“Kalau alam sudah memberi tanda untuk berhenti, masih berani lanjut?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar klise.
Film Petaka Gunung Welirang, membawa sebuah pertanyaandan ini merupakan inti dari seluruh perjalanan lima sahabat yang nekat mendaki demi merayakan kelulusan.
Sinopsis Petaka Gunung Welirang adalah kisah lima sahabat yang merayakan kelukusannya dengan mendaki gunung.
Perjalanan berubah menjadi mimpi buruk saat mereka mendengar suara gamelan di Alas Lali Jiwo.
Teror mistis mulai memisahkan dan mengancam nyawa mereka satu per satu di tengah hutan
Mari dibahas satu persatu :
1.Formula yang Terasa Familiar, tapi Masih Menarik Diikuti
Kalau kamu sudah menonton Petaka Gunung Gede, mungkin akan merasa sedang familiar dengan gaya penceritaan film tersebut.
Lima anak muda. Tiga laki-laki, dua perempuan.
Mendaki gunung untuk merayakan momen spesial.
Lalu muncul teror gaib.
Satu per satu mulai terpisah.
Tim SAR turun tangan.
Formula ini memang terasa aman. Bahkan di beberapa bagian cukup mudah ditebak.
Namun menariknya, film ini lebih menekankan bagaimana karakter-karakternya bereaksi saat rasa panik mulai mengambil alih logika.
Horor yang muncul bukan cuma berasal dari sosok gaib, tetapi juga dari ego, rasa takut, hingga keputusan-keputusan buruk yang dibuat manusia sendiri.
Karena di gunung, satu keputusan kecil bisa berujung petaka.
2.Alas Lali Jiwo Jadi Bintang Utama
Kalau ada “tokoh utama” selain para pemainnya, jawabannya adalah Alas Lali Jiwo.
Hutan yang memang dikenal dalam berbagai cerita rakyat Jawa Timur ini menjadi pusat teror film.
Suara gamelan yang tiba-tiba terdengar di tengah hutan, penampakan Sang Ratu beserta para penari gaib, hingga ilusi yang membuat para pendaki kehilangan arah berhasil membangun misteri yang cukup menarik.
Meski begitu, buat penonton yang mengharapkan jumpscare bertubi-tubi,terasa kali ini penonton dibawa ke suasana lebih kalem.
Terornya lebih banyak dibangun lewat atmosfer daripada ledakan suara yang bikin refleks menutup mata.
3.Visual Gunungnya Juara
Satu hal yang sulit dibantah adalah visualnya.
Pemandangan Gunung Welirang benar-benar menjadi nilai jual utama.
Alih-alih memakai color grading gelap seperti kebanyakan film horor Indonesia, film ini justru membiarkan keindahan alam tampil apa adanya. Kabut tipis, jalur pendakian, hingga hutan yang terlihat tenang justru membuat ancaman yang datang terasa lebih nyata.
Ironisnya, tempat seindah itu justru menjadi lokasi mimpi buruk.
4.Chemistry Para Pemain Jadi Nilai Plus
Antonio Blanco Jr., Giulio Parengkuan, Alika Jantinia, Razan Zu, dan Jinan Safa berhasil membangun chemistry sebagai lima sahabat yang terasa natural.
Candaan mereka terasa seperti tongkrongan anak kuliah sungguhan. Karena itulah ketika satu per satu mulai diteror, penonton ikut merasa kehilangan rasa aman yang sejak awal dibangun.
Sementara Ramon Y. Tungka sebagai pemimpin tim SAR kembali menjadi sosok yang paling membumi. Gesturnya saat memimpin operasi pencarian terasa meyakinkan dan menjadi penyeimbang ketika cerita mulai masuk ke wilayah supranatural.
Kesimpulan
Bukan Horor Paling Seram, tapi Punya Pesan yang Relate
Kalau dibandingkan dengan Petaka Gunung Gede, desain makhluk gaib di sini memang terasa tidak seikonik pendahulunya.
Namun film ini justru lebih fokus pada hubungan antarteman, rasa tanggung jawab, dan pentingnya menghormati alam.
Pendakian di sini bukan digambarkan sebagai ajang mencari konten atau sekadar liburan setelah wisuda.
Gunung digambarkan sebagai ruang yang memiliki aturan sendiri. Ketika manusia datang dengan rasa terlalu percaya diri, alam punya cara untuk mengingatkan.
Pesan ini terasa relevan, apalagi di era media sosial ketika mendaki gunung sering kali hanya dipandang sebagai bagian dari gaya hidup tanpa persiapan yang matang.
Petaka Gunung Welirang memang membawa standar pakem genre horor pendakian Indonesia.
Formula ceritanya masih terasa familiar dan beberapa konfliknya mudah ditebak.
Namun film ini tetap berhasil menyuguhkan pengalaman yang cukup menghibur lewat visual pegunangan yang indah, chemistry para pemain yang solid, serta nuansa folklore lokal yang masih jarang dieksplorasi secara serius.
Kalau kamu mencari horor penuh jumpscare, mungkin film ini bukan pilihan utama.
Tapi kalau kamu suka kisah survival, persahabatan, mitos gunung, dan horor yang perlahan membangun atmosfer, Petaka Gunung Welirang layak masuk daftar tontonan.
Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan di gunung bukan selalu makhluk gaib.
Kadang… manusianya sendiri yang lupa batas.
Catatan Belakangan ini, Starvision seperti menemukan "jalur favorit" baru. Setelah Petaka Gunung Gede (2025) dan Pencarian Terakhir (2025), kini hadir Petaka Gunung Welirang. Ketiganya sama-sama mengangkat kisah pendakian gunung yang berubah menjadi mimpi buruk, tetapi masing-masing memiliki identitasnya sendiri. Yang menarik, Petaka Gunung Welirang bukan sekadar horor fiksi. Film garapan Indra Gunawan ini diadaptasi dari pengalaman nyata pendaki sekaligus kreator konten alam, Maya Azka, yang mengalami kejadian mistis saat mendaki Gunung Welirang di Jawa Timur. Ceritanya kemudian dikembangkan menjadi skenario oleh Upi. Fakta ini juga dikonfirmasi oleh Lembaga Sensor Film (LSF). (Lembaga Sensor Film Republik Indonesia)
Penulis : Anya
Sumber analisa pokok




































