Analisa Singkat Film Jodoh 3 Bujang
Jodoh 3 Bujang adalah film drama-komedi Indonesia tahun 2025 , disutradarai oleh Arfan Sabran, yang juga menulis skrip bersama Erwin Wu dan Alwi Shihab.
Sepanjang film ini, tak banyak pertanyaan yang perlu kuajukan, dikarenakan alur penulisannya yang runtut dan rapih, menggambarkan budaya Makasar yaitu nikah kembar tiga dan praktik mahar / uang panai.
Melalui penjelasan dalam beberapa kali preskon dan juga interview yang dijawab secara lugas oleh Arfan Sabran, memang dijelaskan bahwa alur kisahnya terinspirasi dari kisah sehari-hari disana. Serta bagaimana susahnya penduduk menjalankan secara seratus persen adat istiadatnya.

Saat menikmati film ini, sayapun menemukan kembali tatanan alur kisahnya menyerupai alur kisah film dokumenternya , yang telah memenangkan piala FFI .
Tepatnya Film Dokumenter Panjang Terbaik 2022 , yaitu Suster Apung.
Kembali pada film Jodoh 3 Bujang.
Tampilan gambarnya tak perlu menjelaskan banyak sekali, namun sudah mencakup gundah gulananya seseorang yang harus mengikuti adat namun terhalang dengan permintaan Uang Panai yang tak masuk di akal.
Kemudian pergolakan emosi antar para kakak adik dan usaha keluarga, agar acara ini berhasil juga ditampilkan dengan rapih.
Melirik pada film lain
Sayapun membandingkan juga dengan beberapa kiprah sutradara Indonesia , yang mendalami film dokumenter sebagai mana misalnya saya ambil satu nama Yuda Kurniawan.
Yuda Kurniawan dikenal melalui film dokumenter: “Nyanyian Akar Rumput” (2018), “Roda-Roda Nada” (2022).

Melalui Nyanyian Akar Rumput, memang secara sinematik diperlihatkan dengan tegas, bagaimana kerasnya sifat putra Wiji Thukul – seorang sastrawan dan aktivis HAM yang “dihilangkan” pada tahun 1998.
Merasa bahwa keluarganya telah dicerai beraikan oleh Rezim Presiden Soeharto. Maka ia bersama band Merah Bercerita yang dibentuknya sejak tahun 2010 dan didukung oleh keluarganya, ia mencoba menghidupkan kembali puisi-puisi Ayahnya, membalutnya ke dalam alunan nada dan merekamnya dalam sebuah album.
Namun saya menemukan penceritaannya terlalu meloncat-loncat , mungkin apakah menggambarkan gejolak anak muda?
Namun melalui gaya penceritaan ini, saya memerlukan waktu sejenak untuk berupaya memahami maksud dan tujuan dari film ini.
Beberapa argumen dan perdebatan juga muncul terkait pengambilan gambar yang meloncat-loncat ini.

Kemudian saya pun mengingat kembali film Suster Apung, yang melalui pengaturan penggambaran sinematik, memudahkan penontonnya untuk mengikuti perjuangan Suster ini.
Tak ada perdebatan berarti, melalui narasi yang dihadirkan, serta setelah pemutaran film selesai.
Saya merasakan mendapat banyak informasi yang memperkaya khazanah pemikiran.
Kembali pada film Jodoh 3 Bujang
Review singkat
Saat menjelajah kembali ke dalam dunia genre drama, sayapun tetap merasa narasi penceritaan melalui film Jodoh 3 Bujang ini lebih mudah dicerna dan tidak menimbulkan debat berkepanjangan.
Ringkas, padat, emosional yang membuat kita peduli akan nasib karakter Fadly (Jourdy Pranata) itu sangat intens menguras perasaan penonton secara cedas.
Tampilan emosi sedihnya, dirajut dengan pengambilan gambar medium close-up, sehingga sayapun memahami beban beratnya sang karakter ini dalam menghadapi tekanan budaya (baca Ayah) dan juga keinginannya sendiri.
Namun saat karakter ini akhirnya berani bertindak dan saat kekasih lamanya pun melihat perjuangannya dan luluh akan hal ini.
Ibarat peribahasa jodoh tak lari kemana, jadilah pasangan yang sebenarnya saling menaruh hati sejak lama inipun di pelaminan.
Sebuah ending film yang manis tapi juga sarat pesan bawah perjuangan dan perubahan ke arah positif akan berikan hasil tak main-main
Sinopsis Film Jodoh 3 Bujang
Film ini menceritakan kisah tiga bersaudara, Fadly, Kifly, dan Ahmad, yang diminta oleh orang tua mereka untuk menikah bersamaan.
Permintaan ini muncul karena keterbatasan biaya untuk melaksanakan tiga pernikahan secara terpisah.
Namun, rencana pernikahan kembar ini menjadi kacau ketika calon istri Fadly, Nisa, dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain yang dianggap lebih mapan.
Fadly hanya memiliki waktu singkat untuk menemukan pengganti, jika tidak, pernikahan kembar tersebut akan batal.
Film ini mengikuti perjuangan Fadly dalam mencari jodoh, di tengah tekanan waktu dan tradisi keluarga.

Beberapa nama pemeran yang terlibat antara lain:
- Jourdy Pranata sebagai Fadly
- Aisha Nurra Datau sebagai Rifa
- Maizura sebagai Nisa
- Christoffer Nelwan sebagai Kifli
- Barbie Arzetta sebagai Karin
- Rey Bong sebagai Ahmad
- Elsa Japasal sebagai Asha
- Arswendy Bening Swara sebagai Mustafa
- Cut Mini sebagai Fatimah
- Nugie sebagai Malik
Sebagaimana termuat pula pada Montase





































