Film Sore : Istri dari Masa Depan
Sebuah film yang bertumbuh kembang mengikuti penciptanya, salah satunya adalah Sore : Istri dari Masa Depan
Dimulai dengan web serriesnya (Sore : Istri dari Masa Depan) yang mengusung pesan sponsor untuk hidup sehat. Penontonnya saat itu merasakan bagaimana sebuah drama percintaan penuh misteri , menggiring mereka untuk memahami sisi hidup yang baru.
Semua memang dikemas dengan baik. Penonton terpukau, terpesona dan masuk dalam alam bawah sadar mereka bahwa ada hal baru yang ditawarkan dan mereka menerimanya.
Saat Yandy Laurens menyatakan bahwa ia membuat versi terbarunya dengan penjelasan ia telah membicarakan hal ini dengan istrinya. Maka saya yakin penonton akan dibawa kepada sebuah persoalan drama rumah tangga.
Alur Kisah yang Simpel Namun …
Dari sudut pandang penonton yang telah berumah tangga beberapa waktu lamanya, seketika akan merasakan apa yang dialami oleh semua pasangan tersebut.
Ini merupakan groundhog day, sebuah peristiwa yang dapat disikapi dari dua sisi. Sisi baik atau sisi buruk. Ini adalah sebuah peristiwa yang akan terjadi berulang kali, selama masih hidup berpasangan dan akan terus menerus berulang tanpa habis.
Dalam dunia keseharian, memang sebagai pasangan yang berumah tangga akan menghadapi hal yang sama. Ini sama sekali tak akan dapat dihindari.
Maka melalui alur kisah yang simpel ini, Yandy Laurens pun berusaha mengingatkan penontonnya, dalam kondisi apapun.
Bahwa saat dua orang saling bersepakat untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri, maka titik temu akan terjadi , saat sentuhan, pelukan yang terjadi , akhirnya mengingatkan definisi cinta itu sendiri.
Namun bagaimana ekseskusinya?
Review Film Sore
Babak pertama dan kedua film ini memang agak berjalan dengan tempo lambat. Ini mungkin akan membuat penonton yang menyukai gaya penceritaan tempo cepat, merasa lelah.
Bagaimana tidak masalahnya kan sama, kenapa kok berulang-ulang disitu saja?.
Sore terbangun menemui suaminya , beberapa waktu berjalan lalu Sorepun tiada. Itu terus menerus berulang.
Ini memang merupakan momen yang fragile , penonton yang menyukai alur tempo cepat sudah pasti bosan. Penonton tipe pengamat dan penyuka misteri akan merasa penasaran, ingin ada kelanjutan.
Untunglah babak berikutnya menjadi penolong film ini, karena tempo penceritaan menjadi berlangsung sangat cepat, serta penonton langsung diberikan fakta, data, alasan, sebab akibat dengan cepat sekali. Tanpa memberikan ruang berpikir bagi para penontonnya.
Penonton diminta untuk menerima dan dengan eksekusi dan akting para pemainnya (Sheila Dara dan Dion Wiyoko) hasil akhirnya memang mampu menghancurkan daya tahan emosional semua yang melihat.
Tangisan akan segera berderai dan rasa hangat pun akan megisi relung hati penontonnya.
Terlebih lagi setelah hampir 90% pemandangan yang dihadirkan juga mengambil nafas penontonnya, karena indah, berbeda dan sesuatu yang menyenangkan dengan pemandangan keseharian yang biasa dilihat.
Kritik Film
Jika bicara sebab akibat, maka terasa ada sebuah keanehan yang tak terjelaskan secara jelas. Mengenai bagaimana Sore dapat menjalani proses mengulangi waktu dan memilih bangun di tempat tidur di samping Jonathan?
Paling tidak, jika dibandingkan dengan film Eternal Sunshine of The Spotless Mind karya Charles Kaufman, ada alasan sebab akibatnya dijelaskan dalam film. Fenomena yang terjadi dijabarkan detil, sehingga penonton memahami.
Begitu pula jika dibandingkan dengan film Somewhere in Time karya sutradara Jeannot Szwarc, ada penjelasan “logis” dari saat aktor Christopher Reeve bertemu dengan aktris Jane Seymour , yang menjadi alasan masuk akal sebab akibat , akan alur cerita yang terjadi.
Pada Sore , proses sebab akibat ini dirasakan dimasukkan dalam babak terakhir yang sangat penuh perasaan emosional, namun tetap saja menimbulkan pertanyaan, yaitu “Loh kok bisa?”
Berdasarkan pondasi yang kurang kuat inilah, kembali pertanyaan muncul.
Bagaimana mungkin Sore dan Jonathan , saat bersentuhan tangan , langsung mendapatkan ingatan lama mereka , yang termuat dalam penceritaan dalam babak-babak sebelumnya?
Walaupun ini merupakan sebuah film penuh imajinasi dan hal yang baru bagi industri film Indonesia.
Nampaknya pertanyaan ini, akan terus mengisi ruang pertanyaan dan hukum sebab akibat dalam penulisan sebuah skenario sebagai kekurangan di sisi skenario, atau kurangnya adegan penjelasan masalah krusial ini dari sisi penyajian gambar.







































