• Latest
Kritik Film Evil Dead Burn

Kritik Film Evil Dead Burn

18 July, 2026
Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal

Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal

31 October, 2026
Jangan Tertipu Judulnya! GJLS: Berapi-Api Bukan Cuma Soal Api dan Komedi

Jangan Tertipu Judulnya! GJLS: Berapi-Api Bukan Cuma Soal Api dan Komedi

30 October, 2026
FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

28 October, 2026
Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

26 October, 2026
kinki

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

22 October, 2026
Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

22 October, 2026
Main Belakang

Review Main Belakang: Berawal dari Lapangan Padel, Perselingkuhan Ini Malah Menyeret Dua Pasangan!

22 October, 2026
https://nutylaraswaty.com/review-beware-boiuna/

Review Beware BOIÚNA

21 October, 2026
Film Perayaan Pertama

Perayaan Pertama sebagai Film Drama Keluarga dengan Potensi Festival Sekaligus Peluang Menjangkau Penonton Bioskop Umum.

16 October, 2026
E:\Downloads\ROK Mission to ASEAN.png

Reawakened Man: Premis Menarik, tetapi Kok Terasa Familiar?

15 October, 2026
bandit

Bandit Pulang ke Indonesia Setelah Berkeliling Festival Dunia, Aku Ikut Senang sekaligus Penasaran

15 October, 2026
Review Hasut

Review Hasut: Ilya Sigma Buktikan Horor Tak Butuh Hantu untuk Membuat Penonton Ketakutan

14 October, 2026
Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

14 October, 2026
Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

8 October, 2026
Little Blue and Little Yellow

Little Blue and Little Yellow Hadir di Indonesia, Bawa Cerita Persahabatan dan Penerimaan untuk Semua Usia

8 October, 2026
digger nuty laraswaty

Tom Cruise Tidak Berlari di Digger, Tapi Justru Itu yang Membuat Film Ini Menarik

8 October, 2026

Jakarta World Cinema 2026 Bawa Pemenang Cannes, Venice dan Berlinale Sekaligus, Ada Fjord hingga Inherit

8 October, 2026
Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

8 October, 2026
Review Verity: Makin Dibaca, Makin Bingung Siapa yang Bohong

Review Verity 2026: Anne Hathaway dan Dakota Johnson Bikin Kita Bingung Siapa yang Sebenarnya Gila

8 October, 2026
Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

8 October, 2026
Teaser Trailer Empat Musim Pertiwi Penuh Teka Teki

Setelah Nonton Empat Musim Pertiwi: Ketika Rumah, Keluarga, dan Indonesia Terasa Begitu Dekat

5 October, 2026
Niken di Beautiful Pain

Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

5 October, 2026
TAZZA: THE SONG OF BEELZEBUB

Tazza 4 The Song of Beelzebub: Ketika Sahabat Jadi Musuh, Byun Yo Han dan Roh Jae Won Bertaruh Segalanya

2 October, 2026
Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

30 September, 2026
Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

30 September, 2026
Kuasa gelap 2

Nonton Screening Kuasa Gelap Perjanjian Darah di IMAX

29 September, 2026
Kuasa gelap 2

Kuasa Gelap 2 Pecah Rekor, Jadi Film Indonesia Pertama yang Tayang di IMAX dan 4DX

25 September, 2026
Ghost in the Cell

Gila Banget, Ghost in the Cell Kalahin Film Horor Dunia dan Juara di Amerika

24 September, 2026
Laraswaty
  • Movie Review
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner
No Result
View All Result
Laraswaty
No Result
View All Result
Advertisement Banner
ADVERTISEMENT
Home Movie Review Horror
Kritik Film Evil Dead Burn

Kritik Film Evil Dead Burn

by Nuty Laraswaty
18 July, 2026
in Horror, Movie Kritic, Movie Review
244 13
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kritik Film Evil Dead Burn: Brutal Masih Iya, Tapi Kehilangan “Ruh” Evil Dead yang Sesungguhnya

Franchise Evil Dead kembali lewat film terbarunya, Evil Dead Burn, dan ini tentunya yang langsung menjadi perbincangan para pecinta film horor.

Kesuksesan Evil Dead Rise (2023) membuat film ini memiliki beban yang tidak ringan. Ekspektasi penggemar begitu tinggi, terutama karena franchise ini selalu identik dengan horor brutal, gore ekstrem, serta sentuhan black comedy yang menjadi ciri khas sejak era Sam Raimi.

Lalu, apakah Evil Dead Burn berhasil melampaui pendahulunya?

Menurut saya, jawabannya belum.

Meski secara teknis film ini sangat kuat, namun ada beberapa hal yang membuatnya terasa belum mampu menjadi salah satu film terbaik dalam franchise ini.

Hal-hal yang menjadi daya tarik sekaligus kelemahan film ini adalah:

1. Penyutradaraan Sébastien Vaniček Menjadi Nilai Terbaik Film Ini

Sébastien Vaniček memahami bagaimana membangun ketegangan khas Evil Dead.

Jika diperhatikan dengan saksama, permainan sudut pengambilan gambar bergerak sangat dinamis. Penyuntingannya mampu membungkus setiap jump scare dengan ritme yang cepat sehingga penonton nyaris tidak diberi kesempatan untuk bernapas.

Saya rasa gaya seperti ini juga akan sangat sesuai dengan selera penonton Indonesia yang memang menyukai horor dengan tempo cepat dan intens.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah penggunaan efek praktikalnya. Darah, luka, hingga transformasi para Deadites tampil sangat brutal tanpa terlihat berlebihan secara digital.

Sayangnya, menurut saya kekuatannya berhenti sampai di sana.

Film ini memang berhasil mempertahankan identitas visual franchise, tetapi belum menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Gore tetap menjadi senjata utama, namun terasa sekadar mengulang formula yang sudah dikenal para penggemarnya.

Yang cukup berhasil justru bagaimana rumah keluarga dijadikan pusat seluruh teror. Lokasi tersebut dimanfaatkan dengan sangat maksimal sehingga rasa terisolasi benar-benar dapat dirasakan sepanjang film.

2. Ceritanya Mencoba Baru, Tetapi Justru Terasa Terlalu Familiar

Berbeda dengan franchise sebelumnya, Evil Dead Burn mencoba memperluas cerita melalui trauma, kutukan keluarga, hingga relik yang kembali membangkitkan kekuatan jahat.

Alice yang kehilangan suaminya menjadi fondasi emosional cerita. Ketika anggota keluarganya mulai dirasuki Deadites, konflik tidak lagi sekadar bertahan hidup, melainkan juga menghadapi masa lalu dan rahasia keluarga.

Ide tersebut sebenarnya menarik.

Namun justru di sinilah masalahnya.

Alih-alih terasa segar, film ini malah mengikuti pola horor modern yang saat ini sedang menjamur. Saya bahkan sempat merasa penulis naskah berusaha mengadopsi pendekatan seperti yang dilakukan film Hokum maupun Obsession.

Sayangnya, semuanya terasa masih mentah.

Konflik yang dibangun kurang mendalam dan tidak memiliki identitas yang benar-benar membedakannya dari film horor lain.

Risiko meninggalkan formula lama ternyata belum menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Mungkin komentar penggemar franchise ini perlu diperhatikan , masih merindukan sentuhan khas Sam Raimi yang liar, kreatif, sekaligus penuh kejutan.

3. Horor Psikologis Mendominasi, Tetapi Mengurangi Identitas Franchise

Keberanian film ini mengangkat isu trauma, hubungan keluarga yang toksik, hingga kekerasan dalam rumah tangga memang patut diapresiasi.

Saya merasakan juga bagaimana lapisan emosional tersebut membuat konflik terasa lebih personal dibandingkan film-film Evil Dead sebelumnya.

Namun menurut saya, pendekatan ini justru membuat franchise kehilangan sebagian identitasnya.

Nuansa horor yang dulu terasa liar, absurd, sekaligus penuh humor gelap kini berubah menjadi jauh lebih serius.

Padahal pendekatan seperti ini sudah menjadi formula umum horor era 2020-an.

Akibatnya, Evil Dead Burn justru terasa lebih mirip film horor modern pada umumnya dibandingkan sebuah “film Evil Dead.”

Untungnya karakter sang nenek masih menghadirkan beberapa momen black comedy yang cukup menghibur tanpa merusak atmosfer horornya.

Namun cukupkah?

4. Visualnya Memukau, Tetapi Tidak Selalu Menakutkan?

Kalau berbicara soal aspek visual, saya rasa hampir tidak ada yang bisa dipermasalahkan.

Permainan cahaya, warna yang suram, tata kamera, hingga tata rias para Deadites benar-benar dikerjakan dengan sangat baik.

Adegan gore bahkan dibuat sangat detail. Tidak sedikit penonton yang memuji kerapian pengerjaan efeknya.

Namun secara pribadi, saya tidak melihatnya sebagai sebuah karya seni.

Yang saya rasakan justru kebrutalan yang sangat realistis sehingga membuat setiap luka dan kekerasan terlihat begitu mengerikan.

Meski demikian, ketika efek gore itu berdiri sendiri tanpa bantuan permainan kamera maupun jump scare, saya justru tidak merasakan horor yang benar-benar mengganggu secara psikologis.

Efek kejutnya memang kuat.

Tetapi efek takutnya… biasa saja.

Mungkin bagi penggemar horor ekstrem, justru inilah daya tarik terbesar film ini.

Mungkin.

5. Cerita dan Karakter Masih Menjadi Titik Lemah

Kelemahan terbesar film ini tetap berada pada sisi penulisan cerita.

Beberapa bagian berkembang cukup membingungkan sehingga ritme cerita terasa naik turun.

Pengembangan sejumlah karakter pendukung juga kurang maksimal sehingga saya tidak benar-benar peduli ketika mereka satu per satu menjadi korban Deadites.

Fokus besar terhadap trauma Alice juga membuat beberapa bagian berjalan lebih lambat dibandingkan intensitas horor yang coba dibangun.

Hal lain yang cukup saya sayangkan adalah beberapa adegan gore terasa hadir hanya untuk mengejutkan penonton.

Bukan untuk memperkuat cerita.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Evil Dead Burn tetap menjadi tontonan yang layak bagi para pecinta horor gore.

Penyutradaraannya kuat.

Visual dan efek praktikalnya luar biasa.

Atmosfernya berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman hampir sepanjang film.

Namun ketika berbicara sebagai bagian dari franchise Evil Dead, saya merasa film ini belum berhasil menghadirkan sesuatu yang benar-benar ikonik.

Ia memang mencoba membawa arah baru melalui drama keluarga dan trauma psikologis.

Sayangnya, arah baru tersebut justru membuat film ini kehilangan sebagian “ruh” yang selama puluhan tahun membuat Evil Dead begitu dicintai para penggemarnya.

Bagi penonton baru, mungkin film ini tetap akan terasa sangat menghibur.

Namun bagi penggemar lama, rasanya masih sulit untuk tidak terus membandingkannya dengan era Sam Raimi.

Rating: 3.5/5

 

Tags: Evil Deadfranchise evil deadreview kritik filmSam RaimiSébastien Vaniček
Previous Post

Review Love Barista

Next Post

Review & Kritik The Odyssey 2026

Nuty Laraswaty

Nuty Laraswaty

Related Posts

Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal
Article

Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal

31 October, 2026
Jangan Tertipu Judulnya! GJLS: Berapi-Api Bukan Cuma Soal Api dan Komedi
Article

Jangan Tertipu Judulnya! GJLS: Berapi-Api Bukan Cuma Soal Api dan Komedi

30 October, 2026
FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!
Article

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

28 October, 2026
Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?
Movie Review

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

26 October, 2026
kinki
Article

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)
Drama

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Next Post
Review & Kritik The Odyssey 2026

Review & Kritik The Odyssey 2026

Film Ip Man: Kung Fu Legend 2026

Film Ip Man: Kung Fu Legend 2026

Review Deep Water (2026)

Review Deep Water (2026)

Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal
Article

Komedi horor Leo Pictures Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis Gak Masuk Akal

by Nuty Laraswaty
31 October, 2026
0

Gak Masuk Akal Tayang Januari 2027, Film Komedi Horor Leo Pictures Satukan Kamal Rasyid, Luna Maya hingga Ria Ricis JAKARTA...

Read more

Jangan Tertipu Judulnya! GJLS: Berapi-Api Bukan Cuma Soal Api dan Komedi

FFW 2026 Bikin Hati Lebih Adem, Film Horor, Komedi, dan Drama Akhirnya Punya Panggung Sendiri!

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

Laraswaty

Copyright@2025

  • About
  • Contact
  • Privacy Policy

No Result
View All Result
  • Movie Review
    • Action
    • Comedy
    • Drama
    • Superhero
    • Sci-fi
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner

Copyright@2025

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In