Akhirnya Punya Superhero Wanita yang Terasa Gen Z
Bagaimana jika superhero terkuat di galaksi ternyata masih bingung mencari jati dirinya?
Itulah pertanyaan yang dijawab Supergirl (2026).
Selama puluhan tahun, kita mengenal keluarga Krypton sebagai simbol kekuatan. Superman adalah sosok yang hampir tak terkalahkan. Supergirl pun selama ini selalu dipandang sebagai versi perempuan dari Superman.
Namun film ini memilih jalan yang sama sekali berbeda.
Alih-alih memperlihatkan Kara Zor-El sebagai pahlawan super yang langsung menyelamatkan dunia, DC justru memperkenalkan seorang perempuan berusia 23 tahun yang masih berusaha memahami dirinya sendiri.
Dan di situlah kekuatan terbesar film ini.
Ini Bukan Film Tentang Menyelamatkan Dunia
Kalau kamu datang berharap melihat ledakan tanpa henti, pertarungan besar setiap 10 menit, atau ancaman yang menghancurkan planet, mungkin kamu akan sedikit terkejut.
Karena Supergirl bukan film tentang itu.
Ini adalah road trip antargalaksi yang dibalut kisah balas dendam, persahabatan, dan kehilangan.
Kara bertemu Ruthye, seorang gadis yang seluruh keluarganya dibantai oleh Krem of the Yellow Hills. Mereka memiliki tujuan yang sama, tetapi alasan yang berbeda.
Selama tiga hari perjalanan melintasi galaksi, keduanya perlahan saling menyembuhkan luka yang mereka simpan sejak kecil.
Dan justru di momen-momen sederhana inilah film terasa paling kuat.
Milly Alcock Adalah Alasan Film Ini Bekerja
Kalau David Corenswet berhasil membuat Superman terasa lebih manusiawi pada 2025, maka Milly Alcock berhasil membuat Supergirl terasa nyata.
Ia tampil bukan sebagai sosok yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Sebaliknya, Kara digambarkan keras kepala, impulsif, pemberontak, kadang egois, bahkan terlihat seperti anak muda yang belum selesai berdamai dengan masa lalunya.
Namun perlahan kita melihat perubahan itu terjadi.
Tanpa terasa, Kara berubah menjadi sosok yang pantas disebut simbol harapan.
Transformasi ini terasa alami dan menjadi salah satu pencapaian terbesar film.
DC Sedang Mengubah Formula Superhero
Inilah yang paling menarik.
Dulu film-film DC identik dengan atmosfer yang gelap, serius, dan penuh beban.
Kini, di bawah James Gunn dan Peter Safran, arah baru mulai terlihat jelas.
Setelah Superman (2025) menunjukkan bahwa Clark Kent juga manusia biasa dengan segala keraguannya, Supergirl melangkah lebih jauh.
Film ini bahkan lebih banyak membahas emosi dibanding kekuatan super.
Yang menjadi fokus bukan seberapa kuat Kara mengangkat benda, tetapi bagaimana ia belajar menjadi seseorang yang layak dipercaya.
Ini adalah perubahan besar bagi DC.
Dan ternyata… berhasil.
Sayangnya, Villain Tidak Seistimewa Karakter Utamanya
Kalau ada satu hal yang terasa kurang, jawabannya adalah Krem of the Yellow Hills.
Di komik, ia dikenal sebagai sosok yang benar-benar menakutkan.
Namun di layar lebar, ancamannya tidak pernah terasa sebesar yang dijanjikan.
Ia hadir lebih sebagai penggerak cerita dibanding lawan yang benar-benar meninggalkan kesan mendalam.
Akibatnya, konflik terbesar film justru datang dari perjalanan emosional Kara sendiri.
Untungnya, hal itu masih cukup untuk membuat penonton tetap terikat hingga akhir.
Visualnya Cantik, Terasa Seperti Membaca Komik
Craig Gillespie berhasil mempertahankan identitas Supergirl: Woman of Tomorrow.
Setiap planet memiliki warna dan karakter yang berbeda.
Nuansa kosmik berpadu dengan tone yang hangat membuat film terasa seperti halaman komik yang hidup.
Visualnya spektakuler, tetapi tidak pernah mencuri perhatian dari cerita.
Semuanya bekerja untuk mendukung perjalanan karakter.
Kesimpulan
Supergirl (2026) mungkin bukan film superhero paling penuh aksi yang pernah dibuat DC.
Namun justru karena itulah film ini terasa berbeda.
Ini adalah film tentang kehilangan.
Tentang menemukan keluarga baru.
Tentang belajar memaafkan.
Dan tentang bagaimana seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa ternyata masih harus belajar menjadi manusia.
Jika Superman mengajarkan bahwa harapan bisa menyelamatkan dunia, maka Supergirl mengajarkan bahwa bahkan orang terkuat pun tetap membutuhkan seseorang untuk memahami dirinya.
Dan mungkin…
Itulah kekuatan super yang sebenarnya.
Penulis Anya
Editor Nuty Laraswaty




































