Setiap orang punya kenangan masa kecil yang melekat kuat. Bagi yang tumbuh di desa, mungkin ingat menggembalakan kerbau di sawah atau memandikannya di sungai. Sementara yang besar di kota, kenangan itu bisa berupa belajar mengaji di masjid, sekolah Minggu, atau pulang sekolah sambil jajan di warung dekat rumah.
Hal-hal sederhana inilah yang jadi inti emosi film animasi legendaris Jepang, 5 Centimeters Per Second, karya Makoto Shinkai. Bedanya, kenangan masa kecil Takaki dan Akari terbingkai di bawah pohon sakura,menunggu kelopak bunga yang jatuh perlahan ke tanah dengan kecepatan 5 sentimeter per detik.
Dirilis pertama kali pada tahun 2007, film ini kini sudah berusia hampir dua dekade. Selama ini, banyak penonton Indonesia mengenalnya lewat DVD atau layanan streaming.
Namun, mulai 16 Januari 2026, 5 Centimeters Per Second akhirnya tayang di bioskop Indonesia, memberi kesempatan baru untuk merasakan ulang emosinya di layar lebar.
Sinopsis 5 Centimeters Per Second
Film ini terdiri dari tiga bagian cerita yang saling terhubung:
“Cherry Blossom Story”, “Cosmonaut”, dan “5 Centimeters per Second”.
Episode 1: Cherry Blossom Story
Bagian pertama sekaligus yang paling kuat dan emosional. Cerita berfokus pada Takaki Tono dan Akari Shinohara, dua sahabat dekat sejak sekolah dasar. Hubungan mereka perlahan berubah menjadi rasa cinta yang polos dan tulus.
Namun, kehidupan memisahkan mereka. Akari tetap tinggal di Tokyo, sementara Takaki harus pindah ke kota lain mengikuti orang tuanya. Jarak memaksa mereka berkomunikasi lewat surat,sesuatu yang terasa sangat relevan di zamannya, meski hari ini mungkin terasa asing di era chat instan dan media sosial.
Setelah satu tahun berpisah, mereka berjanji bertemu kembali pada 4 Maret pukul 19.00 di sebuah stasiun kereta. Sayangnya, badai salju membuat perjalanan Takaki terhambat. Kereta terlambat, waktu terus berjalan, dan kegelisahan Takaki semakin menumpuk. Apakah mereka masih bisa bertemu?
Episode 2: Cosmonaut
Cerita beralih ke Kanae, teman sekolah Takaki yang ceria dan penuh semangat. Diam-diam, Kanae menyukai Takaki. Ia sering memperhatikan Takaki dari jauh—saat berlatih memanah, pulang sekolah bersama, hingga nongkrong di minimarket.
Kanae mencoba mendekat dengan cara sederhana, termasuk belajar berselancar meski ia tidak berbakat. Ia ingin menceritakan keberhasilannya dan mengungkapkan perasaannya. Namun Takaki selalu tampak melamun, pikirannya seperti berada di tempat lain,masih terikat pada masa lalu.
Kemunculan roket yang meluncur ke angkasa menjadi simbol jarak emosional yang tak bisa dijembatani. Sebuah pertanda bahwa perasaan Kanae mungkin tak pernah sampai.
Episode 3: 5 Centimeters per Second
Bagian terakhir adalah yang paling singkat, namun paling sunyi. Takaki kini dewasa dan mendengar kabar bahwa Akari akan menikah. Episode ini didominasi oleh suasana hampa dan lagu ikonik “One More Time, One More Chance”, yang menggambarkan penyesalan, kehilangan, dan cinta yang tak pernah benar-benar selesai.

Mengapa Film Ini Begitu Membekas?
Diproduksi oleh CoMix Wave Inc., dengan visual latar indah dari Takumi Tanji dan Akiko Majima, desain karakter oleh Takayo Nishimura, serta musik emosional dari Tenmon, film ini berhasil menyampaikan perasaan kehilangan lewat detail kecil dan keheningan.
Tak heran jika 5 Centimeters Per Second meraih penghargaan Best Animated Feature Film di Asia Pacific Screen Awards. Film ini bukan tentang cinta yang bahagia, melainkan tentang jarak, waktu, dan kenyataan bahwa tidak semua perasaan bisa sampai ke tujuan.
Kini, dengan penayangan di bioskop Indonesia, film ini kembali mengajak penonton bertanya:
berapa banyak kenangan masa kecil yang sebenarnya belum pernah benar-benar kita lepaskan?
Pemutaran 5 Centimeters Per Second di bioskop Indonesia juga menjadi bagian dari perayaan filmografi Makoto Shinkai, sutradara yang dikenal lewat gaya visual puitis dan cerita emosional. Film ini kerap disebut sebagai salah satu fondasi penting yang membentuk identitas sinematik Shinkai sebelum kesuksesan global karya-karyanya di kemudian hari.
Menariknya, kisah 5 Centimeters Per Second juga telah memasuki babak baru dengan diumumkannya versi live action, yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia dalam waktu mendatang. Hal ini membuat penayangan versi animasinya terasa semakin relevan dan bersejarah.
Bonus Klip Wawancara Spesial Makoto Shinkai
Salah satu daya tarik utama penayangan kali ini adalah bonus klip wawancara eksklusif bersama Makoto Shinkai yang dapat disaksikan oleh penonton di bioskop.
Dalam wawancara tersebut, Makoto Shinkai mengungkapkan refleksi pribadinya terhadap film ini.
“Menurut saya, ini adalah karya yang sangat tidak mungkin bisa saya buat dengan diri saya yang sekarang. Saya rasa film ini tersusun dari hal-hal yang telah hilang dari diri saya yang sekarang,” ujar Makoto Shinkai.
Ia menambahkan bahwa perubahan dalam dirinya sebagai manusia dan pembuat film membuat 5 Centimeters Per Second menjadi karya yang unik dan tak terulang.
View this post on Instagram
Sutiono dan Nuty Laraswaty





































