Mitos Bahu Laweyan
Berikut adalah trailer film yang mengangkat mitos Bahu Laweyan
Pemeran utama Raihaanun mengungkapkan tantangan saat memerankan Mirah yang penuh penderitaan dan stigma.
“Mirah adalah sosok perempuan yang berjuang melawan cap buruk dari masyarakat, sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kenyataan. Membawakan peran ini membuat saya belajar memahami bagaimana perempuan sering kali menjadi korban dari label yang tidak adil.”
Eksekutif produser, Winston Utomo, menyampaikan
“Perempuan Pembawa Sial menghadirkan horor yang berbeda karena berakar dari budaya Indonesia.
“Bahu Laweyan adalah mitos yang unik, jarang sekali terdengar, tetapi menyimpan filosofi yang dalam.
Kami ingin memperlihatkan bagaimana budaya ini bisa menjadi sarana untuk menghadirkan horor yang otentik sekaligus relevan bagi penonton masa kini.”
Dengan catatan sosial yang tajam, dibungkus dalam kengerian mitos kuno bahu laweyan, Perempuan Pembawa Sial menjanjikan pengalaman menonton yang berbeda:
sebuah perjalanan menembus batas ketakutan dan prasangka.

Apakah kutukan Bahu Laweyan hanya sekadar cerita rakyat?
Atau justru ia sedang menunggu untuk kembali menelan korban berikutnya?
Segera dalam film Perempuan Pembawa Sial, tayang di bioskop Indonesia mulai 18 September 2025.
Dari berbagai sumber , maka berikut lebih lanjut mengenai Mitos Bahu Laweyan
Mitos Bahu Laweyan
Merupakan kepercayaan masyarakat Jawa tentang perempuan yang memiliki tanda
Biasanya ada tompel sebesar koin di bahu kirinya, yang diyakini akan membawa nasib buruk bagi pasangan hidupnya.
Perempuan dengan ciri khas ini diyakini akan menyebabkan suaminya meninggal dunia atau mengalami kesialan dalam hidup.
Ciri-Ciri Bahu Laweyan:
– Tanda atau tompel sebesar koin di bahu kiri:
Ini adalah ciri utama yang paling umum disebutkan dalam mitos Bahu Laweyan.
– Lubang serupa lesung pipit di pipi atau punggung:
Beberapa versi mitos menyebutkan adanya tanda lain seperti lubang kecil di pipi atau punggung.
– Sifat tomboy dan penyendiri:
Perempuan Bahu Laweyan sering digambarkan memiliki sifat yang berbeda dari perempuan lain, seperti lebih suka menyendiri dan memiliki aura mistis.
Penangkal Bahu Laweyan:
– *Ritual ruwatan*: Upacara adat untuk membersihkan diri dari energi negatif atau kesialan, yang biasanya dipimpin oleh tokoh spiritual seperti dukun atau sesepuh desa.
– *Peningkatan spiritualitas*: Memperkuat perlindungan diri dengan meningkatkan spiritualitas, seperti berdoa, meditasi, dan menjalani hidup dengan seimbang.
Dari sudut pandang ilmiah, tompel atau tahi lalat di bahu kiri bukanlah pertanda mistis, melainkan hasil dari penumpukan melanosit atau sel penghasil pigmen di kulit.
Tanda ini bisa muncul sejak lahir atau berkembang seiring pertambahan usia .







































