Sinopsis dan Fakta Menarik Film Kafir: Gerbang Sukma
Kesuksesan film horor “Kafir: Bersekutu dengan Iblis” (2018) rupanya membuka jalan bagi kelanjutan kisah terornya. Rumah produksi Starvision kembali menghadirkan sekuel berjudul “Kafir: Gerbang Sukma”, yang mengangkat tema dendam, kutukan, dan pertarungan ilmu hitam lintas generasi.
Film ini kembali digarap oleh sutradara Azhar Kinoi Lubis, dengan naskah yang ditulis oleh Upi dan dibantu Dea April. Mengusung rating 17 tahun ke atas, Kafir: Gerbang Sukma menawarkan teror yang lebih gelap, emosional, dan penuh misteri dibanding film pertamanya.
Konflik Baru, Dendam yang Tak Pernah Padam
Jika pada film pertama konflik berpusat pada perseteruan Sri dan Laila yang berujung pada kematian Herman, maka di film kedua konflik berkembang ke generasi berikutnya.
Dalam Kafir: Gerbang Sukma, pertentangan terjadi antara Andi dan Rani, anak dan menantu Sri, bersama adiknya Dina, melawan Hanum, anak dari Herman dan Laila. Dendam lama yang belum selesai menjadi pemicu utama teror yang kembali menghantui keluarga ini.
Menariknya, film ini tetap mudah diikuti meskipun penonton belum menyaksikan film pertamanya. Alur cerita disusun dengan jelas, memperkenalkan konflik, latar belakang karakter, dan rahasia masa lalu keluarga secara bertahap.
Teror Lebih Sadis dan Emosional
Kafir: Gerbang Sukma menghadirkan cerita tentang kutukan, dendam turun-temurun, pertarungan ilmu hitam melawan ilmu putih, serta rahasia gelap yang selama ini tersembunyi.
Dibanding film pertama, sekuel ini menampilkan teror yang lebih berdarah-darah, nuansa misteri yang kental, serta emosi karakter yang lebih dalam. Elemen horor tidak hanya hadir lewat kejutan visual, tetapi juga dari tekanan psikologis yang dialami para tokohnya.
Kematian Herman (Teddy Syah), suami dari Sri (Putri Ayudya), disusul rangkaian peristiwa mengerikan yang menyebabkan tewasnya Laila, serta luka parah yang dialami Hanum dalam konflik sengit antara Sri dan Laila pada film Kafir sebelumnya.
Namun, Hanum (Indah Permatasari) ternyata tidak meninggal dunia. Ia berhasil diselamatkan, meski harus hidup dengan wajah yang rusak separuh. Luka fisik tersebut berubah menjadi luka batin, menumbuhkan dendam mendalam terhadap Sri.
Sementara itu, Sri berusaha menjalani hidup normal setelah masa lalunya yang kelam—pernah bersekutu dengan iblis. Ia hidup dalam ketakutan, menjauhi orang tuanya, dan memasang berbagai penangkal demi perlindungan. Penangkal tersebut ia peroleh dari Ki Rojo (Fuad Idris), seorang dukun berilmu putih.
Namun, dendam Hanum dan rahasia lama yang belum terungkap membuat teror kembali bangkit. Pertarungan antara kebaikan dan kejahatan pun tak terhindarkan, membuka gerbang sukma yang membawa petaka bagi semua yang terlibat.
Kafir: Gerbang Sukma menjadi sekuel horor Indonesia yang tak hanya mengandalkan teror visual, tetapi juga konflik emosional dan cerita dendam yang kuat. Film ini mengingatkan bahwa dendam dan persekutuan dengan iblis hanya akan melahirkan penderitaan lintas generasi.
Cocok bagi pencinta film horor Indonesia yang menyukai cerita mistis, kutukan keluarga, dan konflik psikologis yang mencekam.
Cek juga ini
Penulis : Sutiono dan Anya





































