Ibu bagiku adalah gula. Seperti tubuh yang membutuhkan gula untuk bertahan hidup, begitulah aku tidak bisa hidup tanpa ibu.”
— Dong Myeong

Film Sugar, karya sutradara Korea Selatan Sin-Choon, adalah potret menyayat hati tentang cinta seorang ibu yang berjuang melampaui batas sistem demi keselamatan anaknya.
Terinspirasi dari kisah nyata, film ini mengangkat perjuangan seorang ibu menghadapi kenyataan pahit ketika anaknya yang berusia 12 tahun didiagnosis diabetes tipe 1, sebuah kondisi yang mengubah hidup mereka secara permanen.
Sejak menit awal, Sugar sudah mengikat emosi penonton, pasalnya bukan dengan melodrama berlebihan, melainkan lewat kejujuran perasaan dan detail keseharian yang terasa sangat dekat dengan realitas.
Sinopsis
Mira (Choi Ji-woo), seorang ibu pekerja keras, mendapati putranya yang berusia 9 tahun, Dong-myeong, tiba-tiba pingsan karena diabetes tipe 1.
Menyadari Dong-myeong sekarang harus menjalani tes darah setiap hari selama 365 hari, hatinya hancur.
Mira dengan putus asa mencari alat pemantau gula darah tanpa rasa sakit di seluruh dunia dan akhirnya mengimpor alat ‘DexCom’, yang pertama kali ada di Korea.
Merasa empati terhadap pasien lain, ia mulai membantu ibu-ibu lain untuk membeli alat tersebut.
Namun, Mira menghadapi tuduhan impor ilegal. Ia memutuskan untuk berjuang demi mereka yang menderita.
Akankah Mira melanjutkan perjuangan ini, bukan hanya untuk putranya tetapi untuk kebaikan yang lebih besar?
View this post on Instagram
Akting Kuat dan Pendekatan Sinematografi yang Intim
Choi Ji-woo tampil sangat meyakinkan sebagai Kim Mira, seorang ibu yang perlahan dipaksa menjadi kuat dan harus menemani anaknya oleh keadaan.
Ia bukan sosok ibu yang sempurna, tetapi justru di situlah kekuatan karakternya, yakni rapuh, takut, lelah, namun tak pernah berhenti bergerak demi anaknya.
Chemistry Choi Ji-woo dengan Ko Dong-ha (Dong Myeong) terasa tulus dan natural. Hubungan ibu-anak dalam film ini tidak dibuat manis berlebihan, melainkan penuh ketegangan emosional, keheningan, dan tatapan-tatapan kecil yang berbicara lebih keras daripada dialog.
Dari sisi teknis, Sugar menggunakan sudut pandang karakter untuk menempatkan penonton langsung ke dalam kecemasan para tokohnya. Pilihan visual ini memperkuat rasa panik, ketidakpastian, dan kelelahan mental yang dialami keluarga pasien.
Salah satu kekuatan utama film Sugar adalah keberaniannya mengangkat konflik yang sangat relevan secara sosial: akses alat kesehatan yang terhambat birokrasi.
Dalam film ini, kebutuhan akan alat pengontrol gula darah seperti Dexcom menjadi isu sentral.
Demi keselamatan anak-anak penderita diabetes tipe 1, para orang tua terpaksa berpikir di luar jalur resmi, bahkan mempertimbangkan impor ilegal karena sistem yang berjalan terlalu lambat dibanding urgensi medis.
Di sinilah Sugar tidak sekadar menjadi film keluarga, tetapi juga kritik sosial yang halus namun tajam.
Film ini mengajak penonton merenung: ketika hukum bertabrakan dengan nyawa manusia, di manakah seharusnya negara berdiri?
Aspek lain yang menguatkan nilai humanis Sugar adalah penggambaran komunitas orang tua sebagai ruang saling bertahan.
Film ini menunjukkan bagaimana sesama orang tua pasien menjadi tempat untuk berbagi informasi, ketakutan, dan harapan.
Sin-Choon dengan cermat memperlihatkan detail proses pencarian alat medis, percakapan antarsesama orang tua, hingga kelelahan mental yang kerap luput dari perhatian publik. Semua itu terasa nyata dan relevan, terutama bagi keluarga yang pernah berhadapan langsung dengan sistem kesehatan.
Kesimpulan
Tayang perdana di bioskop Korea Selatan pada 21 Januari 2026, dan di Indonesia mulai 4 Februari 2026.
Sugar menjadi salah satu film Korea yang paling relevan secara emosional dan sosial di awal tahun ini.
Di bulan yang sering dirayakan sebagai bulan cinta, Sugar mengingatkan kita bahwa cinta paling sunyi sekaligus paling kuat adalah cinta seorang ibu.
“Saat semua jalan tertutup, ibu adalah orang pertama yang membuka jalan.”
Kritik
Saya sendiri (Nuty) merasa film ini alurnya agak lambat , serta mengambil sudut pandang perempuan. Namun mencoba untuk diseimbangkan dengan sudut pandang lelaki.
Sayangnya jatuhnya seolah jadi membahas alasan mengapa perempuan sangat emosional.
Alasan Mira mau melakukan juga ditampilkan dalam babak akhir, namun tetap buat saya kurang meyakinkan.
Namun karena ini berdasarkan kisah nyata , mendalami dan melakukan riset sebab akibat dan alasan sebenarnya, bisa saja dilakukan. Namun saya merasakan ini adalah adegan drama yang ditekankan secara mendalam, untuk kepentingan alur kisah filmnya belaka.

Director : CHOI Sin-choon
Producer : SHIN Chang-hwan, GONG Ji-young
Cast : CHOI Ji-woo, KO Dong-ha, MIN Jin-woong
Production : Studio Fearless
Runtime : 105 mins
Release : 04 February 2026
Language : KOR (Sub: English, Bahasa Indonesia)
Censor : SU
Genre : Drama
Penulis : Kiki Key dan Nuty







































