Sebagai penggemar Ali & Ratu Ratu Queens (film 2021), aku nunggu banget serial ini.
Kenapa? Karena seringkali cerita perempuan diaspora Indonesia itu cuma latar belakang aja—lebih banyak dibicarakan daripada diperlihatkan perjuangannya. Serial Ratu Ratu Queens: The Series datang sebagai jawaban: “bagaimana kalau kita mulai dari awal?” — kisah persahabatan empat perempuan Indonesia yang merantau sekaligus berjuang di Queens, New York, sebelum mereka sempat bertemu Ali.
Inspirasi dari Kehidupan Nyata & Wawancara Produser
Dari beberapa wawancara, produser Muhammad Zaidy (Eddy) mengatakan bahwa ide serial ini sebenarnya sudah muncul sejak 2015, jauh sebelum film Ali & Ratu Ratu Queens dirilis. Serial ini diawali karena produser merasa bahwa karakter Biyah, Party, Ance, dan Chinta tidak hanya layak dikenal lewat satu film — tapi punya cerita sendiri yang panjang. (IDN Times)
Dalam konferensi pers, Zaidy menyebut bahwa para karakter itu memang terinspirasi dari kehidupan nyata diaspora perempuan Indonesia — bukan sekadar stereotipe TKI, tapi perempuan 30-40 tahun yang kelas kerja, imigran, punya kehidupan keras, persahabatan, perjuangan tiap hari.
Sutradara Lucky Kuswandi yang kembali dipercaya juga mengatakan bahwa serial ini akan memberikan warna yang berbeda: lebih cerah, lebih penuh harapan di beberapa bagian (karena syuting musim panas), tapi tetap ada sisi duka, kelelahan mental, tekanan menjadi “orang asing” di negeri orang.
Serial ini “bikin ketawa sambil nangis” — karena kenakalannya para Queens, kebiasaan logat, budaya, interaksi lokal yang kerasa “Indonesia banget”, tapi juga karena lapisan emosi yang muncul makin dalam episode demi episode
Contohnya karakter Biyah: lucu, random, suka ngejut, tapi review menyebut bahwa di balik kelakuannya ada kisah berat; kita penasaran background-nya.
“Biyah tuh karakter yang paling nyantol di hati, karena absurd tapi nyeri juga”
Ke chemistry para pemeran senior (Nirina Zubir, Happy Salma, Asri Welas, Tika Panggabean) sangat membantu—mereka bukan cuma “teman imajinatif” untuk Ali, tapi di serial ini mereka jadi pusat cerita, dengan konflik internal masing-masing dan persahabatan yang nggak klise.
Di Balik Glitternya Queens, Ada Sedikit Seretnya
Oke, jujur aja ya—walau Ratu Ratu Queens: The Series disambut meriah, bukan berarti semuanya sempurna. Beberapa penonton sempat bilang, bagian awal serial ini tuh… agak pelan.
Kita disuguhi vibes slice of life banget: mereka ngopi, curhat, kerja, ketawa… tapi konflik besarnya masih malu-malu nongol. Rasanya kayak nunggu drama meledak, tapi malah dikasih senyum dulu. ️
Ada juga yang ngerasa subplot-nya masih aman banget. Belum banyak momen yang bikin dada sesak atau mata berkaca-kaca—kayak tim kreatif masih hati-hati banget, takut ngecewain fans berat film pertamanya. Padahal, justru penonton sekarang haus banget sama cerita yang berani mengguncang emosi
Dan satu lagi: soal identitas. Budaya, logat, dan keseharian kerja serabutan mereka udah dapet banget, tapi masih ada penonton yang berharap bisa lebih dalam menyelam ke sisi mental diaspora: rasa kehilangan, kesepian, alienasi, jadi orang asing di negara orang. Bukan cuma soal kerja di luar negeri, tapi soal rasa hidup jauh dari rumah.
Kenapa Ini Tetap Penting Buat Perempuan Diaspora (dan Kita Semua)
Tapi meski ada seret-seret dikit, serial ini tetap terasa kayak pelukan buat perempuan diaspora Indonesia
Buat aku—dan banyak perempuan yang pernah merantau—serial ini tuh kayak lihat diri sendiri di cermin: perempuan yang harus kuat, harus jalan walau capek, harus ketawa walau hati remuk. Mereka nggak digambarkan sebagai “pahlawan sempurna” tapi manusia biasa yang kadang galau, kadang meledak, kadang cuma mau rebahan.
Dan ini penting banget karena:
-
Representasi: Jarang banget ada cerita yang kasih spotlight ke perempuan usia 30–40-an, tanpa harus jadi karakter pendukung dari kisah cowok muda.
-
✨ Keaslian: logat, budaya, cara mereka bertahan hidup di New York—semuanya kelihatan hasil riset beneran. Buat yang jauh dari tanah air, ini berasa kayak bilang, “Kita ngerti kamu.”
-
Persahabatan = keluarga baru: Serial ini nunjukin kalau keluarga bisa terbentuk dari sahabat yang saling menopang, walau nggak sedarah.
⚡ Lebih dari Sekadar Hiburan — Ini Tentang Bertahan
Akhirnya, Ratu Ratu Queens: The Series membuktikan bahwa cerita diaspora perempuan nggak harus selalu pahit. Ia bisa lucu, manis, hangat, sekaligus nyesek—dan itu semua valid.
Ini bukan sekadar spin-off dari filmnya, tapi kayak upgrade: kisah mereka jadi lebih panjang, lebih detil, dan lebih jujur. Kita dikasih ruang untuk benar-benar kenal siapa mereka… dan siapa kita saat jauh dari rumah.
Kalau kamu pernah merasa asing di negeri orang, atau sekadar pengen lihat bagaimana perempuan bisa bertahan sambil tetap tertawa—ini tontonan yang nggak boleh dilewatkan
Dan semoga, cerita ini bukan cuma jadi hiburan, tapi juga bahan obrolan—tentang identitas, perjuangan, dan cara kita membangun “rumah” di mana pun kita berdiri.
Penulis Vanya dan Nuty






































