Sejak Donnie Yen memperkenalkan sosok Ip Man kepada dunia pada 2008, standar film bela diri bertema Wing Chun berubah selamanya
Ip Man bukan hanya menjadi mesin pukul yang nyaris tak terkalahkan, tetapi juga guru, ayah, sekaligus simbol harga diri masyarakat Tiongkok.
Bisa dikatakan film Ip Man: Kung Fu Legend memikul beban yang sangat berat, ini dikarenakan bukan hanya meneruskan sebuah franchise.
Tetapi juga mempertahankan warisan yang sudah begitu melekat di hati penonton.
Hal-hal yang menjadi daya tarik sekaligus kelemahan film ini adalah:
1. Dennis To Berhasil Menjadi Ip Man, Tetapi Sulit Membuat Kita Melupakan Donnie Yen
Dennis To bukan nama baru dalam dunia film Ip Man.
Ia pernah memerankan karakter yang sama dalam beberapa produksi sebelumnya dan memahami bagaimana gestur, ketenangan, hingga filosofi Wing Chun harus ditampilkan.
Secara teknik, tidak ada masalah berarti.
Gerakan tangannya tetap cepat.
Posturnya tetap elegan.
Setiap jurus Wing Chun terlihat presisi dan meyakinkan.
Namun ada satu hal yang sulit digantikan.
Karisma.
Donnie Yen membuat Ip Man terasa hidup bukan hanya melalui adegan bertarung.
Tetapi melalui tatapan mata, cara berbicara, hingga sikap tenangnya ketika menghadapi musuh.
Dennis To berhasil meniru sosok Ip Man.
Namun belum berhasil membuat saya melupakan versi yang telah melekat selama hampir dua dekade.
2. Koreografi Wing Chun Tetap Menjadi Alasan Utama Menonton Film Ini
Kalau ada satu alasan mengapa film ini tetap layak ditonton di bioskop, jawabannya adalah koreografi aksinya.
Pertarungan demi pertarungan disusun dengan rapi.
Wing Chun tetap menjadi bintang utama.
Tidak ada gerakan yang terasa berlebihan.
Tidak ada aksi yang sekadar memamerkan efek CGI.
Semuanya terasa membumi.
Setiap pukulan memiliki ritme.
Setiap tangkisan memiliki tujuan.
Di sinilah sutradara Li Liming tampaknya memahami apa yang dicari para penggemar film kung fu klasik.
Bukan ledakan.
Bukan efek visual.
Melainkan keindahan sebuah teknik bela diri.
3. Ceritanya Terlalu Aman dan Sulit Memberikan Kejutan
Masalah terbesar film ini justru berada pada naskahnya.
Konflik mengenai pedagang Inggris, kelompok triad, hingga perjuangan membela kaum buruh sebenarnya memiliki potensi menjadi drama sosial yang kuat.
Sayangnya, semua disampaikan dengan pola yang sangat mudah ditebak.
Penjahat digambarkan sepenuhnya jahat.
Pahlawan digambarkan sepenuhnya benar.
Akibatnya, hampir tidak ada ruang bagi penonton untuk mempertanyakan pilihan moral para tokohnya.
Padahal seri-seri Ip Man terdahulu selalu berhasil menghadirkan konflik yang terasa lebih emosional.
Di sini…semuanya terasa terlalu aman. Terlalu hitam dan putih.
4. Film Ini Berbicara Tentang Keadilan, Tetapi Tidak Menggali Manusia di Baliknya
Yang saya rindukan dari film-film Ip Man terdahulu bukan sekadar adegan bertarung.
Melainkan sosok manusianya.
Bagaimana Ip Man menghadapi rasa takut.
Bagaimana ia menjadi seorang ayah.
Bagaimana ia tetap menjaga harga dirinya di tengah perubahan zaman.
Dalam Ip Man: Kung Fu Legend, lapisan emosional itu terasa jauh berkurang.
Film lebih sibuk membawa Ip Man dari satu pertarungan ke pertarungan berikutnya dibandingkan mengajak kita memahami isi pikirannya.
Akibatnya, saya menikmati aksinya.
Tetapi tidak benar-benar ikut merasakan perjuangannya.
5. Nama Besar Ip Man Menjadi Pedang Bermata Dua
Di sinilah dilema terbesar film ini.
Jika tokoh utamanya bukan bernama Ip Man, mungkin saya akan lebih mudah menerima film ini sebagai film kung fu yang solid.
Namun ketika menggunakan nama Ip Man, ekspektasi penonton otomatis berubah.
Kita tidak hanya menunggu adegan bela diri yang memukau.
Kita juga berharap menemukan filosofi hidup, ketenangan, dan kebijaksanaan yang selama ini menjadi identitas sang master Wing Chun.
Sayangnya, identitas tersebut belum terasa sekuat film-film sebelumnya.
Film ini lebih banyak mengulang formula lama daripada menawarkan sesuatu yang benar-benar baru.
Ip Man: Kung Fu Legend tetap merupakan tontonan yang menyenangkan bagi pecinta film laga klasik. Dennis To memberikan penampilan yang layak diapresiasi. Koreografi Wing Chun menjadi kekuatan terbesar film ini. Beberapa adegan pertarungan bahkan mampu mengingatkan kita mengapa franchise Ip Man pernah begitu dicintai. Namun secara keseluruhan, film ini terasa lebih sebagai penghormatan terhadap warisan lama daripada sebuah evolusi. Ia menjaga bentuknya. Tetapi belum sepenuhnya menangkap jiwanya. Dan mungkin, itulah tantangan terbesar setiap kali sebuah legenda mencoba dilahirkan kembali.
Penulis : W






































