Copet , sejak awal sudah memberikan gambaran bahwa film ini bukan sekadar menawarkan aksi pencopetan yang mengundang tawa.
Sinopsis singkat
Konser musik demi konser musik, aksi mereka berhasil dilakukan dengan mulus. Namun ketika Operasi Pesta Copet dimulai, keadaan perlahan berubah menjadi semakin rumit. Ini saat penyelenggara sudah lebih waspada dan bahkan memasang foto Ijal.
Mau tidak mau, Ijal harus menyamar. Di tengah persiapan itu, datanglah Silet yang baru saja bebas dari penjara dengan membawa ilmu-ilmu baru yang didapatkannya selama berada di sana.
Tia tentu saja marah dengan kehadiran Silet. Tetapi Ijal berhasil meredam keadaan sehingga mereka kembali menjadi satu kelompok.
Hari pertama berjalan mulus.
Namun hari kedua menjadi awal dari masalah besar ketika Silet tertangkap. Dalam proses interogasi, jaringan mereka terbongkar. Foto keempat copet inipun akhirnya diketahui.
Disinilah muncul satu pertanyaan penting.
Berhenti atau terus?
Sebenarnya mereka sudah memiliki kesempatan untuk berhenti. Tetapi keserakahan akan uang dan keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik membuat mereka memilih untuk terus melakukan aksinya.
Keputusan inilah yang kemudian membawa mereka menuju kesialan demi kesialan.
Pada hari ketiga, setelah banyak keluhan dari penonton, penyelenggara menambah petugas keamanan untuk mengawasi CCTV.
Kesialan pertama terjadi ketika hasil copetan Ijal dan Adul yang disembunyikan di tempat sampah justru disingkirkan oleh petugas kebersihan lain. Padahal Melodi sedang menyamar sebagai petugas kebersihan untuk masuk ke toilet.
Belum selesai sampai disitu.
Adul dan Tia yang sedang menikmati pertunjukan Rhoma Irama ternyata sudah menjadi target penangkapan.
Lalu bagaimana nasib keempatnya?
Apakah mereka akhirnya tertangkap atau justru berhasil lolos?
Jawabannya dapat disaksikan di bioskop mulai 27 Agustus 2026.
Review singkat
Namun bagi saya, kekuatan Pesta Pora justru tidak berhenti pada pertanyaan apakah aksi pencopetan mereka berhasil atau gagal?
Keluar dari bioskop, kita justru diajak merasakan kepedihan golongan kecil yang hidup dalam kemiskinan.
Kesulitan hidup inilah yang membuat mereka berani melakukan pencopetan.
Menariknya, hasil copetan tersebut bukan digunakan untuk membeli kemewahan. Mereka hanya ingin makan makanan yang selama ini tidak mampu mereka beli.
Burger.
Bagi sebagian orang burger mungkin hanyalah junk food. Tetapi bagi mereka, burger dapat menjadi makanan mewah.
Disinilah ketelitian sutradara terasa.
Film ini cukup jeli memperhatikan kehidupan kaum pinggiran, mulai dari dialog, makanan, minuman hingga lingkungan tempat mereka tinggal. Berkali-kali kereta KRL yang melintas menjadi penanda ruang hidup yang dekat dengan kawasan kumuh Jakarta.
Potret kemiskinan seperti ini justru terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dibandingkan gambaran keluarga kaya yang begitu sering kita lihat dalam film maupun sinetron nasional.
Ada satu hal yang menarik.
Film ini tidak kemudian mengatakan bahwa mencopet adalah sesuatu yang benar.
Justru sebaliknya.
Ketika mereka sudah mulai ragu untuk melanjutkan aksi, sebenarnya disitulah kesempatan untuk berhenti diberikan.
Tetapi nafsu mendapatkan uang dan keinginan hidup lebih layak membuat mereka kembali khilaf.
Dan seperti hukum sebab akibat, keputusan tersebut akhirnya membawa mereka kepada kegagalan.
Bagi kami, Operasi pesta Copet juga memiliki pesan sosial yang cukup kuat.
Film ini seolah mengingatkan bahwa keserakahan bukan hanya milik golongan miskin yang mencopet. Keserakahan juga dapat muncul pada golongan atas yang memiliki kekuasaan dan kesempatan melakukan korupsi.
Karena itu jangan hanya melihat pencopet sebagai orang jahat.
Cobalah melihat terlebih dahulu kondisi yang membuat seseorang memilih jalan tersebut.
Hal lain yang justru terasa hangat adalah persahabatan di antara keempat tokohnya.
Di tengah kehidupan yang serba kekurangan, mereka masih memiliki kepedulian, saling membantu dan berusaha melindungi satu sama lain.
Persahabatan seperti inilah yang menjadi sisi manusiawi film.
Operasi Pesta Copet bukan hanya tentang empat orang yang ingin mencopet di tengah konser musik.
Ini adalah cerita tentang orang kecil yang ingin hidup lebih layak, tentang pilihan yang salah, tentang keserakahan, sekaligus tentang persahabatan.
Dan mungkin setelah keluar dari bioskop, pertanyaan yang tersisa bukan lagi…
“Apakah mereka berhasil mencopet?”
Melainkan…
“Kalau hidup membuat kita berada dalam keadaan terdesak, sampai sejauh mana kita mampu mempertahankan pilihan yang benar?”
Operasi Pesta Copet tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Pemeran Utama
-
Iqbaal Ramadhan berperan sebagai Ijal
-
Kristo Immanuel berperan sebagai Adut
-
Zulfa Maharani berperan sebagai Tia
-
Kawai Labiba berperan sebagai Melodi
Pemeran Pendukung & Lainnya
-
Fauzan Lubis
-
Rio Dumatubun
-
Yeyen Lidya
-
Mar Galo
-
Onkar Sadawira
-
Ken Jenie
-
Dicky R. Maland
Penulis Anya dan Nuty Laraswaty





































