Bad Genius
Film Bad Genius berkisah tentang seorang penerima beasiswa bernama Lynn Kang.
Anak perempuan dengan etnis China yang jenius, dan suka musik. Awalnya ia memberikan contekan pada temannya Grace, karena kasihan.
Kemudian alasan pertemanan berubah menjadi pemenuhan kebutuhan finansial dan dukungan dana untuk meraih cita-citanya bermain piano dan masuk ke Juliard.
Eskalasi ketegangan kecurangan di ruang ujian tidak berhenti di sekolah mereka saja, saat kemudian berkembang sampai pada ujian dengan klasifikasi keamanan yang tinggi yaitu SAT.
Ini adalah saat Lynn menemukan cara membantu teman-teman kayanya dengan melakukan perjalanan ke negara bagian lain menggunakan identitas palsu.
Review Film Bad Genius
Bagi para penyuka film Thailand, dengan mudah akan mengingat film berjudul sama yang mendapatkan penghargaan Suphannahong National Film Awards ke 27.
Merupakan film yang rilis di tahun 2017 dan saat dibuat versi serialnya , juga membawa hasil yang sama, kesuksesan dan buah bibir akan karya film yang fenomenal.
Kemudian melalui jajaran cast Benedict Wong, Taylor Hickson, Jabari Banks, Sarah-Jane Redmond, Callina Liang, Samuel Braun, Tina Grant, Conor Meadows . Film ini pun dibawa ke koridor romantisasi Barat.
Ini memang bukanlah tipe romantisasi Barat yang pertama , namun penekanan akhir cerita dengan gaya khas Barat ini , memang sedari awal sudah terasa.
Namun cek terlebih dahulu trailernya
Pertama adalah dengan memangkas jeda dialog gaya Asia, menjadi rentetan adegan tempo cepat dan lebih menekankan pada sisi thrillernya.
Namun sayangnya , justru ini menjadi sebuah bumerang , yang dirasakan telak , bagi para penonton yang telah melihat versi Asia nya.
Hal ini terasa pada ketegangan yang terbangun, menjadi berkesan terburu-buru.
Kedua adalah momen penekanan perubahan pada adegan thrillernya. Alasan sebab akibat yang dibangun, walaupun rasional.
Namun dirasakan penulis skenario , J.C. Lee dan Julius Onah terlalu memperingkas pokok permasalahan yang ada , dengan sebuah pemahaman . Ini memang alasan tipikal orang Asia dan Imigran gelap.
Tidak ada sama sekali rasa keterikatan rasa , yang membuat penonton tak mampu bergerak dari kursinya. Penonton dirasakan hanya mengikuti hingga akhir cerita film, hanya untuk mengetahui apakah sesuai dengan gaya penceritaan yang telah mereka kenal.
Ketiga, hubungan emosional yang terbangun, terasa menjadi tipikal penceritaan ala Barat , dengan versi penekanan bahwa di negara Barat.
Memang semua diukur hanya dari sisi moneter belaka. Ini adalah momen penting yang menunjukkan perbedaan pola pikir penulis Asia dan mereka yangtelah menynetuh rasa dari hidup dengan masyarakat dunia Barat.
Kritik Bad Genius
Membuat sebuah film dari dasar karya film yang terkenal, memang bukanlah sesuatu yang mudah.
Walaupun sang penulis skenario, memang berhasil membawa gaya penceritaan ke arah elemen khas penceritaan ala Barat.
Nampaknya bagi para penonton yang telah setia akan emosi yang terbangun dari versi Asia nya , akan merasakan bagaimana film ini mengecewakan ekspektasi mereka.
Sisi elemen yang diadaptasikan ke negara Barat pun menjadi sebuah penceritaan klise dan menggampangkan sebuah faktor masalah.
Terasa sekali , ini menjadi sebuah kisah yang memuat elemen persoalan “sambil lalu” dan riset mendalam akan masalah yang harus dihadapi oleh keturunan Asia dan imigran gelap menjadi tempelan belaka.
Sesuatu hal yang sangat disayangkan, mengingat para castnya adalah para penggiat seni yang termasuk jajaran papan atas.
Namun bagi penonton yang mencari hiburan ringan semata, film ini dipastikan akan menawarkan sisi romantisasi yang mereka kenali dan kangeni dari gaya penceritaan Barat







































