• Latest
Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

12 May, 2026
Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

12 May, 2026
Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?

Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?

12 May, 2026
Review Film “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”: Saat Keluarga Menjadi Penjaga Kenangan

Review Film “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”: Saat Keluarga Menjadi Penjaga Kenangan

12 May, 2026
Yang Lain Boleh Hilang

Gala Premiere Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan Tuai Reaksi Positif di TikTok dan Instagram

10 May, 2026
Sinopsis In the Grey dan Update Kabar Terbaru

Sinopsis In the Grey dan Update Kabar Terbaru

10 May, 2026
Badut Gendong Gelar Exclusive Screening untuk Fans Universe Qodrat

Badut Gendong Gelar Exclusive Screening untuk Fans Universe Qodrat

8 May, 2026
Next Step Studio 2026

4 Film Pendek Indonesia Tayang di Cannes 2026 melalui Next Step Studio 2026

7 May, 2026
Ketika Pernikahan Tidak Lagi Seimbang,Saat Pasangan “Kalah” oleh Keluarga Sendiri

Ketika Pernikahan Tidak Lagi Seimbang,Saat Pasangan Kalah oleh Keluarga Sendiri

7 May, 2026
Review The Bell: Panggilan untuk Mati

Review The Bell: Panggilan untuk Mati

7 May, 2026
Program Nonton Nonstop, Menyatukan Film dan Seri Young-Adult Dengan Komunitas Penggemarnya

Program Nonton Nonstop, Menyatukan Film dan Seri Young-Adult Dengan Komunitas Penggemarnya

6 May, 2026
Update Film Nobody Loves Kay – Kairi

Mengenal ONIC Esports dalam Film Nobody Loves Kay dibintangi Bima Azriel

6 May, 2026
Update Film Nobody Loves Kay – Kairi

Update Film Nobody Loves Kay – Kairi

6 May, 2026
iQIYI Perkuat Strategi 2026 di Indonesia: Fokus Dracin, Konten Lokal, dan Starship Fan Experience

iQIYI Perkuat Strategi 2026 di Indonesia: Fokus Dracin, Konten Lokal, dan Starship Fan Experience

5 May, 2026
Film “Suamiku Lukaku” Rilis Trailer: Angkat Isu KDRT di Balik Keluarga Harmonis

Film “Suamiku Lukaku” Rilis Trailer: Angkat Isu KDRT di Balik Keluarga Harmonis

5 May, 2026
Tiga Asosiasi Produser Film Indonesia Bersatu, Industri Masuk Era Baru!

Tiga Asosiasi Produser Film Indonesia Bersatu, Industri Masuk Era Baru!

5 May, 2026
Review Salmokji Whispering Water

Review Salmokji Whispering Water

2 May, 2026
Review Ikatan Darah

Review Ikatan Darah

2 May, 2026
Trailer Citadel Season 2 Rilis, Netizen Soroti “Tim Baru, Misi Baru” yang Lebih Intens

Trailer Citadel Season 2 Rilis, Netizen Soroti “Tim Baru, Misi Baru” yang Lebih Intens

27 April, 2026
Mengenal Gelung Nusantara: Warisan Budaya Perempuan Indonesia yang Kembali Tren di Era Modern

Mengenal Gelung Nusantara: Warisan Budaya Perempuan Indonesia yang Kembali Tren di Era Modern

27 April, 2026
Trailer Off Campus Rilis, Netizen Soroti “Ruang Ganti” hingga Nuansa Romansa yang Intens

Trailer Off Campus Rilis, Netizen Soroti “Ruang Ganti” hingga Nuansa Romansa yang Intens

27 April, 2026
“Dapur Sumur Tutur” Suguhkan Pergulatan Perempuan Lintas Generasi, Tuai Respons Emosional Penonton

“Dapur Sumur Tutur” Suguhkan Pergulatan Perempuan Lintas Generasi, Tuai Respons Emosional Penonton

27 April, 2026
Ikatan Darah: Film Action Indonesia 2026 Paling Intens

Ikatan Darah: Film Action Indonesia 2026 Paling Intens

24 April, 2026
Review Mother Mary, diperankan oleh Anne Hathaway

Review Mother Mary, diperankan oleh Anne Hathaway

24 April, 2026
The Drama

Review Film The Drama: Ketika Cinta Diuji di Tengah Kekacauan Pernikahan

21 April, 2026
Luka Makan Cinta: Drama Dapur Penuh Emosi tentang Relasi Ibu dan Anak

Luka Makan Cinta: Drama Dapur Penuh Emosi tentang Relasi Ibu dan Anak

18 April, 2026
The Magic Faraway Tree

The Magic Faraway Tree (2026): Sinopsis, Pemeran, dan Pesan Keluarga di Era Digital

17 April, 2026
Shaka Oh Shaka: Sinopsis, Jadwal Tayang 7 Mei 2026 & Kisah Cinta Fans dengan Idola

Film Shaka Oh Shaka: Sinopsis, Jadwal Tayang, dan Fakta Menarik Kisah Cinta Fans & Idola

14 April, 2026
Climax Episode 7–8: Makin Panas! Saat Ambisi dan Cinta Mulai Bertabrakan

Climax Episode 7–8: Makin Panas! Saat Ambisi dan Cinta Mulai Bertabrakan

13 April, 2026
Kupilih Jalur Langit

Siapa Sebenarnya Elizasifaa? Kenapa Ceritanya Selalu Viral dan Diangkat Jadi Film?

31 March, 2026
Sinopsis & Review Film David (2025), Animasi Alkitab Tentang Daud yang Viral

Sinopsis & Review Film David (2025), Animasi Alkitab Tentang Daud yang Viral

31 March, 2026
Laraswaty
  • Movie Review
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner
No Result
View All Result
Laraswaty
No Result
View All Result
Advertisement Banner
ADVERTISEMENT
Home Movie Review Article
Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

by Nuty Laraswaty
12 May, 2026
in Article, Interview
251 2
0
Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, wacana menjadikan Jakarta sebagai “Kota Sinema” semakin sering terdengar.

Nama Rano Karno menjadi salah satu sosok yang paling aktif mendorong gagasan tersebut sejak menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

Namun pertanyaannya, apakah festival film termasuk festival film horor bulanan  benar-benar bisa mengubah Jakarta menjadi ikon perfilman Indonesia? Dan apakah ide “Jakarta Kota Sinema” memang murni berasal dari gagasan Rano Karno?

Jawabannya ternyata cukup menarik. Dirangkum sebagai berikut :

Q : Mengapa Festival Film Penting untuk Sebuah Kota?

Festival film bukan sekadar acara menonton film. Di banyak negara, festival film adalah alat budaya, ekonomi, sekaligus branding kota.

Kota seperti:

  • Cannes lewat Cannes Film Festival,
  • Busan lewat Busan International Film Festival,
  • hingga Toronto lewat Toronto International Film Festival,

berhasil membangun identitas global karena festival film mereka berlangsung konsisten selama bertahun-tahun.

Festival film menciptakan:

  • wisata budaya,
  • ruang bertemu sineas,
  • ekosistem ekonomi kreatif,
  • perhatian media internasional,
  • hingga identitas kota.

Karena itu, ketika Jakarta mulai serius membicarakan “Kota Sinema”, festival film otomatis menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Q : Apakah Gagasan “Jakarta Kota Sinema” Datang dari Rano Karno?

Jawabannya: iya, tetapi bukan sepenuhnya ide baru yang muncul tiba-tiba.

Rano Karno memang menjadi tokoh politik yang paling aktif membawa slogan “Jakarta Kota Sinema” ke ruang publik dalam dua tahun terakhir. Ia beberapa kali secara terbuka menyatakan ingin membangun ekosistem perfilman Jakarta hingga level internasional.

Dalam berbagai pernyataan resmi, Rano Karno bahkan menyebut:

  • ingin membentuk Jakarta Film Commission,
  • menghadirkan festival film internasional,
  • dan menjadikan Jakarta pusat industri kreatif audiovisual.

Saat menghadiri Cannes Film Festival tahun 2025, ia secara langsung memperkenalkan kampanye “Jakarta Kota Sinema” kepada jaringan perfilman global.

Namun jika diulik lebih dalam, gagasan menjadikan Jakarta sebagai pusat perfilman sebenarnya sudah lama muncul dari komunitas film, festival independen, dan pelaku industri kreatif Jakarta.

Festival seperti:

  • Jakarta Film Week,
  • JAFF,
  • hingga komunitas film alternatif,

sudah bertahun-tahun membangun budaya sinema sebelum slogan itu dipopulerkan secara politik.

Artinya, Rano Karno bukan pencetus tunggal budaya festival film Jakarta, tetapi ia menjadi figur pemerintah yang paling serius membawa gagasan itu ke level kebijakan dan branding kota.

Q : Mengapa Festival Film Horor Bisa Menjadi Menarik untuk Jakarta?

Ini bagian yang paling menarik.

Indonesia, khususnya Jakarta, punya hubungan yang sangat kuat dengan genre horor. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, film horor menjadi genre paling dominan di bioskop Indonesia. Banyak diskusi komunitas film juga menyebut genre ini sebagai “penopang industri bioskop daerah.”

Karena itu, festival film horor bulanan sebenarnya punya potensi besar jika dikembangkan serius.

Kenapa?

Karena horor Indonesia memiliki:

  • basis penonton loyal,
  • budaya urban dan mitologi lokal,
  • komunitas fanatik,
  • serta daya viral tinggi di media sosial.

Festival horor bulanan bisa menjadi:

  • tempat pemutaran film independen,
  • ruang komunitas kreatif,
  • destinasi wisata malam,
  • hingga identitas budaya pop Jakarta.

Apalagi kota-kota dunia seperti Sitges terkenal karena festival film fantastik dan horornya.

Jika Jakarta memiliki festival horor rutin yang konsisten, bukan tidak mungkin kota ini dikenal sebagai pusat horor Asia Tenggara.

Q : Tetapi Apakah Festival Bulanan Saja Cukup?

Tidak.

Festival hanyalah “panggung.” Yang membuat sebuah kota benar-benar menjadi kota film adalah ekosistemnya.

Jakarta membutuhkan:

  • sekolah film,
  • insentif produksi,
  • lokasi syuting ramah industri,
  • arsip film,
  • bioskop alternatif,
  • komunitas aktif,
  • hingga dukungan distribusi internasional.

Inilah alasan mengapa Rano Karno juga berbicara tentang pembentukan Jakarta Film Commission, bukan sekadar festival.

Karena tanpa sistem industri yang kuat, festival hanya akan menjadi acara seremonial tahunan.

Q : Apakah Jakarta Sudah Punya Modal Menjadi Kota Film?

Secara realistis: iya.

Jakarta punya:

  • sejarah perfilman panjang,
  • jumlah bioskop terbesar,
  • pusat media nasional,
  • rumah produksi besar,
  • komunitas kreatif aktif,
  • dan perhatian publik yang tinggi terhadap film.

Ditambah lagi, budaya nongkrong, diskusi film, hingga fandom horor di Jakarta sangat kuat.

Bahkan festival kecil dan alternatif mulai bermunculan, termasuk festival independen dan eksperimental yang ramai dibicarakan komunitas film online. (Reddit)

Masalah utamanya bukan potensi, tetapi konsistensi kebijakan dan keberanian membangun identitas budaya jangka panjang.

Jadi, Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

Bisa , jika dijalankan serius dan konsisten.

Festival horor bulanan mungkin terdengar niche, tetapi justru genre horor adalah salah satu identitas terkuat perfilman Indonesia saat ini.

Jika dikemas dengan:

  • pasar film,
  • diskusi kreatif,
  • screening komunitas,
  • wisata budaya malam,
  • cosplay,
  • hingga kolaborasi internasional,

festival horor bisa menjadi “signature culture” Jakarta seperti yang dimiliki beberapa kota dunia.

Dan dari semua tokoh politik saat ini, Rano Karno memang terlihat sebagai salah satu figur yang paling serius mendorong Jakarta menjadi kota sinema — meski gagasan budaya film itu sendiri sudah lama hidup di komunitas perfilman independen Indonesia.

Link Resmi dan Referensi

  • ANTARA News – Rano Karno tegaskan Jakarta serius ingin jadi kota sinema
  • Kompas – Rano Karno ingin Jakarta adakan festival film internasional
  • Liputan6 – Jakarta Kota Sinema dan penguatan ekosistem film
  • Festival de Cannes Official Website
  • Jakarta Film Week Official Instagram
  • JAFF – Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Sumber Istimewa

Tags: Festival Film HororJakarta Kota SinemaKota SinemaRano Karnosignature culture
Previous Post

Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?

Next Post

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

Nuty Laraswaty

Nuty Laraswaty

Related Posts

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?
Article

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

12 May, 2026
Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?
Article

Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?

12 May, 2026
Yang Lain Boleh Hilang
Article

Gala Premiere Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan Tuai Reaksi Positif di TikTok dan Instagram

10 May, 2026
Sinopsis In the Grey dan Update Kabar Terbaru
Action

Sinopsis In the Grey dan Update Kabar Terbaru

10 May, 2026
Badut Gendong Gelar Exclusive Screening untuk Fans Universe Qodrat
Article

Badut Gendong Gelar Exclusive Screening untuk Fans Universe Qodrat

8 May, 2026
Next Step Studio 2026
Interview

4 Film Pendek Indonesia Tayang di Cannes 2026 melalui Next Step Studio 2026

7 May, 2026
Next Post
Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?
Article

Mengapa Festival Film Australia Indonesia di Jakarta Selalu Full House?

by Nuty Laraswaty
12 May, 2026
0

Fenomena penuhnya penonton di berbagai pemutaran festival film Australia Indonesia sebenarnya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir,...

Read more

Bisakah Festival Film Horor Bulanan Menjadikan Jakarta Ikon Perfilman?

Mengapa Film Gohan Begitu Dicintai Penonton?

Review Film “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”: Saat Keluarga Menjadi Penjaga Kenangan

Gala Premiere Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan Tuai Reaksi Positif di TikTok dan Instagram

Laraswaty

Copyright@2025

  • About
  • Contact
  • Privacy Policy

No Result
View All Result
  • Movie Review
    • Action
    • Comedy
    • Drama
    • Superhero
    • Sci-fi
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner

Copyright@2025

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In