Review The Carpenter’s Son
Namanya tak asing lagi, adalah Nicolas Cage dengan proyek barunya yang dinyatakan sebagai film yang bergenre horor-psikologis.
Sebaga ayah yang bertanggung jawab untuk melindungi keluarganya.
Menurut saya, film ini tidak tepat jika dikatakan sebagai horor.
Menurut sepengetahuan saya, horor biasanya menempatkan rasa takut sebagai inti cerita—baik lewat ancaman fisik, entitas supranatural, atau atmosfer mengerikan.
Namun alur kisah dalam film lebih berfokus pada :
-
Fokus pada keluarga nomaden yang mencari tempat tinggal dan pekerjaan (elemen drama).
-
Konflik utama justru hubungan ayah–anak, khususnya soal religiusitas, hukuman, dan keraguan tentang asal-usul.
-
Cerita mengikuti fase coming of age seorang remaja yang sedang mencari jati diri.
Ini semua adalah ciri khas drama keluarga + psikologi perkembangan, bukan horor.

Sinopsis film The Carpenter’s Son

Bagi saya, film ini Supernatural Hanya Elemen Pendukung, Bukan Motor Cerita Horor
Ada unsur kekuatan supernatural—tetapi:
-
Tidak ada konfrontasi yang nyata dengan entitas supranatural.
-
Tidak ada ancaman fisik yang jelas.
-
Supernatural digunakan sebagai simbol pergulatan batin, bukan pemicu ketakutan.
Ini mirip film seperti The Babadook, The Witch, atau Saint Maud, yang secara teknis dipasarkan sebagai horor, tetapi secara esensi lebih merupakan drama psikologis dengan metafora mistis.
Kemudian jika ditelaah, banyak banget yang membahas mengenai atmosfer cemas atau gelisah, dikait-kaitkan lagi sebagai elemen horor.
Pendapat saya, itu semua tidak otomatis menjadikan film itu horor—banyak film non-horor memakai tensi psikologis:
-
-
Prisoners
-
We Need to Talk About Kevin
-
Black Swan
-
First Reformed
-
Ini lebih dekat pada genre thriller psikologis.
Namun secara keseluruhan film ini mampu memberika sudut pandang berbeda.
Penulis Rezky
Editor Nuty





































