Kritik Film Evil Dead Burn: Brutal Masih Iya, Tapi Kehilangan “Ruh” Evil Dead yang Sesungguhnya
Franchise Evil Dead kembali lewat film terbarunya, Evil Dead Burn, dan ini tentunya yang langsung menjadi perbincangan para pecinta film horor.
Kesuksesan Evil Dead Rise (2023) membuat film ini memiliki beban yang tidak ringan. Ekspektasi penggemar begitu tinggi, terutama karena franchise ini selalu identik dengan horor brutal, gore ekstrem, serta sentuhan black comedy yang menjadi ciri khas sejak era Sam Raimi.
Lalu, apakah Evil Dead Burn berhasil melampaui pendahulunya?
Menurut saya, jawabannya belum.
Meski secara teknis film ini sangat kuat, namun ada beberapa hal yang membuatnya terasa belum mampu menjadi salah satu film terbaik dalam franchise ini.
Hal-hal yang menjadi daya tarik sekaligus kelemahan film ini adalah:
1. Penyutradaraan Sébastien Vaniček Menjadi Nilai Terbaik Film Ini
Sébastien Vaniček memahami bagaimana membangun ketegangan khas Evil Dead.
Jika diperhatikan dengan saksama, permainan sudut pengambilan gambar bergerak sangat dinamis. Penyuntingannya mampu membungkus setiap jump scare dengan ritme yang cepat sehingga penonton nyaris tidak diberi kesempatan untuk bernapas.
Saya rasa gaya seperti ini juga akan sangat sesuai dengan selera penonton Indonesia yang memang menyukai horor dengan tempo cepat dan intens.
Hal lain yang patut diapresiasi adalah penggunaan efek praktikalnya. Darah, luka, hingga transformasi para Deadites tampil sangat brutal tanpa terlihat berlebihan secara digital.
Sayangnya, menurut saya kekuatannya berhenti sampai di sana.
Film ini memang berhasil mempertahankan identitas visual franchise, tetapi belum menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Gore tetap menjadi senjata utama, namun terasa sekadar mengulang formula yang sudah dikenal para penggemarnya.
Yang cukup berhasil justru bagaimana rumah keluarga dijadikan pusat seluruh teror. Lokasi tersebut dimanfaatkan dengan sangat maksimal sehingga rasa terisolasi benar-benar dapat dirasakan sepanjang film.
2. Ceritanya Mencoba Baru, Tetapi Justru Terasa Terlalu Familiar
Berbeda dengan franchise sebelumnya, Evil Dead Burn mencoba memperluas cerita melalui trauma, kutukan keluarga, hingga relik yang kembali membangkitkan kekuatan jahat.
Alice yang kehilangan suaminya menjadi fondasi emosional cerita. Ketika anggota keluarganya mulai dirasuki Deadites, konflik tidak lagi sekadar bertahan hidup, melainkan juga menghadapi masa lalu dan rahasia keluarga.
Ide tersebut sebenarnya menarik.
Namun justru di sinilah masalahnya.
Alih-alih terasa segar, film ini malah mengikuti pola horor modern yang saat ini sedang menjamur. Saya bahkan sempat merasa penulis naskah berusaha mengadopsi pendekatan seperti yang dilakukan film Hokum maupun Obsession.
Sayangnya, semuanya terasa masih mentah.
Konflik yang dibangun kurang mendalam dan tidak memiliki identitas yang benar-benar membedakannya dari film horor lain.
Risiko meninggalkan formula lama ternyata belum menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Mungkin komentar penggemar franchise ini perlu diperhatikan , masih merindukan sentuhan khas Sam Raimi yang liar, kreatif, sekaligus penuh kejutan.
3. Horor Psikologis Mendominasi, Tetapi Mengurangi Identitas Franchise
Keberanian film ini mengangkat isu trauma, hubungan keluarga yang toksik, hingga kekerasan dalam rumah tangga memang patut diapresiasi.
Saya merasakan juga bagaimana lapisan emosional tersebut membuat konflik terasa lebih personal dibandingkan film-film Evil Dead sebelumnya.
Namun menurut saya, pendekatan ini justru membuat franchise kehilangan sebagian identitasnya.
Nuansa horor yang dulu terasa liar, absurd, sekaligus penuh humor gelap kini berubah menjadi jauh lebih serius.
Padahal pendekatan seperti ini sudah menjadi formula umum horor era 2020-an.
Akibatnya, Evil Dead Burn justru terasa lebih mirip film horor modern pada umumnya dibandingkan sebuah “film Evil Dead.”
Untungnya karakter sang nenek masih menghadirkan beberapa momen black comedy yang cukup menghibur tanpa merusak atmosfer horornya.
Namun cukupkah?
4. Visualnya Memukau, Tetapi Tidak Selalu Menakutkan?
Kalau berbicara soal aspek visual, saya rasa hampir tidak ada yang bisa dipermasalahkan.
Permainan cahaya, warna yang suram, tata kamera, hingga tata rias para Deadites benar-benar dikerjakan dengan sangat baik.
Adegan gore bahkan dibuat sangat detail. Tidak sedikit penonton yang memuji kerapian pengerjaan efeknya.
Namun secara pribadi, saya tidak melihatnya sebagai sebuah karya seni.
Yang saya rasakan justru kebrutalan yang sangat realistis sehingga membuat setiap luka dan kekerasan terlihat begitu mengerikan.
Meski demikian, ketika efek gore itu berdiri sendiri tanpa bantuan permainan kamera maupun jump scare, saya justru tidak merasakan horor yang benar-benar mengganggu secara psikologis.
Efek kejutnya memang kuat.
Tetapi efek takutnya… biasa saja.
Mungkin bagi penggemar horor ekstrem, justru inilah daya tarik terbesar film ini.
Mungkin.
5. Cerita dan Karakter Masih Menjadi Titik Lemah
Kelemahan terbesar film ini tetap berada pada sisi penulisan cerita.
Beberapa bagian berkembang cukup membingungkan sehingga ritme cerita terasa naik turun.
Pengembangan sejumlah karakter pendukung juga kurang maksimal sehingga saya tidak benar-benar peduli ketika mereka satu per satu menjadi korban Deadites.
Fokus besar terhadap trauma Alice juga membuat beberapa bagian berjalan lebih lambat dibandingkan intensitas horor yang coba dibangun.
Hal lain yang cukup saya sayangkan adalah beberapa adegan gore terasa hadir hanya untuk mengejutkan penonton.
Bukan untuk memperkuat cerita.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Evil Dead Burn tetap menjadi tontonan yang layak bagi para pecinta horor gore.
Penyutradaraannya kuat.
Visual dan efek praktikalnya luar biasa.
Atmosfernya berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman hampir sepanjang film.
Namun ketika berbicara sebagai bagian dari franchise Evil Dead, saya merasa film ini belum berhasil menghadirkan sesuatu yang benar-benar ikonik.
Ia memang mencoba membawa arah baru melalui drama keluarga dan trauma psikologis.
Sayangnya, arah baru tersebut justru membuat film ini kehilangan sebagian “ruh” yang selama puluhan tahun membuat Evil Dead begitu dicintai para penggemarnya.
Bagi penonton baru, mungkin film ini tetap akan terasa sangat menghibur.
Namun bagi penggemar lama, rasanya masih sulit untuk tidak terus membandingkannya dengan era Sam Raimi.
Rating: 3.5/5





































