Harusnya Horror Debut Reza “Arap” Oktovian sebagai sutradara hadir lewat komedi horor yang absurd, lucu, tapi ternyata punya hati

Siapa bilang film horor harus berakhir dengan jeritan? Harusnya Horror justru siap bikin penonton ketawa, dibuat bingung oleh keabsurdannya, lalu diam diam menguras air mata di bagian akhir.
Film debut penyutradaraan Reza “Arap” Oktovian dari Ess Jay Pictures ini memang datang dengan label komedi horor. Tapi jangan sampai tertipu sama kemasannya. Di balik cerita yang kocak dan tingkah para karakternya yang absurd, ada cerita tentang persahabatan, kehilangan, pengkhianatan, pengorbanan, sampai belajar memaafkan.
Dan justru di situlah kekuatan Harusnya Horror.
Film ini mengajak penonton melihat bagaimana arti seorang sahabat ketika semuanya mulai diuji. Ada momen ketika mereka saling membantu, ada saat harus menghadapi pengkhianatan, ada proses memaafkan, sampai keputusan untuk berkorban demi orang yang dianggap penting.
Jadi, kalau dari awal kalian datang dengan ekspektasi cuma mau ketawa sambil nonton horor, siap siap saja endingnya malah bikin hati ikut tersentuh.
Horor yang Nyindir Dunia Content Creator
Salah satu hal yang membuat Harusnya Horror terasa berbeda adalah keberaniannya membawa kehidupan content creator ke dalam cerita.
Film ini menyentil fenomena creator economy ketika hampir semua hal bisa berubah menjadi konten. Demi views, engagement, popularitas, bahkan cuan, batas antara hiburan dan eksploitasi kadang menjadi semakin tipis.
Lewat komedi, film ini mencoba menyampaikan satir tentang budaya mengejar konten viral. Jadi bukan cuma soal hantu dan ketakutan, tetapi juga soal bagaimana manusia bisa melakukan banyak hal ketika mengejar perhatian publik.
Absurd? Jelas.
Lucu? Banget.
Tapi ternyata ada sesuatu yang cukup relate dengan kehidupan sekarang.
Persembahan Terakhir untuk Lula Lahfah
Ada satu lapisan emosional yang membuat Harusnya Horror terasa semakin spesial. Film ini menjadi persembahan terakhir dari almarhumah Lula Lahfah.
Bagi Reza Oktovian, kehadiran Lula selama proses produksi menjadi salah satu kenangan paling berharga.
“Setiap detiknya bersama Lula harusnya indah, kami berdua benar-benar menghargai setiap waktu bareng. Semua kru dan pemeran di film ini juga merasakan betapa besarnya dukungan dan kehadirannya selama produksi. Film Harusnya Horror menjadi memori terindah kami,” ujar Reza.
Reza juga ingin film ini meninggalkan pesan yang lebih besar daripada sekadar hiburan.
“Meski kemasannya komedi-horor dengan cerita yang absurd, tetapi saya ingin menyajikan tentang arti persahabatan, pengorbanan, dan pentingnya menghargai orang terdekat sebelum terlambat,” tambahnya.
Kalimat terakhir ini rasanya menjadi kunci untuk memahami filmnya. Karena terkadang kita baru sadar betapa berharganya seseorang setelah semuanya terlambat.
AAAClan Debut Layar Lebar
Harusnya Horror juga menjadi debut akting layar lebar bagi seluruh member AAAClan.
Ada George Tierson sebagai Jot, Yukatheo Glen Widjaja sebagai Yuka, Garry Andriawan Ang sebagai Garry, Teguh Prakoso sebagai Tepe, Aldy Renaldy sebagai Aloy, Ariyanto sebagai Ibot, Niko Junius sebagai Niko, dan Bravyson sebagai Vicong.
Film ini juga menghadirkan Reynavenzka, Ronny P. Tjandra, Heroe Soewarno, dan Malka Rafasya, serta penampilan spesial Yoshua Marcellos alias Cellos.
George Tierson yang memerankan Kevin mengungkapkan bahwa Reza memberikan ruang cukup besar bagi para pemain untuk mengeksplorasi karakter.
“Sebagai sutradara, Reza memberikan treatment yang berbeda untuk kami. Dia memberikan kebebasan kreatif ke kami sebagai aktor untuk bisa mengeksplorasi karakter. Dibantu dengan acting coach dan proses development bersama, kami jadi bisa menampilkan sisi di luar Marapthon dan menjadi karakter baru yang belum pernah terlihat sebelumnya,” ujar George.
Menariknya, pengalaman para member AAAClan yang selama ini dikenal lewat Marapthon justru dibawa ke arah yang berbeda di film ini. Penonton diajak melihat sisi lain mereka sebagai karakter dalam sebuah cerita layar lebar.
Ess Jay Pictures Bawa Satir Creator Economy
Produser Sridhar Jetty mengatakan bahwa Harusnya Horror bukan hanya ingin menghibur, tetapi juga merefleksikan fenomena yang sedang terjadi di Indonesia.
“Meski genrenya komedi-horor, tetapi film ini punya makna yang relevan, tentang situasi creator economy, saat semuanya dijadikan konten, film ini ingin memberikan refleksi dan satir dalam bentuk komedi. Semoga penonton juga terhibur dan bisa merasakan kedekatan emosional yang dibangun dari ceritanya,” ujar Sridhar.
Dan sepertinya rasa penasaran penonton sudah mulai terlihat.
Sebelum resmi tayang, tiket Advance Ticket Sales Harusnya Horror dilaporkan ludes di sejumlah kota, mulai dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, Banjarmasin, Batam, Bogor, Jambi, Lampung, Palembang, Pekanbaru, Makassar, Samarinda, hingga Pontianak.
Artinya, antusiasme bukan cuma datang dari penggemar Marapthon dan AAAClan. Film ini juga punya peluang untuk menjangkau penonton film Indonesia secara lebih luas karena membawa tema yang cukup universal.
Persahabatan. Kehilangan. Pengkhianatan. Memaafkan. Pengorbanan.
Semua dibungkus dalam film yang dari judulnya saja sudah bilang Harusnya Horror.
Tapi jangan kaget kalau ternyata yang paling menghantui setelah film selesai bukan hantunya.
Melainkan perasaan tentang orang orang yang pernah kita anggap akan selalu ada.
Harusnya Horror tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Ikuti informasi terbaru melalui Instagram @harusnyathemovie dan @essjay.pictures.
Tentang Ess Jay Studios Ess Jay Studios didirikan pada 1 Agustus 2022 oleh David Suwarto, Sridhar Jetty, dan Jimmy Lalwani sebagai anak perusahaan SinemArt. Rumah produksi ini memiliki visi menghadirkan karya berkualitas yang mampu menghibur sekaligus memberikan inspirasi kepada masyarakat. Memulai perjalanan lewat sinetron Tajwid Cinta, Ess Jay Studios kemudian berkembang pesat dengan memproduksi 13 judul sinetron dengan total lebih dari 1.750 episode. Pada 2025, melalui brand Ess Jay Pictures, rumah produksi ini mulai merambah layar lebar dan menghadirkan karya film untuk penonton Indonesia.
Penulis Anya
Lula Lahfah meninggal karena apa? Keterangan resmi kepolisian yang disampaikan 30 Januari 2026 menyebut Lula meninggal karena kehabisan napas. Dokter dari RS Fatmawati menyatakan tidak ditemukan tanda tanda penganiayaan atau kekerasan pada tubuhnya.





































