To A Land Unknown
Merupakan sebuah film yang jarang ditemui di pemutaran film di bioskop maupun OTT. Temanya mungkin sudah umum, namun sisi penceritaannya , membuat yang menonton memiliki opini berbeda-beda.
Bagi penonton Indonesia, sudah dapat menyaksikannya di Klik Film.
Sebelumnya cek terlebih dahulu trailernya
Mengenai Film
To a Land Unknown adalah sebuah film drama tahun 2024, disutradarai dan ditulis bersama oleh Mahdi Fleifel.
Film ini dibintangi oleh Mahmood Bakri dan Aram Sabbah sebagai Chatila dan Reda.
Mereka berdua merupakan pengungsi Palestina yang tinggal di Athena.
Review To A Land Unknown
Pada babak pertama film, terlihat bagaimana mereka melakukan aksinya , yang dilakukan secara “terpaksa”.
Ini merupakan sesuatu hal yang mau tak mau harus dilakukan, dikarenakan mereka berusaha menghemat sedikit uang yang dapat mereka peroleh untuk membeli paspor palsu.
Tujuan mereka satu yaitu mereka dapat pindah ke Jerman.
Ini memerlukan banyak uang , untuk mereka berdua dan berkembang dengan kehadiran Malik.
Malik digambarkan sebagai sosok anak lelaki yang lugu, ia ingin pergi ke Italia. Namun malah datang ke Athena.
Proses pemindahan ini , melalui banyak hambatan. Pertama mereka tidak punya surat-surat resmi.
Untuk membuatnya mudah, namun perlu banyak uang.
Kedua, mereka tidak “berpendidikan cukup”, untuk dapat bekerja dan tinggal di tempat yang layak, bekerja yang layak.
Ini semua mengakibatkan mereka untuk hidup sehari-hari dan menabung, harus melakukan banyak tindakan kejahatan, termasuk menipu, mencuri dan lain-lain. Bahkan Reda harus melakukan tindakan asusila.
Semua ini secara perlahan namun pasti, merubah mental mereka , yang tadinya memiliki impian jelas dan indah di Jerman.
Babak demi babak dalam film ini akan semakin kelam, serta proses yang menggambarkan, bagaimana seseorang dapat berubah , karena kebiasaan, proses keterpaksaan urgensi dan kesempatan.
Kehadiran sosok perempuan bernama Tatiana , penduduk Athena. Seolah kemudian memberikan jalan keluar baru , bagi Chatila dan Reda.
Bahkan dalam perkembangannya Tatiana dan Malik, memberikan sumber ide yang bagus bagi mereka berdua.
Saat kemudian semua menjadi sebuah kenyataan pahit.
Chatila terseret ke dalam rencana penyelundupan berisiko tinggi setelah Reda menghabiskan seluruh uang mereka untuk heroin dan tenggelam di dalamnya.
Film ini disajikan secara gelap , dan diberikan sentuhan parodi . Namun pada akhirnya kembali dalam pikiran penonton , sebagai bahan perenungan.
Film ini juga ditayangkan perdana di bagian Director’s Fortnight di Festival Film Cannes 2024.
Penjabaran Perubahan Mental dan Pemikiran Manusia
Hal yang menarik dari film ini adalah saat bagaimana mengamati proses pemikiran manusia, bisa berubah dengan cepat mengikuti kondis dan lingkungan sosial.
Rasa keputusasaan dan pengakuan Chalitha kepada istrinya nun jauh disana, menggambarkan bahwa ia telah merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya.
Reda mengambil kebijakan lain, ia menenggelamkan dirinya menjadi orang yang lebih memilih hidup di dunia impian. Melanjutkan harapannya, saat pergi dan akhirnya sampai di Athena.
Sedangkan sosok penyerta dalam film ini, menggambarkan masyarakat sekitar yang berupaya mengambil keuntungan serta penolakan secara tersirat akan kehadiran para pengungsi.
Pemerintah pun mungkin telah lelah memberikan solusi untuk mereka.
Sehingga sosok-sosk seperti Chalitha dan Reda , menjadi representasi bahwa manusia itu sebenarnya semakin lama menjadi semakin tumpul pikirannya .
Merelakan dirinya dalam suatu suasana yang mereka dapat fahami , baik itu baik atau buruk.
Jika buruk, maka semua kebodohan pun makin berkumpul dan membutakan pikiran mereka sendiri.
Ini sebuah refleksi humor yang amat gelap dan saat penonton mentertawakan akhir kisah film, sebenarnya juga sedang mentertawakan diri sendiri.
Film ini dapat ditonton di Klik Film







































