Film The Odyssey
Saya masuk ke bioskop berharap menyaksikan kisah epik Odysseus. Saya keluar justru terus memikirkan Penelope. Mungkin itulah keberhasilan terbesar Christopher Nolan. Dan mungkin juga, di saat yang sama, menjadi kesempatan terbesar yang belum sepenuhnya ia manfaatkan.
Selama ribuan tahun, Odysseus selalu ditempatkan sebagai pusat cerita.
Ia adalah jenderal yang berhasil menghancurkan Troya melalui strategi Kuda Troya yang legendaris.
Ia adalah simbol kecerdasan, keberanian, sekaligus kepahlawanan Yunani.
Maka wajar jika saya mengira The Odyssey akan kembali menceritakan perjalanan seorang laki-laki menuju rumahnya.
Namun Christopher Nolan memilih jalan yang berbeda.
Bukan berarti ia menghilangkan sosok Odysseus.
Justru sebaliknya.
Ia membuat Odysseus terasa jauh lebih manusia.
Christopher Nolan Membuat Odysseus Bukan Lagi Pahlawan yang Tak Terkalahkan
Sesuai trend masa kini.
Yang saya lihat sepanjang film bukanlah seorang pahlawan yang pulang membawa kemenangan.
Saya melihat seorang laki-laki yang membawa perang di dalam pikirannya.
Setiap ombak yang diterjangnya terasa seperti rasa bersalah yang terus mengejarnya.
Setiap pulau yang ia singgahi terasa seperti upaya berdamai dengan keputusan-keputusan yang pernah ia ambil.
Christopher Nolan berhasil mengubah The Odyssey menjadi perjalanan psikologis seorang veteran perang.
Hari ini mungkin kita mengenalnya sebagai trauma pascaperang (post-traumatic stress).
Film ini memang tidak pernah menyebut istilah tersebut secara langsung.
Namun rasa kehilangan, penyesalan, hingga kesepian yang dialami Odysseus terasa begitu nyata.
Menurut saya, inilah kekuatan terbesar film ini.
Nolan tidak sedang membuat film tentang monster.
Ia sedang berbicara mengenai manusia.
IMAX Bukan Sekadar Teknologi, Tetapi Cara Nolan Membuat Kita Masuk ke Kepala Odysseus?
Ada alasan mengapa film ini wajib ditonton di layar IMAX.
Bukan semata karena lanskap lautnya yang megah.
Bukan pula hanya karena adegan peperangannya yang spektakuler.
Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana Christopher Nolan menggunakan kamera sebagai alat bercerita.
Ketika Odysseus merasa sendirian, kamera ikut terasa sunyi.
Ketika rasa bersalah mulai menghantuinya, tata suara perlahan mempersempit ruang sehingga penonton seperti ikut terjebak di dalam pikirannya.
Film ini bukan hanya ditonton namun untuk dialami.
Dan menurut saya, pengalaman seperti inilah yang mulai jarang diberikan oleh film blockbuster modern. Apakah akan dimulai dari titik ini?
Tetapi Tokoh yang Terus Saya Pikirkan Justru Penelope
Ironisnya…
Semakin lama saya mengikuti perjalanan Odysseus, semakin sering saya bertanya mengenai seseorang yang bahkan tidak banyak berbicara.
Penelope.
Selama bertahun-tahun, sejarah selalu mengenangnya sebagai perempuan yang setia menunggu suaminya pulang.
Padahal, jika kita benar-benar membaca mitologi Yunani, Penelope melakukan jauh lebih banyak daripada itu.
Selama Odysseus menghilang selama puluhan tahun…
Dialah yang mempertahankan Ithaca.
Dialah yang membesarkan Telemachus seorang diri.
Dialah yang memainkan politik setiap hari untuk menghadapi para pelamar yang ingin merebut takhta.
Ia memahami bahwa siapa pun yang berhasil menikahinya otomatis memperoleh legitimasi untuk menjadi raja.
Artinya…
Penelope bukan sekadar istri.
Ia adalah pusat stabilitas kerajaan.
Namun sayangnya, film ini hanya menyinggung semua itu sepintas.
Penelope tetap lebih sering diposisikan sebagai simbol cinta sejati dibandingkan seorang pemimpin politik yang berhasil menjaga negaranya tetap berdiri.
Dan di situlah saya merasa Christopher Nolan sebenarnya memiliki kesempatan besar.
Patriarki yang Masih Terasa Sangat Relevan Hari Ini
Hal lain yang cukup mengganggu pikiran saya adalah bagaimana standar ganda itu tetap dipertahankan.
Sepanjang film, Odysseus terus mempertanyakan apakah Penelope masih setia kepadanya.
Namun siapa yang mempertanyakan Odysseus?
Dalam mitologi, ia hidup bersama Circe.
Ia juga menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Calypso.
Hubungan-hubungan tersebut hampir selalu dianggap sebagai bagian alami dari perjalanan seorang pahlawan.
Sementara kesetiaan Penelope justru dijadikan ukuran utama cintanya.
Bukankah ini cara patriarki bekerja sejak ribuan tahun lalu?
Perempuan diminta menjaga kesetiaan.
Laki-laki diberi ruang untuk memiliki pengecualian.
Film ini memang tidak mencoba membahasnya lebih jauh.
Namun justru karena hanya disentuh sedikit, pertanyaan-pertanyaan itu terus tinggal di kepala saya bahkan setelah lampu bioskop menyala.
Kesimpulan
The Odyssey adalah salah satu karya Christopher Nolan yang paling matang secara emosional.
Ia berhasil mengubah kisah kepulangan seorang pahlawan menjadi refleksi tentang trauma perang, rasa bersalah, dan pencarian makna hidup.
Namun bagi saya, kejutan terbesar film ini bukanlah Odysseus.
Melainkan Penelope.
Perempuan yang selama ribuan tahun hanya dikenang karena kesetiaannya.
Padahal mungkin dialah sosok yang paling cerdas secara politik dalam seluruh kisah ini.
Saya datang ke bioskop untuk menyaksikan perjalanan Odysseus.
Saya pulang justru memikirkan Penelope.
Dan mungkin…
itulah keberhasilan terbesar Christopher Nolan.
Sekaligus kesempatan paling berani yang belum sepenuhnya ia manfaatkan untuk menulis ulang cara kita memandang seorang pahlawan.
Rating: 4,5/5

I walked into The Odyssey expecting an epic about Odysseus. I walked out thinking about Penelope. That may be Christopher Nolan’s greatest achievement and perhaps his biggest missed opportunity.





































