Suka Duka Tawa adalah film debut Aco Tentriyagelli
Potret Jujur Keluarga Retak dan Luka yang Disembuhkan Lewat Tawa.
Hadir sebagai potret jujur tentang realitas kehidupan keluarga kelas menengah ke bawah yang rapuh oleh persoalan ekonomi. Tanpa melodrama berlebihan, film ini mengajak penonton menertawakan luka—sekaligus merenunginya.
Kisahnya berangkat dari sebuah keluarga yang perlahan hancur. Sang ayah, Hasan, memiliki mimpi sederhana namun besar: menjadi komedian televisi. Sayangnya, mimpi itu tak pernah benar-benar tercapai. Ketidakmampuan memenuhi peran sebagai tulang punggung keluarga membuat konflik dengan sang istri tak terelakkan. Di tengah tekanan hidup, justru sang ibu yang harus bekerja keras dan mempertanyakan tanggung jawab suaminya sebagai kepala keluarga.
Ketika kondisi ekonomi tak kunjung membaik, Hasan memilih pergi, meninggalkan istri dan putrinya yang masih berusia enam tahun. Keputusan itu menjadi titik patah sebuah keluarga—dan awal luka panjang bagi sang anak.
Film ini berfokus pada Tawa, seorang anak yang tumbuh dari keluarga broken home akibat perpisahan orang tuanya. Ayahnya, Hasan (Teuku Rifnu Wikana), meninggalkan rumah demi mengejar mimpi sebagai pelawak.
Tawa kecil (Myesha Lin), yang memiliki kedekatan emosional dengan ayahnya, mewarisi bakat melawak sang ayah. Saat dewasa, Tawa (Rachel Amanda) menyalurkan luka masa kecilnya melalui dunia stand up comedy, dengan gaya satire yang menjadikan kegagalan keluarganya sebagai materi lawakan.
Ambisi terbesar Tawa adalah memenangkan lomba stand up comedy di televisi. Namun meski telah berjuang keras, ia harus menerima kenyataan pahit: ia kalah. Saat diminta melawak tentang cinta, Tawa justru tak mampu menemukan kelucuannya—karena luka itu masih terlalu nyata.
Di balik layar, Tawa sebenarnya diam-diam didukung oleh ayahnya yang kini sukses sebagai pelawak dengan nama panggung Keset, bersama rekan-rekannya (Adin, Nasi, Fachri, dan Iyas). Namun, dukungan tersebut berseberangan dengan sikap sang ibu, Indah (Marissa Anita), yang menentang pilihan Tawa menjadi pelawak karena trauma masa lalu.
Ketika hubungan Tawa dan ayahnya kembali terjalin, Tawa mencoba menyatukan kembali orang tuanya.
Sayangnya, Hasan tak memiliki keberanian untuk meminta maaf. Akankah keluarga ini bisa kembali utuh, atau luka lama terlalu dalam untuk disembuhkan?
View this post on Instagram
Review Film: Tertawa dan Menangis dalam Satu Nafas
Film ini memiliki alur cerita yang kuat dan emosional, mampu membuat penonton tertawa sekaligus terdiam. Kelucuan hadir lewat materi lawakan dan interaksi antarkarakter, sementara kesedihan muncul dari realitas pahit tentang keluarga yang tidak pernah benar-benar siap menghadapi tekanan hidup.
Pertanyaan yang mengemuka sepanjang film ini sederhana namun menusuk:
apakah pasangan ini memang siap memiliki anak?
Sutradara Aco Tentriyagelli dengan jeli memotret realitas sosial yang sering terjadi di sekitar kita—tentang orang tua yang membawa mimpi pribadi ke dalam rumah tangga, dan anak yang harus menanggung konsekuensinya. Pendekatannya humanis: kesedihan tidak ditenggelamkan dalam tangisan panjang, tetapi diajak untuk direnungkan lewat tawa.
Akting Kuat dan Dinamika Persahabatan
Penampilan Rachel Amanda dan Teuku Rifnu Wikana menjadi kekuatan utama film ini. Keduanya tampil meyakinkan dan mampu memainkan emosi penonton dengan presisi—dari humor ringan hingga konflik batin yang dalam.
Film ini juga memperlihatkan hangatnya tema persahabatan dan solidaritas, baik di lingkungan kontrakan maupun dunia kerja. Karakter Anggun, Santos, dan Japon (diperankan oleh Nazyra, Abdel Achrian, dan Sas Widjanarko) digambarkan sebagai komunitas kecil yang saling menopang di tengah keterbatasan.
Didukung oleh deretan komika ternama—termasuk Pandji Pragiwaksono—film ini berhasil menyeimbangkan humor dan drama tanpa kehilangan arah emosionalnya.
Menertawakan Luka untuk Bertahan Hidup
Alur kisah yang dibangun ini adalah drama keluarga yang hangat, relevan, dan membumi. Kisahnya mengajarkan bahwa tawa bukan untuk menutupi kesedihan, melainkan cara paling manusiawi untuk bertahan.
Sebuah film yang akan membuat penonton tertawa, menangis, lalu pulang dengan perasaan yang lebih jujur terhadap diri sendiri.
Penulis Sutiono dan Nuty Laraswaty
Momen menarik ada disini





































