Ada satu hal yang langsung saya pikirkan setelah menonton Munafik: Melawan Iblis.
Ternyata yang paling menakutkan dari film ini bukan iblisnya.
Justru manusia yang masih membawa luka, rasa bersalah dan kehilangan yang belum selesai.
Sebagai remake Indonesia dari IP horor legendaris Malaysia Munafik garapan Syamsul Yusof pada 2016, film arahan Guntur Soeharjanto ini memang punya beban yang tidak ringan.
Apalagi penonton yang sudah mengenal Ustaz Adam versi Syamsul Yusof tentu punya ekspektasi sendiri.
Saya pun begitu.
Saya penasaran, apakah Ustaz Adam versi Indonesia hanya akan menjadi pengulangan karakter lama dengan wajah baru, atau justru punya perjalanan emosionalnya sendiri?
Ternyata jawabannya cukup menarik.
Ustaz Adam Versi Arya Saloka Bukan Sekadar Copy Paste
Di versi Malaysia, Ustaz Adam yang diperankan Syamsul Yusof terasa sangat ekspresif.
Marahnya terlihat. Frustrasinya terasa.
Pergulatan imannya juga disampaikan dengan energi yang besar dan cenderung meledak ledak.
Saya masih bisa merasakan bagaimana karakter tersebut seperti sedang berteriak kepada dirinya sendiri ketika berhadapan dengan kehilangan dan krisis keimanan.
Nah, ketika karakter ini dibawa ke Indonesia dan dimainkan Arya Saloka, pendekatannya terasa berbeda. Lebih tenang, rapuh serta lebih banyak menyimpan sesuatu di dalam dirinya.
Menurut saya, ini justru menjadi salah satu keputusan menarik dari Munafik: Melawan Iblis. Arya tidak berusaha menjadi Syamsul Yusof. Dia membentuk Adam versinya sendiri.
Rasa kehilangan terhadap Aini, istrinya, tidak selalu ditampilkan melalui ledakan emosi. Ada kesedihan yang lebih diam. Ada kehampaan yang terasa seperti seseorang yang sebenarnya masih hidup, tetapi sebagian dirinya tertinggal di masa lalu.
Dan buat saya, pendekatan seperti ini membuat Adam terasa lebih manusiawi.
Bukan ustaz yang selalu kuat, namun manusia yang sedang mencoba menemukan kembali dirinya.
Namun ternyata , ada plot twist disini.

Sekarang beralih dahulu pada alur kisahnya, karenafilm ini tidak sekadar mengambil cerita Munafik lalu mengganti lokasi dan pemainnya.
Guntur Soeharjanto mencoba memberikan identitas Indonesia pada dunia spiritual film ini.
Kalau versi Malaysia sangat kuat dengan pendekatan ruqyah yang lebih ortodoks dan berpegang pada praktik keagamaan formal, versi Indonesia memasukkan warna budaya lokal yang lebih terasa.
Ada pertemuan antara praktik keagamaan dengan kepercayaan mistis yang hidup di masyarakat. Bahkan muncul elemen mantra Jawa kuno melalui karakter Mansur yang diperankan Donny Damara.
Buat saya, di sinilah remake ini mulai memiliki identitasnya sendiri, karena Indonesia memang punya lanskap horor yang berbeda.
Acha Septriasa sebagai Fitri punya peran penting dalam perjalanan Adam.
Adam membantu Fitri bukan sekadar karena tugasnya sebagai ustaz. Ada pesan terakhir dari Aini yang membuat semuanya terasa lebih personal.
Saya suka bagian ini karena hubungan Adam dan Fitri terasa punya ikatan emosional. Jadi, ketika Adam berusaha menyelamatkan Fitri, sebenarnya dia juga sedang berhadapan dengan luka dari masa lalunya.
Semakin Adam membantu Fitri, semakin dia harus menghadapi trauma dan kehilangan yang selama ini masih dia simpan.
Jadi sebenarnya versi Indonesia apakah lebih menarik daripada Malaysia? Maka jawaban saya adalah saya akan memilih perjalanan emosional Adam sebagai poin of view, dan kamu yang menonton akan mengerti.


































