We Bury the Dead (2026) adalah salah satu tontonan zombie paling unik awal tahun ini.
Sebabnya , memilih jalur drama psikologis dan eksistensial daripada menggantungkan diri pada teror nonstop atau jump scare klasik.
Disutradarai oleh Zak Hilditch dan dibintangi Daisy Ridley sebagai Ava Newman.
Alur kisahnya menawarkan pengalaman yang lebih berhati-hati dan reflektif—sebuah perpaduan antara kisah cinta yang terputus, tragedi militer, dan pertanyaan besar tentang apa artinya menjadi manusia dalam dunia yang hancur.

Sinopsis singkat
Alur kisah dimulai dengan sebuah kecelakaan eksperimen militer yang tidak sengaja meledakkan senjata pemusnah, membuat kota Tasmania hancur dan sebagian besar penduduknya tewas atau berada dalam keadaan “tidak sepenuhnya hidup”.
Ava, yang kehilangan suaminya Mitch (Matt Whelan) , bergabung dengan tim evakuasi tubuh dalam harapan menemukan dia masih hidup.
Namun, seiring waktu berlalu, tubuh-tubuh yang telah dikubur mulai bangkit kembali—tidak hanya sebagai ancaman, tetapi sebagai peninggalan masa lalu yang tak bisa Ava tinggalkan begitu saja.
Trailernya
Berbeda dengan film zombi kebanyakan yang fokus pada ketakutan dan keganasan, We Bury the Dead menggunakan zombi sebagai metafora untuk trauma, penyesalan, dan kehilangan.
Zombi di sini bukan hanya makhluk tanpa akal—mereka adalah wajah dari manusia yang pernah hidup, dan itu membuat setiap perjumpaan menjadi momen yang anehnya sedih sekaligus menyeramkan
Ini bukan sekadar “berlari dari gerombolan mayat hidup”, tapi menyaksikan apa yang tersisa dari hubungan, kenangan, dan harapan.
Bagi Ava, ini adalah sebuah perjalanan, pencarian yang wajib ia lakukan. Itulah sebabnya jika bagi beberapa penonton alur kisahnya terasa dipaksakan, maka sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang Ava, dia hanya memerlukan penutup.
Inilah motivasinya yang sangat kuat , yang harus ia jalankan , apapun itu halangannya.
Tolok ukur ‘cinta” menjadi alasan utama karakter utama terus bertahan: kesetiaan, keyakinan, dan harapan untuk menemukan yang hilang.
Permasalahan hubungan mereka—termasuk konflik lama yang tersirat dan kenangan yang terus muncul lewat flashback—memberi bobot dramatis yang membuat penonton bisa ikut merasakan kepedihan, penyesalan, dan kebutuhan untuk berakhirnya kisah yang belum selesai.
Secara visual dan sinematik, terasa menonjol atmosfernya yang sunyi dan mencekam.
Kamera menangkap lanskap Tasmania yang kosong dan sunyi setelah bencana, memberi rasa terasing yang tak biasa dalam film zombi, terasa bayangan dunia yang kosong, sepi dan memori terpadu dengan rapih.
Deretan foto-foto, lauk pauk yang tak sempat dimakan dan mayat yang terbujur kaku , menekankan atmosfer ini dan ini berhasil di awal.
Namun terasa melelahkan hingga sampai satu babak yang menjadikan dasar plot twist kisahnya.
Langkah khas zombi hingga kesunyian sangat membantu membawa penonton merasa berada di dalam film, menjadi lebih peduli akan nasib para karakternya, terutama Ava.
Twist-nya agak menyebalkan bagi beberapa penonton . Alih-alih mengakhiri cerita dengan klimaks penuh aksi, film ini memilih cara yang lebih ambigu dan reflektif akan kehidupan itu sendiri.
Puncak emosinya datang dari momen manusiawi, bukan dari pertempuran spektakuler melawan mayat hidup
Pertanyaan moral dan eksistensial akhirnya pun timbul , apa artinya hidup ketika segalanya telah hilang?
Namun apakah seserius ini filmnya? Jawabannya tidak, banyak dark comedy ditampilkan yang membuat penonton mau tak mau tertawa.
Zombi bukan cuma makhluk kosong tanpa otak. Mereka adalah sisa-sisa manusia yang pernah hidup, punya cerita, dan pernah dicintai.
Justru di situlah rasa ngerinya muncul—setiap pertemuan terasa ganjil, sedih, dan bikin nggak nyaman.
Film ini nggak cuma soal lari dari kejaran mayat hidup, tapi tentang menatap langsung apa yang tersisa dari hubungan, kenangan, dan harapan yang belum sempat selesai.





































