Movie Review Uncategorized

Beckett, campur sari genre yang akhir filmnya membuat “wow”

Summary

Beckett adalah sebuah film karya  Ferdinando Cito Filomarino yang tayang perdana di Festival Film Locarno ke 74, kemudian tayang untuk umum di platform online  Netflix . Film ini menggabungkan aneka macam adegan genre dalam satu alur cerita dan mampu membuatnya penontonnya penasaran,namun endingnya terasa wow tak kemana-mana.

Beckett

Beckett adalah sebuah film karya  Ferdinando Cito Filomarino  tayang perdana di Festival Film Locarno ke 74, kemudian tayang untuk umum di platform online  Netflix . Film ini menggabungkan aneka macam adegan genre dalam satu alur cerita dan mampu membuatnya penontonnya penasaran, namun endingnya terasa wow tak kemana-mana.

Sebelumnya dapat menonton trailernya terlebih dahulu

Dari trailer terlihat bahwa Beckett (John David Washington)   dan April (Alicia Vikander)   sedang berlibur di Yunani di area pegunungan, adapun di tempat lain terdapat huru hara dan demo. Selintas terlihat bahwa alur cerita ini akan merupakan alur cerita yang romantis dan bisa jadi banyak hal-hal yang akan menampilkan keiintiman di antara kedua pasangan ini.

Namun saat mobil mereka berdua terjatuh, kemudian Beckett mendapati bahwa April wafat, maka tempo cerita pun bergerak lambat kemudian menjadi cepat saat Beckett mulai dihujani peluru, saat ia kembali ke lokasi kejadian, tanpa mengetahui masalah yang telah ia timbulkan. Ia hanya mengatakan apa yang ia lihat saat sadar setelah mobil jatuh dari ketinggian jalan dan menabrak kabin, dan hampir seluruh fokus perhatiannya jatuh pada April. Sehingga saat ia dihujami peluru, ia masih kebingungan, namun nalurinya menyuruhnya bergerak untuk meloloskan diri dari para pengejarnya.

Beckett nuty laraswaty

Setelah itu adegan kejar mengejar, tembak menembak memenuhi 80 % tempo durasi film ini , yang mengingatkan akan film-film sejenis lainnya yang hanya mengandalkan situasi yang sama, dari genre thriller dan misteri.

Penonton tidak diberitahu masalah sebenarnya, hingga akhirnya dalam beberapa menit semua puncak ditumpahkan dalam satu adegan, membuat penonton serasa terbawa dalam kondisi Beckett saat pertama kali dihujani peluru, kebingungan namun secara naluri ingin pula mengetahui nasib yang akhirnya nanti akan diterima oleh Beckett. Ini membuat penonton enggan dan penasaran dan menonton hingga akhir, namun saat akhir film akhirnya tiba. Hanya kata “wow” yang mampu terucap, karena seolah-olah rasa penasaran yang terbangun akan nasib Beckett ini sia=sia belaka, karena hanya berakhir sesimpel itu.

Bisa dikatakan yang menarik perhatian pada film ini adalah karena film ini diputar perdana di Festival Film Locarno ke 74, dan akhirnya ceritanya memang kembali membuat penonton berulang kali akan berkomentar “wow’ dan “wow” lagi dikarena tidak sesuai dengan ekspektasi, sebagaimana alur cerita yang terbangun rapih dan berubah-ubah temponya.

Kategori review

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *