Judul Musuh dalam Selimut mau tak mau langsung mengingatkan pada peribahasa lama yang sering diajarkan sejak bangku sekolah: seseorang yang terlihat paling dekat, justru bisa menyimpan niat paling berbahaya. Premis inilah yang menjadi jantung film drama thriller terbaru ini—sebuah kisah tentang kepercayaan, relasi intim, dan teror yang tumbuh perlahan dari ruang yang seharusnya paling aman: rumah.
Film Musuh dalam Selimut mengikuti kisah Gadis, perempuan muda yang berusaha membangun kehidupan baru bersama pasangannya, Andika, di sebuah lingkungan perumahan yang tampak tenang, modern, dan nyaman. Hidup mereka terlihat normal, bahkan hangat, sampai kehadiran Suzy sosok yang awalnya dianggap dekat, ramah, dan bisa dipercaya,perlahan mengubah segalanya.
Dibintangi Yasmin Napper (Gadis), Megan Domani (Suzy), dan Arbani Yasiz (Andika), film ini ditulis oleh Cassandra Massardi dan disutradarai Hadrah Daeng Ratu.
Sejak awal, penonton diajak masuk ke dunia yang terasa familiar, sebelum sedikit demi sedikit perasaan familiar dan aman itu menghilang dan berubah wujud.
Alih-alih menghadirkan rasa takut dan kepanikan secara frontal, Musuh dalam Selimut memilih jalur yang lebih sunyi dan mengendap. Kejanggalan kecil, dialog yang terasa aneh, gestur yang sedikit meleset, hingga keputusan-keputusan personal yang sulit dijelaskan,perlahan menjadi sumber kecurigaan.
Gadis mulai merasakan tekanan psikologis yang tidak bisa ia definisikan. Batas antara aman dan terancam makin kabur. Teror dalam film ini tidak datang dari makhluk gaib atau kejutan mendadak, melainkan dari relasi intim dan ruang pribadi yang justru menjadi sumber ketakutan.
Di titik ini, film menunjukkan kekuatannya, yaitu rasa tidak nyaman dibangun secara konsisten, bukan lewat sensasi instan.
Tema Lama, Tapi Masih Relevan
Secara tema, Musuh dalam Selimut memang bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam sinema. Film-film Barat seperti The Hand That Rocks the Cradle (1992) karya Curtis Hanson dan The Surrogate (2016) garapan Doug Campbell telah lebih dulu mengeksplorasi masalah rumah tangga dan pribadi, manipulasi relasi, serta kehancuran psikologis perempuan dari dalam rumah.
Namun, yang membedakan film ini adalah pendekatan lokalnya. Untuk penonton Indonesia, tema semacam ini masih terasa segar karena ditanamkan langsung ke dalam keseharian yang akrab.
Elemen seperti “budaya Jumat Berkah”, kehidupan di kompleks perumahan dengan CCTV, hingga detail kecil seperti kucing yang bebas berkeliaran, bukan sekadar latar visual. Semua itu justru memperkuat rasa lokal dan karena terasa dekat, ancamannya jadi jauh lebih mengganggu.





































