Film Dear You premisnya sederhana sekaligus menggoda.
Xiaowei pergi ke Thailand demi menemui kakeknya, Den Bhagseng, seorang perantau yang konon telah menjadi miliarder di negeri orang.
Ini trailernya
Maka wajar jika saya mengira Dear You akan menjadi kisah reuni yang hangat, tentang seorang cucu yang akhirnya bertemu kakek kaya raya yang selama ini hanya jadi legenda keluarga.
Namun sutradara Lan Hongchun memilih jalan yang berbeda. Bukan berarti ia menghilangkan sosok sang kakek. Justru sebaliknya.
Ia membuat pencarian itu berubah arah, dari mengejar kekayaan menjadi menggali luka. Lan Hongchun Mengubah Pencarian Harta Menjadi Pencarian Sejarah
Melalui alur cerita yang lambat namun dengan gambar penuh cerita sejarah, yang saya lihat sepanjang film bukanlah seorang cucu yang menemukan gudang uang. Saya melihat seorang cucu yang menemukan tumpukan qiaopi, surat-surat lawas dan bukti kiriman uang yang dikirimkan para perantau Tionghoa pada masa lalu.
Setiap lembar surat yang dibuka Xiaowei terasa seperti membuka lapisan sejarah keluarganya sendiri.
Setiap catatan kiriman uang terasa seperti pengakuan diam-diam atas kerinduan yang tidak pernah sempat terucap.
Dear You berhasil mengubah cerita pencarian kakek menjadi perjalanan menelusuri jejak diaspora Tionghoa yang jarang dibicarakan di layar lebar.
Hari ini kita mungkin hanya mengenalnya sebagai sejarah migrasi.
Film ini memang tidak pernah menjelaskannya lewat narasi yang menggurui.
Namun kerinduan, penantian, hingga pengorbanan para perantau itu terasa begitu nyata lewat setiap surat yang dibacakan.

Menurut saya, inilah kekuatan terbesar film ini.
Lan Hongchun tidak sedang membuat film tentang kekayaan.
Ia sedang berbicara mengenai kehilangan.
Berdasarkan riset, sayapun mengetahui bahwa bahasa yang digunakan mengandung unsur dialek Teochew. Ini bukan sekadar pilihan bahasa, tetapi cara sutradara mengajak penontonnya untuk memahami konteks dan sejarah dalam film ini.
Kemudian penontonpun juga dibawa untuk memahami, film ini bukan semata membahas sejarah karena latar Thailand dan Chinanya yang kontras, juga bukan karena qiaopi yang jadi benda pusat cerita.
Saya merasakan bagaimana sutradara ini mengambil sebuah keputusan mengapa menggunakan dialek Teochew secara penuh sebagai bahasa utama, karena ada unsur kehangatan yang sulit digantikan oleh bahasa Mandarin standar. Terutama bagi penonton yang awam akan bahasa ini.
Mungkin pilihan ini sama seperti pilihan mengapa film Indonesia berjudul Panggil Aku Ayah (2025) sebagai adaptasi dari film Korea, menggunakan bahasa Sunda sebagai dialek yang lebih utama.
Salah seorang penonton, bahkan menyampaikan bahwa saat dialek Chaoshan itu mengalun , misalnya saat adegan di sela adegan rumah, penonton seperti diajak duduk di meja makan keluarga sendiri.
Namun memang alurnya sangat lambat karena dibuat dengan perincian detil, dan walaupun menarik, nampaknya dapat menjadi segmented . Pendapat saya, film ini bukan hanya ditonton namun untuk didengarkan juga dan ini memang tak buat semua penonton.
Kejujuran bahasa seperti inilah yang mulai jarang diberikan oleh film-film diaspora modern yang lebih memilih dialog yang aman dan universal.

Kemudian ada nenek di Shantou yang saya rasa sayang sekali ditempatkan hanya sebagai latar belakang dari kisah kepergian sang kakek.
Padahal, jika kita membaca lebih dalam apa yang tersirat lewat qiaopi itu sendiri, dialah yang sebenarnya menanggung beban paling berat.
Selama sang kakek merantau demi mengubah nasib keluarga,Dialah yang tinggal di kampung halaman menunggu kabar yang datang lewat surat, bukan lewat panggilan telepon.
Dialah yang membesarkan anak-anak sendirian di tengah kerasnya sejarah hidup para keluarga imigran.
Dialah yang menghitung hari lewat setiap kiriman uang yang datang, berharap suatu saat suaminya benar-benar pulang.
Nenek itu bukan sekadar tokoh pelengkap dalam cerita kesuksesan sang kakek.
Ia adalah fondasi dari keluarga yang tetap utuh meski ditinggal merantau puluhan tahun, pun juga lebih diposisikan sebagai simbol kesetiaan dibandingkan seorang perempuan yang benar-benar bertahan hidup sendirian demi keluarganya.
Sepanjang film, yang dikejar dan dicari adalah jejak sang kakek, laki-laki yang pergi mengadu nasib.
Namun siapa yang benar-benar menelusuri kisah perempuan yang ditinggalkan?
Dalam sejarah qiaopi, para istri dan ibu di kampung halaman adalah penjaga rumah tangga sekaligus penjaga harapan selama bertahun-tahun.
Merekalah yang membaca setiap surat berulang kali, menunggu kabar yang bisa datang terlambat bertahun-tahun.
Sementara nasib mereka nyaris tidak pernah dicatat sejarah selain sebagai penerima kiriman uang.
Bukankah ini cara sejarah migrasi bekerja sejak dulu? Laki-laki diberi ruang untuk pergi dan mencari nasib baru. Perempuan diminta menunggu dan menjaga apa yang tersisa.
Film ini memang tidak mencoba membahasnya lebih jauh. Namun justru karena hanya disentuh lewat surat-surat singkat, pertanyaan-pertanyaan itu terus tinggal di kepala saya bahkan setelah lampu bioskop menyala.
Kesimpulan Dear You adalah salah satu film diaspora Tionghoa yang paling jujur secara emosional, terutama lewat penggunaan dialek Teochew dan qiaopi sebagai jantung ceritanya.
Film ini berhasil mengubah kisah pencarian seorang kakek kaya menjadi refleksi tentang kerinduan, pengorbanan, dan sejarah para perantau yang jarang diceritakan.
Baca juga : Festival Film Guangdong di Indonesia
Berikut adalah daftar lengkap pemain utama beserta perannya dalam film Dear You (Gei A Ma De Qing Shu) Pemain Utama (Aktor Amatir Chaoshan)
- Zheng Runqi berperan sebagai Xiaowei (Hiau-ui): Sang cucu yang nekat pergi ke Thailand demi mencari kakeknya untuk menyelesaikan masalah utang keluarga. [4]
- Wu Shaoqing berperan sebagai Ye Shurou (Nenek Tua): Nenek di kampung halaman yang setia menanti surat dan kepulangan suaminya selama puluhan tahun. [4, 6]
- Wang Xiaohui berperan sebagai Ye Shurou (Masa Muda): Menampilkan masa muda sang nenek pada era 1950-an di China. [4, 5, 7]
- Li Sitong berperan sebagai Xie Nanzhi: Tokoh kunci di masa lalu yang menyimpan rahasia besar di balik surat-surat qiaopi. [4, 8]
- Wang Yantong berperan sebagai Zheng Musheng: Karakter penting dalam plot masa lalu yang terikat dengan sejarah diaspora. [4, 5]
Penampilan Khusus & Pemeran Pendukung
- Usha Seamkhum berperan sebagai Xie Nanzhi (Masa Tua): Aktris senior legendaris asal Thailand (terkenal lewat film How to Make Millions Before Grandma Dies) yang menjadi satu-satunya aktor profesional di film ini.
- Zhao Shuguang
- Li Deru
- Xie Zehua
- Li Shuhao berperan sebagai Ayah Chu Yuan
- Aunt RuÂ
Sutradara Lan Hongchun merekrut para pemain lokal ini melalui wawancara langsung demi mempertahankan keaslian emosi dan pelafalan dialek Teochew yang menjadi ruh utama film ini. Jika Anda tertarik mendalami film ini, beri tahu saya jika Anda ingin tahu:
- Proses audisi unik yang dilakukan Lan Hongchun untuk menemukan para pemain amatir ini
- Lokasi syuting film yang berpindah dari Shantou (China) hingga ke Bangkok (Thailand)





































