Upaya pelestarian kuliner Nusantara terus dilakukan melalui berbagai medium kreatif. Salah satunya lewat program Indonesia Kaya yang kembali menghadirkan Kuliner Indonesia Kaya pada tahun 2026.
Dalam episode terbarunya, webseries ini mengangkat kisah kuliner dari tiga daerah yang memiliki sejarah budaya kuat, yaitu Ternate, Palembang, dan Banten. Ketiga wilayah ini dipilih karena memiliki tradisi kuliner yang tidak hanya kaya rasa, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang sejarah, perdagangan, serta akulturasi budaya di Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Indonesia Kaya yang sejak 2017 konsisten mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara melalui format audiovisual yang dapat dinikmati secara luas. Webseries Kuliner Indonesia Kaya dapat disaksikan melalui kanal YouTube IndonesiaKaya.
Mengungkap Cerita di Balik Hidangan Nusantara
Menurut Renitasari Adrian, program ini tidak hanya menampilkan kelezatan makanan, tetapi juga menggali kisah dan nilai budaya yang melekat pada setiap hidangan.
Ia menjelaskan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam mengolah bahan makanan, menjaga tradisi, serta mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi. Di situlah kekuatan kuliner Nusantara sebenarnya berada—bukan hanya pada rasa, tetapi juga pada sejarah, filosofi hidup, dan proses akulturasi budaya yang menyertainya.
Melalui episode terbaru ini, penonton diajak menjelajahi bagaimana kuliner berkembang sebagai bagian dari identitas masyarakat dan menjadi warisan budaya yang penting untuk terus dikenalkan kepada generasi masa kini.
Ternate: Tradisi Memasak dari Jalur Rempah
Episode pertama yang tayang pada 26 Februari 2026 membawa penonton ke Ternate, wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah Spice Route.
Di pulau ini, kuliner berkembang dari hubungan harmonis antara manusia dan alam. Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak tradisional yang memanfaatkan bambu sebagai wadah alami tanpa menggunakan peralatan dapur modern.
Pendiri Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Kris Syamsudin, menjelaskan bahwa tradisi ini berasal dari kebutuhan masyarakat untuk bertahan hidup saat berada di hutan.
Selain itu, episode ini juga memperkenalkan Gohu Ikan, hidangan khas yang menggunakan ikan tuna atau cakalang segar yang dipotong kecil dan dicampur dengan garam, perasan lemon cui, serta daun kemangi. Proses pengolahan yang minimal membuat cita rasa lautnya tetap segar dan alami.
Palembang: Kuliner yang Tumbuh dari Sungai Musi
Perjalanan kuliner berlanjut ke Palembang dalam episode kedua yang tayang pada 5 Maret 2026. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari Sungai Musi.
Salah satu hidangan yang diangkat adalah Pindang Ikan, masakan khas dengan kuah asam pedas segar yang menggunakan berbagai jenis ikan sungai seperti patin, gabus, atau baung.
Selain hidangan utama, episode ini juga menampilkan dua kue tradisional yang memiliki makna budaya mendalam, yaitu Kue Delapan Jam dan Kue Maksuba. Kue Delapan Jam dikenal karena proses pembuatannya yang membutuhkan waktu hingga delapan jam untuk menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan.
Sementara itu, Kue Maksuba menjadi bagian penting dalam tradisi pernikahan dan perayaan besar seperti Lebaran di masyarakat Palembang. Proses pembuatannya yang rumit melambangkan kesabaran, ketelitian, serta kedewasaan.
Banten: Jejak Kesultanan dalam Sajian Tradisional
Episode ketiga yang akan tayang pada 12 Maret 2026 menghadirkan kisah kuliner dari Banten, wilayah yang memiliki sejarah kuat sebagai pusat Kesultanan Banten.
Salah satu hidangan yang diangkat adalah Sate Bandeng, yang dipercaya menjadi makanan favorit Sultan Maulana Hasanuddin. Hidangan ini diciptakan oleh juru masak keraton untuk menyajikan ikan bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan.
Selain itu, terdapat pula Rabeg, hidangan berbahan dasar daging kambing atau sapi yang diyakini telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Menurut cerita turun-temurun, Rabeg terinspirasi dari pengalaman sang Sultan saat melakukan perjalanan ibadah haji dan singgah di kota Rabig di tepi Laut Merah.
Dokumentasi Warisan Gastronomi Indonesia
Sejak pertama kali diluncurkan pada 2017, Kuliner Indonesia Kaya terus berupaya mendokumentasikan kekayaan kuliner Indonesia secara konsisten.
Program ini tidak hanya menghadirkan visual makanan yang menggugah selera, tetapi juga merekam pengetahuan tradisional, nilai budaya, serta perjalanan sejarah yang membentuk identitas kuliner di berbagai daerah.
Melalui episode-episode yang ringkas namun sarat informasi, tayangan ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan menghargai warisan gastronomi Indonesia. Karena di balik setiap sajian kuliner Nusantara, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, identitas, dan perjalanan budaya bangsa.




































