Belakangan ini, wacana menjadikan Jakarta sebagai “Kota Sinema” semakin sering terdengar.
Nama Rano Karno menjadi salah satu sosok yang paling aktif mendorong gagasan tersebut sejak menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta.
Namun pertanyaannya, apakah festival film termasuk festival film horor bulanan benar-benar bisa mengubah Jakarta menjadi ikon perfilman Indonesia? Dan apakah ide “Jakarta Kota Sinema” memang murni berasal dari gagasan Rano Karno?
Jawabannya ternyata cukup menarik. Dirangkum sebagai berikut :
Q : Mengapa Festival Film Penting untuk Sebuah Kota?
Festival film bukan sekadar acara menonton film. Di banyak negara, festival film adalah alat budaya, ekonomi, sekaligus branding kota.
Kota seperti:
- Cannes lewat Cannes Film Festival,
- Busan lewat Busan International Film Festival,
- hingga Toronto lewat Toronto International Film Festival,
berhasil membangun identitas global karena festival film mereka berlangsung konsisten selama bertahun-tahun.
Festival film menciptakan:
- wisata budaya,
- ruang bertemu sineas,
- ekosistem ekonomi kreatif,
- perhatian media internasional,
- hingga identitas kota.
Karena itu, ketika Jakarta mulai serius membicarakan “Kota Sinema”, festival film otomatis menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Q : Apakah Gagasan “Jakarta Kota Sinema” Datang dari Rano Karno?
Jawabannya: iya, tetapi bukan sepenuhnya ide baru yang muncul tiba-tiba.
Rano Karno memang menjadi tokoh politik yang paling aktif membawa slogan “Jakarta Kota Sinema” ke ruang publik dalam dua tahun terakhir. Ia beberapa kali secara terbuka menyatakan ingin membangun ekosistem perfilman Jakarta hingga level internasional.
Dalam berbagai pernyataan resmi, Rano Karno bahkan menyebut:
- ingin membentuk Jakarta Film Commission,
- menghadirkan festival film internasional,
- dan menjadikan Jakarta pusat industri kreatif audiovisual.
Saat menghadiri Cannes Film Festival tahun 2025, ia secara langsung memperkenalkan kampanye “Jakarta Kota Sinema” kepada jaringan perfilman global.
Namun jika diulik lebih dalam, gagasan menjadikan Jakarta sebagai pusat perfilman sebenarnya sudah lama muncul dari komunitas film, festival independen, dan pelaku industri kreatif Jakarta.
Festival seperti:
- Jakarta Film Week,
- JAFF,
- hingga komunitas film alternatif,
sudah bertahun-tahun membangun budaya sinema sebelum slogan itu dipopulerkan secara politik.
Artinya, Rano Karno bukan pencetus tunggal budaya festival film Jakarta, tetapi ia menjadi figur pemerintah yang paling serius membawa gagasan itu ke level kebijakan dan branding kota.
Q : Mengapa Festival Film Horor Bisa Menjadi Menarik untuk Jakarta?
Ini bagian yang paling menarik.
Indonesia, khususnya Jakarta, punya hubungan yang sangat kuat dengan genre horor. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, film horor menjadi genre paling dominan di bioskop Indonesia. Banyak diskusi komunitas film juga menyebut genre ini sebagai “penopang industri bioskop daerah.”
Karena itu, festival film horor bulanan sebenarnya punya potensi besar jika dikembangkan serius.
Kenapa?
Karena horor Indonesia memiliki:
- basis penonton loyal,
- budaya urban dan mitologi lokal,
- komunitas fanatik,
- serta daya viral tinggi di media sosial.
Festival horor bulanan bisa menjadi:
- tempat pemutaran film independen,
- ruang komunitas kreatif,
- destinasi wisata malam,
- hingga identitas budaya pop Jakarta.
Apalagi kota-kota dunia seperti Sitges terkenal karena festival film fantastik dan horornya.
Jika Jakarta memiliki festival horor rutin yang konsisten, bukan tidak mungkin kota ini dikenal sebagai pusat horor Asia Tenggara.

Q : Tetapi Apakah Festival Bulanan Saja Cukup?
Tidak.
Festival hanyalah “panggung.” Yang membuat sebuah kota benar-benar menjadi kota film adalah ekosistemnya.
Jakarta membutuhkan:
- sekolah film,
- insentif produksi,
- lokasi syuting ramah industri,
- arsip film,
- bioskop alternatif,
- komunitas aktif,
- hingga dukungan distribusi internasional.
Inilah alasan mengapa Rano Karno juga berbicara tentang pembentukan Jakarta Film Commission, bukan sekadar festival.
Karena tanpa sistem industri yang kuat, festival hanya akan menjadi acara seremonial tahunan.
Q : Apakah Jakarta Sudah Punya Modal Menjadi Kota Film?
Secara realistis: iya.
Jakarta punya:
- sejarah perfilman panjang,
- jumlah bioskop terbesar,
- pusat media nasional,
- rumah produksi besar,
- komunitas kreatif aktif,
- dan perhatian publik yang tinggi terhadap film.
Ditambah lagi, budaya nongkrong, diskusi film, hingga fandom horor di Jakarta sangat kuat.
Bahkan festival kecil dan alternatif mulai bermunculan, termasuk festival independen dan eksperimental yang ramai dibicarakan komunitas film online. (Reddit)
Masalah utamanya bukan potensi, tetapi konsistensi kebijakan dan keberanian membangun identitas budaya jangka panjang.
Jadi, Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?
Bisa , jika dijalankan serius dan konsisten.
Festival horor bulanan mungkin terdengar niche, tetapi justru genre horor adalah salah satu identitas terkuat perfilman Indonesia saat ini.
Jika dikemas dengan:
- pasar film,
- diskusi kreatif,
- screening komunitas,
- wisata budaya malam,
- cosplay,
- hingga kolaborasi internasional,
festival horor bisa menjadi “signature culture” Jakarta seperti yang dimiliki beberapa kota dunia.
Dan dari semua tokoh politik saat ini, Rano Karno memang terlihat sebagai salah satu figur yang paling serius mendorong Jakarta menjadi kota sinema — meski gagasan budaya film itu sendiri sudah lama hidup di komunitas perfilman independen Indonesia.
Link Resmi dan Referensi
- ANTARA News – Rano Karno tegaskan Jakarta serius ingin jadi kota sinema
- Kompas – Rano Karno ingin Jakarta adakan festival film internasional
- Liputan6 – Jakarta Kota Sinema dan penguatan ekosistem film
- Festival de Cannes Official Website
- Jakarta Film Week Official Instagram
- JAFF – Jogja-NETPAC Asian Film Festival
Sumber Istimewa




































