Deep Water (2026)
Kalau Kamu Takut Naik Pesawat, Film Ini Mungkin Bikin Kamu Takut Laut Juga
Pernah nggak sih, lagi naik pesawat terus tiba-tiba kepikiran…
“Gimana kalau mesinnya mati di tengah laut?”
Saya yakin hampir semua orang pernah punya pikiran seaneh itu.
Lalu lihat trailer di atas?
Deep Water mengambil ketakutan sederhana tersebut, lalu mengubahnya menjadi mimpi buruk selama hampir dua jam.
Yang membuat saya penasaran sejak awal sebenarnya bukan hiunya.
Melainkan satu nama, yaitu Renny Harlin. Sutradara yang pernah membuat Deep Blue Sea, salah satu film hiu yang sampai sekarang masih sering masuk daftar film survival yang patut diperhatikan karyanya.

Jadi ketika tahu ia kembali membuat film tentang manusia yang terjebak di tengah lautan…Saya langsung berpikir…“Oke, ini bakal seru.”
Lalu setelah film selesai… Saya justru punya pertanyaan lain.
Apakah semua sutradara memang harus melawan bayang-bayang film terbaiknya sendiri?
Jadi, ceritanya tentang apa?
Semuanya dimulai dari penerbangan biasa.
Rute Los Angeles menuju Shanghai. Tidak ada yang aneh. Penumpangnya biasa saja.
Sampai… pesawat mengalami kerusakan mesin tepat di atas Samudra Pasifik. Pilot akhirnya mengambil keputusan yang mungkin paling ditakuti semua orang.
Mendarat di tengah laut. Kalau dipikir-pikir… berhasil mendarat saja sebenarnya sudah luar biasa. Masalahnya…mereka belum benar-benar selamat.

Pesawat perlahan tenggelam.
Tidak ada sinyal.
Tidak ada bantuan.
Persediaan mulai habis.
Dan yang paling buruk…
laut mulai mencium bau darah.
Kalau sudah begitu…
kita semua tahu siapa tamu yang akan datang.
Yang bikin saya betah duduk sampai akhir…
1. Renny Harlin masih tahu cara bikin jantung deg-degan
Harus saya akui.
Adegan pendaratan daruratnya keren.
Bukan karena ledakannya besar.
Tetapi karena dibuat terasa nyata.
Air masuk sedikit demi sedikit.
Orang-orang mulai panik.
Suara alarm terus berbunyi.
Kemudian penceritaan kejadian di lokasi terasa masih membawa tata cara pengambilan adegan pada film Deep Blue Sea. Saya langsung merasa, Renny Harlin masih belum kehilangan sentuhannya.
Namun ya itu saja.

2. Ternyata hiu bukan musuh yang paling menyeramkan
Lucunya, setelah menonton cukup lama…
Saya malah merasa hiu bukan ancaman utama.
Yang lebih menyeramkan justru manusianya sendiri.
Saat makanan mulai habis. Saat harapan mulai hilang. Saat semua orang mulai berpikir untuk menyelamatkan dirinya masing-masing.
Di titik itu saya merasa…
“Nah, ini menarik.”
Karena film seperti ini sebenarnya bukan hanya soal bertahan hidup.
Tetapi juga soal… seberapa lama seseorang bisa tetap menjadi manusia ketika hidupnya sedang dipertaruhkan.
Sayangnya… film ini tidak benar-benar mengeksplorasi sisi tersebut. Sehingga jadinya kok monoton saja.
3. Masalahnya… saya seperti pernah menonton film ini
Ini bukan berarti Deep Water jelek.
Sama sekali bukan. Tetapi berkali-kali saya merasa… “Eh, adegan seperti ini rasanya pernah ada.”
Entah mengingatkan saya pada Jaws, atau The Shallows. Lalu mendadak merasa ini adalah adegan yang ada di 47 Meters Down.
Film ini menurut saya bercerita mengenai kecerobohan. Satu kesalahan kecil. Satu prosedur yang diabaikan. Satu keputusan yang dianggap sepele.
Dan semuanya berubah menjadi tragedi.
Jadi… layak ditonton?
Kalau kamu datang dengan ekspektasi ingin melihat Deep Blue Sea versi 2026…
Mungkin kamu akan sedikit kecewa.
Tetapi kalau kamu hanya ingin menikmati film survival yang cukup menegangkan sambil sesekali membuat tangan refleks menggenggam sandaran kursi bioskop…
Deep Water masih bisa memberikan pengalaman itu.
Film ini memang tidak menemukan formula baru.
Namun Renny Harlin masih cukup berpengalaman untuk membuat ketegangan terasa konsisten dari awal hingga akhir.

Penulis Anggy, Editor Nuty Laraswaty



































