Film Esok Tanpa Ibu hadir sebagai drama keluarga yang relevan dengan realitas masyarakat modern, terutama di tengah derasnya perkembangan teknologi dan gaya hidup serba digital.
Diproduksi oleh Beacon Films bersama Base Entertainment dan Refinery Media, serta disutradarai oleh Ho Wi Ding, film ini menawarkan sudut pandang emosional tentang relasi orang tua dan anak di era teknologi pintar.
Drama Keluarga yang Dekat dengan Realitas
Kekuatan utama Esok Tanpa Ibu terletak pada ceritanya yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Film ini menyoroti pola keluarga konvensional: ayah yang sibuk bekerja demi stabilitas ekonomi, ibu yang menjadi pusat emosional keluarga, dan anak yang tumbuh dalam kesepian komunikasi.
Ketika sosok ibu hilang, film ini dengan tajam menunjukkan betapa rapuhnya hubungan ayah dan anak yang selama ini nyaris tidak terbangun. Rumah pintar dengan teknologi canggih justru terasa dingin dan kosong tanpa kehangatan manusia.
Akting yang Matang dan Emosional
Dian Sastrowardoyo tampil meyakinkan sebagai Laras, sosok ibu penuh empati dan cinta lingkungan. Karakternya menjadi jangkar emosional film, bahkan setelah kepergiannya. Ringgo Agus Rahman juga menunjukkan emosi yang jarang ia mainkan sebelumnya,seorang ayah yang keras di luar, namun rapuh di dalam.
Ali Fikry sebagai Rama sukses menggambarkan kebingungan dan luka emosional generasi Z yang tumbuh bersama teknologi, tetapi kehilangan kedekatan nyata dengan orang tuanya. Chemistry antar pemain terasa natural dan tidak dibuat-buat.
Kritik Sosial terhadap Ketergantungan Teknologi
Lewat kehadiran aplikasi AI I-BU, film ini mengajukan pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar bisa menggantikan kehadiran manusia? Alih-alih menyembuhkan luka, teknologi justru memperdalam ketergantungan emosional Rama dan menjauhkannya dari proses berdamai dengan kehilangan.
Film ini tidak menolak teknologi sepenuhnya, tetapi mengingatkan bahwa teknologi tanpa kedekatan emosional hanya akan menjadi pelarian semu.
Visual Tenang, Emosi Menghantam
Pengambilan gambar rumah dekat hutan, suasana sunyi, dan ritme cerita yang perlahan mendukung nuansa kehilangan dan refleksi. Film ini tidak mengandalkan konflik besar atau drama berlebihan, melainkan membiarkan emosi tumbuh secara organik, sesuatu yang justru membuatnya terasa menyentuh.
Kesimpulan
Esok Tanpa Ibu adalah film drama keluarga Indonesia yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga relevan secara sosial. Film ini menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, kehangatan keluarga tetap tidak tergantikan.
Bagi penonton yang mencari tontonan penuh makna, reflektif, dan emosional, film ini layak masuk daftar wajib tonton di awal tahun 2026.
🎬 Esok Tanpa Ibu
📅 Tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026
Kontributor : Sutiono
Tengok video berikut ini
View this post on Instagram





































