Film Anaconda (2025)
datang tanpa banyak ekspektasi, tapi justru berhasil memberi kejutan menyenangkan.
Mengusung genre “horor komedi”, film ini membawa kembali teror ular raksasa di hutan Amazon dengan cara yang jauh lebih santai, konyol, dan sadar diri dibanding film-film sebelumnya.
Alih-alih tampil serius, Anaconda versi terbaru memilih jalur yang sederhana, konyol.
Ini adalah film yang tahu betul bahwa ceritanya absurd, lalu menertawakannya bersama penonton. Hasilnya? Sebuah tontonan ringan yang cocok dinikmati tanpa beban.
Sejak awal, Anaconda (2025) sudah memberi sinyal bahwa film ini akan menampilkan teror ular besar, yang tentunya tetap jadi daya tarik utama, tapi kali ini dibalut dengan humor yang cukup dominan.
Hutan Amazon tetap terasa berbahaya, namun situasi genting sering kali berubah jadi momen kocak berkat dialog dan tingkah para karakternya. Kombinasi horor dan komedi ini membuat film terasa segar, terutama bagi penonton yang sudah bosan dengan horor yang terlalu serius.
Namun sebelumnya cek dahulu trailernya, agar dapat bayangan akan hal ini
Anaconda versi terbaru memilih jalur reboot ?
Ya benar sekali , dari trailer penonton seolah dibawa untuk memahami posisi para karakter utama ini , yaitu perjalanan empat sahabat lama menghadapi krisis paruh baya dengan cara tidak lazim.
Hutan Amazon tetap terasa berbahaya, namun situasi genting sering kali berubah jadi momen kocak berkat dialog dan tingkah para karakternya. Kombinasi horor dan komedi ini membuat film terasa segar, terutama bagi penonton yang sudah bosan dengan horor yang terlalu serius.
Bagi saya, alur cerita absurd ini , berpegang pada kekuatan chemistry Jack Black dan Paul Rudd. Keduanya tampil solid sebagai sahabat lama yang nekat melakukan remake film favorit mereka di tengah hutan, tanpa benar-benar siap menghadapi ancaman nyata.
Interaksi mereka terasa natural, penuh candaan, dan menjadi sumber tawa sepanjang film. Ditambah kehadiran pemain pendukung seperti Steve Zahn dan Selton Mello, Anaconda semakin hidup dan tidak terasa sepi.

Review singkat
Dari sisi cerita, Anaconda mengikuti jalur yang cukup familiar. Tidak banyak kejutan besar, namun alurnya ringan dan mudah diikuti. Meski ritme film sempat terasa goyah di bagian akhir, durasinya masih terasa pas untuk ukuran film hiburan.
Secara estetika, visual hutan Amazon dan efek CGI ular juga cukup mendukung suasana, meski tidak mencoba tampil spektakuler. Mise-en-scène tercapai, tapi saya merasa kurang sempurna sebagai film horor.
Namun film ini masih punya beberapa adegan menegangkan dan jump scare yang cukup efektif.
Ular raksasa tetap tampil mengintimidasi secara visual, meski sering dijadikan bahan lelucon.
Justru di sinilah kekuatan film ini: tidak terlalu menakutkan, tapi tetap seru dan menghibur. Seningga apakah masih cocok disebut film horor?
Secara keseluruhan, Anaconda (2025) adalah film yang jujur dengan tujuannya: menghibur penonton. Dengan humor konyol, chemistry pemain yang kuat, dan pendekatan meta yang santai, film ini cocok ditonton saat ingin bersantai tanpa ekspektasi tinggi.
Bukan film “horor terbaik” sepanjang masa, tapi jelas salah satu hiburan paling fun tahun 2025-2026 ini.
Anaconda (2025) diproduksi oleh Columbia Pictures dan Fully Formed Entertainment, serta didistribusikan oleh Sony Pictures Releasing. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Tom Gormican bersama Kevin Etten, dengan produser Bradley Fuller, Andrew Form, Tom Gormican, dan Kevin Etten. Dibintangi Paul Rudd, Jack Black, Steve Zahn, Thandiwe Newton, Daniela Melchior, Selton Mello, Ione Skye, hingga Ice Cube, film ini mengusung genre horor-komedi dengan pendekatan reboot.





































