Review Sukma
Sukma: Eksperimen Horor Psikologis Baim Wong yang Berani
Dalam lanskap perfilman horor Indonesia yang terus berkembang, Sukma hadir sebagai sebuah karya yang mencuri perhatian bukan hanya karena nama besar Baim Wong di balik layar, tetapi juga karena keberaniannya menempuh jalur penceritaan yang tidak biasa. Film ini menawarkan pendekatan yang lebih kontemplatif, penuh teka-teki, dan kaya dengan simbolisme, ketimbang hanya mengandalkan jumpscare atau efek visual mencolok.
Sebagai sutradara sekaligus kreator, Baim Wong tampaknya menempatkan Sukma sebagai proyek personal yang menantang batas ekspektasi publik terhadap dirinya. Di tangan Baim, cerita yang tampaknya sederhana — tentang seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas realitas — berkembang menjadi labirin psikologis yang menyesatkan dan memikat secara bersamaan.
Jejak The Skeleton Key dan Atmosfer yang Menjerat
Bagi penonton yang terbiasa dengan film horor psikologis barat, Sukma mungkin akan memantik kenangan akan film The Skeleton Key (2005) yang dibintangi Kate Hudson. Seperti halnya The Skeleton Key, Sukma membangun horornya lewat suasana, bukan kejutannya. Ada kesamaan dalam cara keduanya memadukan misteri supranatural dengan latar budaya, mempermainkan persepsi realitas, dan menanamkan rasa curiga pada setiap sudut ruangan.
Pendekatan ini membuat Sukma terasa lebih “meresap” dibanding horor konvensional: ketegangan tidak datang dari hantu yang muncul tiba-tiba, melainkan dari pertanyaan konstan tentang apa yang nyata dan apa yang hanya ilusi. Setiap adegan seolah diselimuti kabut tipis kegelisahan, mengundang penonton untuk terus menebak-nebak.
Eksperimen Visual dan Bahasa Sinema
Dari segi teknis, Sukma memperlihatkan keberanian Baim Wong dalam bereksperimen. Teknik pengambilan gambar yang digunakan — seperti framing sempit yang menekan ruang gerak karakter, gerakan kamera statis yang membuat penonton merasa “terperangkap” bersama sang tokoh, serta permainan cahaya redup dan shadow-heavy — membentuk atmosfer yang intens sekaligus memikat secara visual.
Ini adalah pendekatan yang jarang diadopsi oleh film horor lokal arus utama, dan menjadi salah satu kekuatan utama Sukma. Setiap shot terasa dirancang bukan hanya untuk bercerita, tapi juga untuk mengguncang psikologis penonton. Dalam beberapa bagian, gaya ini bahkan mendekati estetika slow-burn horror yang lazim pada film horor festival.
Babak Akhir: Retak Namun Terjelaskan
Namun demikian, Sukma bukan tanpa cela. Babak penutupnya menimbulkan kesan loncat-loncat, seolah ada potongan narasi yang hilang atau transisi emosional yang tidak tuntas. Penonton yang jeli akan merasakan adanya kejanggalan, semacam ruang kosong di antara peristiwa yang seharusnya penting.
Menariknya, Baim Wong seolah menyadari hal ini dan mencoba menambalnya lewat epilog yang cukup menjelaskan . Epilog ini memang tidak sepenuhnya menghapus kesan disjointed tadi, tetapi cukup untuk memberi kepuasan bagi penonton yang menuntut penutup cerita yang “berarti”.
Meski tidak sempurna, Sukma adalah upaya segar yang menunjukkan bahwa horor Indonesia bisa terus berevolusi: tidak melulu tentang hantu yang menyeramkan, tetapi juga tentang ketakutan yang bersarang dalam pikiran manusia sendiri.
Untuk penonton yang menyukai horor dengan kedalaman psikologis dan atmosfer yang menghantui lama setelah layar gelap, Sukma patut masuk dalam daftar tontonan.








































