Kehidupan sehari-hari yang dekat dengan realitas masyarakat sering kali menjadi cerita yang paling mengena di hati penonton.
Hal inilah yang berhasil ditangkap dengan jeli oleh Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment melalui film drama religi keluarga berjudul Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? (TBKM).
Ditulis oleh Utiuts, penulis naskah yang sebelumnya dikenal lewat Losmen Bu Broto, serta disutradarai oleh Jay Sukmo, film ini hadir sebagai karya yang menyampaikan nasihat kehidupan tanpa terasa menggurui.
Didukung jajaran pemain berkualitas, TBKM menjadi film yang menyentuh secara emosional dan relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia.
Ketika Ujian Datang Bertubi-tubi dalam Hidup
Dalam kehidupan manusia, hampir setiap orang pernah berada di titik terendah. Bahkan mereka yang telah hidup saleh, rajin beribadah, menjalankan ajaran agama, dan berbuat baik sekalipun, tidak luput dari cobaan hidup.
Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? mengangkat realitas tersebut dengan jujur. Duka dan masalah digambarkan datang silih berganti—satu persoalan belum selesai, masalah lain sudah menunggu.
Namun film ini menegaskan pesan spiritual yang kuat: Tuhan tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan mereka, dan selalu ada harapan setelah ujian.
Sinopsis Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?
Film ini berkisah tentang sebuah keluarga muslim yang taat beragama, hidup harmonis, dan berkecukupan.
Sang ayah, Satrio (Gunawan), adalah seorang direktur perusahaan yang mapan dan penuh kasih sayang. Istrinya, Sarah (Revalina S. Temat), dikenal sebagai perempuan salehah yang gemar berkarya seni. Mereka dikaruniai seorang putri remaja bernama Laila (Annisa Kaila).
Kehidupan mereka mulai berubah ketika di kantor Satrio hadir seorang resepsionis baru bernama Annisa (Megan Domani). Kemudian Satrio mengambil keputusan besar dan keliru: menolong Annisa dengan menikahinya, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap keluarga utamanya.
Konflik Rumah Tangga dan Kejatuhan Ekonomi
Keputusan Satrio memicu luka mendalam bagi Sarah. Saat dimintai izin, Sarah merasa hancur dan bahkan meminta diceraikan. Namun pernikahan kedua tetap terjadi, dan Annisa resmi menjadi istri Satrio.
Tak lama setelah itu, musibah datang bertubi-tubi. Satrio ditipu mitra bisnisnya hingga perusahaan bangkrut dan disita bank. Tekanan mental berat membuat Satrio terkena serangan stroke.
Untuk membiayai pengobatan dan kehidupan sehari-hari, Annisa menjual rumahnya dan pindah ke perumahan sederhana. Sementara itu, Sarah mulai merasa curiga karena tidak lagi menerima transfer bulanan seperti biasa.
Sarah akhirnya mencari Annisa dan mengetahui kondisi sebenarnya: perusahaan pailit dan Satrio sakit. Merasa terdesak oleh debt collector yang mengejar utang ibunya, Annisa nekat meminta izin tinggal di rumah Sarah, meski Satrio menentangnya.
Keputusan ini memicu konflik baru. Demi menjaga nama baik, Sarah melarang Annisa dan Satrio keluar rumah. Kehadiran mereka memicu protes dari Laila, membuat Sarah menjauh dari lingkungan pengajian dan perlahan kehilangan pegangan emosionalnya.
Sebagai remaja yang mengalami konflik keluarga, Laila mulai memberontak. Ia sering pergi clubbing dan pulang dalam keadaan mabuk. Annisa, dengan pendekatannya yang lembut, justru menjadi sosok yang mampu menyelamatkan dan mendekatkan diri dengan Laila.
Namun sebuah kesalahpahaman besar terjadi ketika Annisa tertangkap basah menyimpan botol alkohol milik Laila. Sarah yang marah besar langsung mengusir Annisa dan Satrio, tanpa mendengar penjelasan.
Laila yang merasa bersalah justru semakin tertekan, sementara Sarah memperketat pengawasan terhadap putrinya.
Cek trailernya
Film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? memberikan pesan kuat bagi berbagai lapisan penonton:
-
Untuk perempuan, film ini menekankan pentingnya kemandirian dan keberanian bangkit dari keterpurukan, tanpa menyerah pada nasib.
-
Untuk pria, film ini mengingatkan bahwa niat menolong perempuan tidak harus diwujudkan dengan menikahinya, apalagi jika melukai istri dan anak.
-
Untuk generasi muda, film ini mengajak pentingnya komunikasi terbuka dengan orang tua dan tidak melarikan diri pada alkohol atau gaya hidup bebas.
Tanpa eksploitasi air mata berlebihan, film ini memotret kesedihan dan ketegaran Sarah dengan jujur dan manusiawi.
Namun secara keseluruhan bermain aman dalam narasi dan penggambarannya
Kontributor : Sutiono





































