Film drama Thailand produksi GDH 559 berjudul Gohan ini mungkin terlihat sederhana di permukaan.

Kisahnya hanya tentang seekor anjing jalanan yang berpindah dari satu manusia ke manusia lain.
Namun justru kesederhanaannya inilah yang menarik perhatian dan menyentuh emosi penontonnya.
Sejak adegan pembuka, sutradara seperti mengajak penonton melihat dunia dari perspektif seekor anjing. Kamera bergerak rendah mengikuti langkah kaki Gohan yang terus berjalan tanpa tujuan sampai akhirnya berhenti di depan supermarket.
Di sanalah hidupnya berubah ketika seorang pensiunan insinyur asal Jepang memberinya makan dan membawanya pulang.
Cek trailernya disini
Review Gohan
Salah satu hal paling menyakitkan dari Gohan adalah bagaimana film ini berbicara tentang arti rumah. Bagi manusia, rumah mungkin sebuah bangunan. Namun bagi seekor anjing, rumah adalah seseorang yang membuatnya merasa aman.
Ketika si insinyur Jepang pensiun dan tinggal bersama Gohan di rumah pantai Thailand, hubungan mereka terasa begitu hangat dan tulus. Tidak banyak dialog dramatis. Tidak ada musik yang berusaha memaksa emosi. Tetapi interaksi kecil mereka terasa nyata seperti kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika pandemi Covid merenggut nyawa sang pemilik, kehilangan itu terasa sangat sunyi.
Dan sejak titik itulah film berubah menjadi perjalanan tentang kehilangan demi kehilangan.
Gohan berpindah tangan. Berganti nama menjadi Brownie. Lalu berubah lagi menjadi Hima.
Namun jika dikaji secara mendalam, yang sebenarnya berubah bukan hanya namanya, melainkan identitas dan rasa percaya dirinya terhadap manusia.
Film ini seperti ingin mengatakan bahwa seekor anjing tidak pernah benar-benar mengerti kenapa manusia pergi meninggalkannya.
Di balik kisah emosionalnya, Gohan juga menyimpan kritik sosial yang cukup tajam.
Bagian shelter anjing menjadi salah satu adegan paling disturbing dalam film ini. Anjing-anjing ditempatkan di kandang sempit seperti penjara, diberi makan seadanya, lalu dijadikan alat mencari donasi lewat media sosial. Film ini secara halus menyindir fenomena eksploitasi hewan berkedok penyelamatan atau charity.
Yang membuatnya semakin menyakitkan adalah kenyataan bahwa hal seperti ini terasa sangat mungkin terjadi di dunia nyata.
Karakter perempuan muda asal Myanmar menjadi salah satu pusat emosi film. Ia sendiri hidup tanpa rumah dan status yang aman di Thailand, tetapi justru menjadi satu-satunya manusia yang benar-benar mencoba menyelamatkan para anjing.
Hubungan Brownie dan perempuan itu terasa tragis karena keduanya sama-sama “makhluk asing” yang hanya ingin tempat untuk pulang.
Yasushi Kitajima tampil hangat sebagai pensiunan insinyur Jepang. Sementara Poe Mamhe That berhasil membawa emosi paling menyakitkan dalam film lewat karakternya yang rapuh tetapi penuh empati.
Tontawan Tantivejakul dan para pemeran lain juga tampil realistis seperti melihat kehidupan sehari-hari, bukan sekadar akting film drama.
Namun “aktor” terbaik film ini tetap para anjing yang memerankan Gohan, Brownie, dan Hima.
Film menggunakan tiga anjing berbeda untuk menggambarkan fase hidup karakter utama. Menariknya, Hima ternyata memang nama asli anjing yang digunakan pada bagian akhir cerita, membuat emosinya terasa semakin autentik.




































