Ketika Mimpi Kembali Berlayar
Ada kisah-kisah yang tidak pernah benar-benar usai. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali dipanggil—dengan bentuk baru, dengan napas yang berbeda. Perahu Kertas, karya legendaris Dee Lestari, adalah salah satunya.
Kini, kisah tentang Kugy dan Keenan kembali berlayar, bukan lewat halaman buku atau layar lebar, melainkan melalui denyut panggung musikal.
https://www.instagram.com/reel/DSkMBJ8j5IN/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network, berkolaborasi dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST), Musikal Perahu Kertas akan dipentaskan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada 30 Januari hingga 15 Februari 2026, dalam 21 pertunjukan yang menjanjikan perjalanan emosional tentang mimpi, cinta, dan keberanian menjadi diri sendiri.
Dua Jiwa, Satu Semesta
Kugy adalah jiwa yang bertahan dengan dongeng. Ia tahu dunia tak selalu ramah, maka cerita menjadi tempatnya bernaung. Keenan adalah seniman muda yang berbakat, tetapi terjebak di antara bakatnya sendiri dan ekspektasi ayah yang ingin membentuknya menjadi sesuatu yang lain.
Ketika keduanya bertemu, pertemuan itu terasa seperti jeda kecil yang diberikan semesta—ruang sunyi di antara miliaran manusia, tempat mimpi dan perasaan saling mengenali. Musikal Perahu Kertas tidak sekadar menceritakan kisah cinta, tetapi mengajak penonton menelusuri proses bertumbuh, kehilangan, dan keyakinan bahwa karya dan hati akan selalu menemukan jalannya pulang.
Menghidupkan Kembali Mimpi-Mimpi
Mengusung tema “Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi”, musikal ini menjadi debut Trinity Entertainment Network di panggung musikal panjang, sekaligus pernyataan komitmen Indonesia Kaya untuk terus merawat ekosistem seni pertunjukan Indonesia. Di sini, sastra, musik, dan teater berpadu menjadi satu tubuh pertunjukan yang bernapas.
Sebanyak 21 lagu mengalun sepanjang pementasan, memperkuat narasi dan emosi cerita, termasuk lagu yang telah dirilis sebelumnya, “Miliaran Manusia” dan “Agency”. Lagu-lagu ini bukan sekadar pengiring, melainkan jembatan batin antara karakter dan penonton.
Panggung yang Bergerak, Cerita yang Hidup
Secara artistik, Musikal Perahu Kertas menghadirkan panggung berputar dengan lapisan visual yang dinamis. Transisi antaradegan mengalir halus, didukung proyeksi visual, permainan tekstur dan warna, serta elemen puppetry yang memberi kedalaman simbolik pada cerita.
Adaptasi ini lahir dari proses panjang—latihan terstruktur, eksplorasi kreatif, dan kerja kolektif yang melibatkan 38 pemeran dan 20 tim kreatif. Setiap elemen panggung dirancang untuk menjaga penonton tetap terhubung, dari awal hingga akhir pertunjukan.
Sebuah Tonggak bagi Musikal Indonesia
Dengan target lebih dari 23.000 penonton, Musikal Perahu Kertas menandai fase penting dalam perkembangan teater musikal Indonesia.
Sebagai momen istimewa, Dee Lestari akan hadir secara langsung dalam pertunjukan tanggal 30 dan 31 Januari 2026, menjadi saksi hidup bagaimana ceritanya bertransformasi di atas panggung.
Lebih dari sekadar adaptasi, Musikal Perahu Kertas adalah perayaan: tentang mimpi yang pernah kita simpan, tentang pilihan hidup yang tak selalu mudah, dan tentang seni yang selalu menemukan cara untuk mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.
Karena pada akhirnya, seperti perahu kertas yang kita lepaskan di aliran air, mimpi akan terus berlayar, selama kita berani percaya.
Penulis : Anya





































