Ada satu nasihat klasik yang hampir selalu diwariskan orang tua kepada anak perempuannya: berhati-hatilah dalam pergaulan. Nasihat ini terdengar klise, bahkan terkesan kuno.
Namun film Penerbangan Terakhir justru membuktikan bahwa peringatan itu masih sangat relevan, bukan untuk menyalahkan perempuan, melainkan untuk membongkar bagaimana pesona, kuasa, dan manipulasi bekerja secara sistematis.
Film garapan VMS Studio ini disutradarai Benni Setiawan dan menyasar penonton usia 17 tahun ke atas.
Cek dahulu trailernya
Sejak awal, Penerbangan Terakhir sudah menempatkan dirinya sebagai drama yang bersinggungan langsung dengan realitas sosial: relasi kuasa, citra profesi, dan bagaimana perempuan kerap berada di posisi paling rentan ketika berhadapan dengan figur laki-laki yang “sempurna” di permukaan.
Tokoh sentral cerita adalah Deva (Jerome Kurnia), seorang kapten pilot muda yang nyaris memenuhi seluruh definisi pria idaman masyarakat: tampan, mapan, berprestasi, dan karismatik.
Dunia penerbangan dipilih bukan tanpa alasan. Profesi pilot selama ini memang dilekatkan dengan citra maskulin, bergengsi, dan penuh daya tarik. Ada pameo lama yang bahkan masih hidup sampai sekarang: pilot banyak pacarnya.
Di sisi lain ada Tiara (Nadya Arina), pramugari baru yang masih lugu dalam urusan asmara. Pertemuan mereka terjadi di bandara, namun ternyata hubungan keduanya sudah terhubung sejak masa SMA. Relasi masa lalu ini membuat batas profesional dan personal menjadi kabur sejak awal. Sapaan yang terlalu akrab, nostalgia, dan rasa percaya yang tumbuh cepat menjadi pintu masuk bagi Deva untuk kembali hadir dalam hidup Tiara—kali ini dengan kuasa yang jauh lebih besar.
Film ini dengan cukup rapi memperlihatkan bagaimana sosok playboy modern bekerja. Tidak ada kekerasan langsung, tidak ada ancaman fisik. Yang ada justru perhatian berlebih, hadiah, pujian, dan gestur romantis yang terasa tulus. Deva tahu persis bagaimana membuat Tiara merasa istimewa. Bahkan ibu Tiara pun dibuat yakin bahwa putrinya berada di tangan yang tepat.
Namun di sinilah film mulai membuka lapisan gelapnya. Rayuan tidak lagi sekadar makan malam atau bunga, melainkan pengalaman eksklusif: berciuman di kokpit pesawat di ketinggian 30 ribu kaki. Sebuah simbol relasi kuasa yang sangat jelas,ruang privat milik Deva, di mana Tiara sepenuhnya menjadi tamu.
Ketika hubungan mereka berlanjut hingga apartemen, film tidak buru-buru menghakimi Tiara. Sebaliknya, penonton diajak melihat bagaimana janji pernikahan, perhatian palsu, dan manipulasi emosional perlahan menutup logika sehat.
Bahkan ketika Deva meminjam uang Rp100 juta dengan alasan ibunya sakit, Tiara tetap percaya. Kepercayaan itu ternyata dibayar mahal: uang tersebut digunakan Deva untuk mahar pernikahannya dengan Nadia (Aghniny Haque).
Masuknya karakter Nadia membuat konflik film ini semakin kompleks. Ia bukan antagonis satu dimensi. Sebagai mantan pramugari yang kini menjadi content creator, Nadia justru memanfaatkan media sosial sebagai senjata. Ketika mengetahui perselingkuhan suaminya, ia membalikkan narasi dan menjadikan dirinya korban di ruang publik.
Di titik ini, Penerbangan Terakhir tidak lagi bicara soal cinta segitiga semata, tetapi tentang bagaimana perempuan bisa saling berhadapan karena satu laki-laki yang sejak awal memegang kendali penuh.
Tiara yang terluka, Nadia yang marah, dan Deva yang terus bermain di wilayah abu-abu dengan alasan, drama, dan manipulasi.
Secara penceritaan, film ini memang tidak menawarkan twist besar atau pendekatan sinematik yang eksperimental.
Namun kekuatannya ada pada relevansi. Banyak penonton (terutama perempuan) akan merasa cerita ini terlalu dekat dengan realitas. Tentang pria red flag yang dulu disebut Casanova.
Tentang budaya patriarki yang sering kali membuat perempuan dipersalahkan, sementara kesalahan laki-laki masih bisa ditertawakan.
Akting para pemain cukup solid untuk menopang cerita. Nadya Arina berhasil menghadirkan Tiara sebagai sosok yang rapuh tanpa dibuat bodoh. Jerome Kurnia tampil meyakinkan sebagai pria manipulatif yang sulit dibenci di awal, sementara Aghniny Haque membawa kemarahan yang dingin dan terukur.
Pada akhirnya, Penerbangan Terakhir bukan film tentang skandal penerbangan semata.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pesona bisa menjadi senjata, bagaimana cinta bisa berubah menjadi jebakan, dan bagaimana perempuan sering kali harus menanggung dampak paling berat dari kebohongan yang tidak mereka ciptakan.
Film ini meninggalkan satu pertanyaan yang tidak nyaman, namun penting:
seberapa sering kita masih menilai seseorang dari seragam, status, dan citra, tanpa benar-benar melihat niat di baliknya?
Sutiono dan Nuty





































